Catatan Ta’aruf#2: Pernikahan Impian

Mungkin kita pernah sama2 kecewa, dikecewakan bahkan mengecewakan org yg berharap lebih kepada kita.

Mungkin hati kita sama2 tak tersentuh oleh org yg kita harapkan mau menerima kita

Mungkin waktu kita telah dihabiskan dgn memikirkan org yg tak pernah sedikitpun memikirkan tentang kita

Mungkin jiwa ini sudah berat hati untuk mengingat org yg tidak peduli kepada kita

Mungkin kita sama2 terluka dan ingin sembuh karena bahagia bersama

Tapi sejatinya menikah bukan untuk meredakan semua nya… Tapi sejatinya menikah bukan untuk berbahagia saja, tapi menikah bukan untuk berdua saja, tapi menikah bukan untuk sekedar cinta2 saja, tapi menikah bukan hanya tentang aku dan kamu….

Sejatinya menikah adalah perintah ibadah,,,,,,yg jika kita yakin terhadap janji2 Nya maka semuanya akan menjdi indah, kita berdua marah maka akan ada yg meredakan, kita berdua kesal maka akan ada yg menenangkan, kita berdua lelah maka akan ada yg membangkitkan, kita berdua kecewa maka akan ada yg menyembuhkan…begitulah pernikahan yg didasarkan oleh cinta sejati kepada Rabb-Nya. Hati akan teguh meski beribu2 cobaan dan tantangan kita lewati. Bukan hanya karena kita saling meyakini dan mencintai, tp karena ada Allah yg selalu menyatukan dalam setiap keadaan. Begitulah pernikahan impian….

~Catatan Ta’aruf#2~

Catatan Ta’aruf#1: Menanti Perjumpaan

Hai apa kabar? Sudah memilih sandaran? Sudah memilih untuk singgah? Atau masih memilih diam menjauh dari keramaian?

Rasanya beberapa Minggu ini bgitu syahdu setelah perjumpaan dua org asing yg entah siapa keduanya, yg entah kemana arah pembicaraannya, yg entah apa tujuan hidupnya, yg entah serasi atau tidak, ingin saling singgah atau tidak

Tiba2 aku ingin segera berjumpa, sungguh minggu2 ini begitu syahdu menanti setiap perjumpaan. Setelah jariku Kelu menulis kisah ku yg soal cinta melulu, … Kini aku rindu, ya hanya sekedar ingin tahu siapa kita berdua? Apakah makna kita sama? Hobby kita sama?jalan pulang kita sama? Tujuan kita sama?

Mungkin kau ingin menanyakan tentang aku? dan mungkin aku ingin menanyakan tentang kamu, yang pastinya untuk mengenalmu tidak cukup hanya sehari, seminggu, sebulan, setahun dan selamanya…selama kita masih berjarak, kita tak akan saling mengenal satu sama lain, mungkin aku masih bs bersembunyi darimu dan kamu mungkin hilang dr hadapanku, kita masih asing tentang setiap kisah masing-masing, jadi karena itu aku merindukan perjumpaan….

~Catatan Ta’aruf#1~

EGOSENTRISM

“menulis adalah caraku untuk menata kembali kenangan, merapikan kembali serpihan dan mengumpulkan kembali lembaran2 yang sempat berserakan, memunculkan kembali harapan dan meluruskan yang sempat terpatahkan” #egosentris

“aku belum baik, tapi aku akan terus belajar untuk menjadi baik. Aku belum peka, tapi aku akan terus belajar untuk peka. Aku belum benar-benar jatuh cinta, tapi aku akan belajar untuk benar-benar mencintai. Aku…aku… akan terus belajar menjadi yang terbaik untuk dirimu, karena tak kau dapati diriku sempurna jika kau tak percaya sepenuh hati padaku” #egosentris

“sejatinya yang layu sedang menuju proses tumbuh, sejatinya yang sakit sedang menuju proses sembuh, sejatinya yang mati sedang menuju proses kehidupan yang sejati, sejatinya yang jatuh sedang menuju proses bangkit, sejatinya yang kalah sedang menuju proses untuk menang, hidup bukan soal kegagalan, tapi tentang pembelajaran dan perubahan menuju baik #egosentris

“yah…aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan…yang aku tahu jika aku jatuh hati lagi, aku harus menemui seseorang yang bisa membantuku dalam urusan hati, karena aku tak ingin aku dan kamu tersakiti lagi” #egosentris

“Sudah sering kita menceritakan soal cinta yang sepatutnya tak diungkapkan. Sudah sering kita memposting kegalauan dan kemesraan yang tak seberapa. Cinta melulu…aku bosan, mengapa kita tidak menceritakan hubungan yang sakral, antara manusia dan Pencipta” #egosentris

“Jangan menyimpulkan hidup ini terlalu cepat. Kau bukan peramal dan kau belum berada di akhir kehidupanmu” #egosentris

“Ada dua jenis cinta, yakni cinta yang perlu didefinisikan dan cinta yang tidak perlu didefinisikan. Hanya kau yang tahu kedua perbedaan itu” #egosentris

“Menangislah, mengadulah, berdoalah dengan penuh harap…karena itu bukan ciri-ciri orang lemah, jika kau serahkan hidupmu kepada Sang Khalik”#egosentris

“Bermimpilah dan letakkan mimpi-mimpimu dekat dengan angan, tulislah mimpimu dalam lembaran kertas dan kenanglah, seakan dirimu benar-benar hidup dan memiliki banyak tujuan, meski terkadang tidak semua keinginan diijabahkan, tetapi tetap bermimpilah agar engkau merasa lebih hidup” #egosentris

“aku tak ingin berjanji dengan penuh harap, dikala kepastian untuk bersama belum benar adanya, tetapi kamu malah lebih dulu terbuai oleh mulut buaya miliknya” #egosentris

“bertumbuhlah, menjadi pribadi yang dinanti banyak orang, menjadi manusia yang terus memberikan kebaikan. Bertumbuhlah menjadi buah yang ranum. menjadi bunga yang mekar di kala semi, karena kau tau betapa bermaknanya dirimu dan berartinya dirimu” #egosentris

“Jangan membuat dirimu kacau karena kesalahan kecil yang tak disengaja. Jangan membuat dirimu besar karena kebaikan kecil yang kau tanamkan” #egosentris

“Ketika kau memberi, jangan kau harapkan kata terimakasih darinya, bahkan memberikan senyuman sekalipun, jangan engkau harapkan balasan darinya, belajarlah untuk bersikap ikhlas” #egosentris

“ketika dunia tidak memihak kepadamu, ingat masih ada akhirat yang akan menerimamu” #egosentris

“Lihatlah hidup ini lebih dekat dari segala sisi, karena hidup ini tidak hanya tentang dirimu saja” #egosentris

“Jadilah tokoh utama dalam setiap episode kehidupan kita” #egosentris

“jaga ego, karena kita akan lebih banyak melihat teman-teman kita akan menjadi apa dan meraih apa nantinya” #egosentris

“Aku memang aneh yaa, disaat aku suka dengan seseorang, aku malah pergi, sibuk sendiri, seperti lagi marah, karena diantara aku dan kamu merasa belum siap untuk menyatu” #egosentris

“benar…laki-laki pergi hanya ingin menyelamatkan dirinya sendiri, lalu dia kembali dan mendekatimu lagi, seolah-olah dia lupa kesalahannya yang lalu, yaitu menyia-nyiakanmu” #egosentris

“Sudahlah, jangan menyesali terlalu dalam, setiap gerakan, ucapan bahkan ketidaksengajaan itu sudah takdir Tuhan. Kenapa kita harus berlama-lama dengan urusan takdir yang sudah-sudah? bukankah didepan masih ada waktu yang terus berjalan, dan bukankah didepan sana sudah ada momen yang sedang menanti?” #egosentris

“Jangan mencintainya terlalu dalam, karena bagaimanapun dia bukan milikmu semata, sejatinya jiwa ini adalah milik-Nya, hidup mati karena-Nya dan akan kembali kepada-Nya” #egosentris

“berceritalah, berterus-teranglah, mintalah saran dan masukan, kepada orang yang engkau anggap mau menerima baik dan buruk kisah hidupmu” #egosentris

“jujurlah pada diri sendiri, bahwa hidup bukan untuk basa-basi, bahwa hidup bukan untuk memendam diri, sebelum nantinya Tuhan mematikan perasaan sendiri” #egosentris

“Jika kau malu mengatakan jangan berikan isyarat, jika kau malu menatapnya jangan kau palingkan muka, jika kau malu karena telah mengekspresikannya, janganlah engkau menghilang, karena jika memang dia tidak ada rasa sama sekali denganmu, dia takkan menghindar” #egosentris

“Jelajahi hidup ini seluas benua, arungi hidup ini seluas samudera, lewati keterbatasanmu, lecutkan semangatmu, lihatlah disekelilingmu… bahwa banyak sekali yang harus kau pelajari dan kau mengerti, ini duniamu” #egosentris

“Menerka-nerka bukanlah keahlianku, karena menentukan hasilnya bukanlah pekerjaan manusia tapi pekerjaan Tuhan, tugas manusia adalah berusaha dan berdoa dengan penuh harap” #egosentris

“jujur saja, aku lebih tidak pantas dipuji, karena hanya awalnya saja yg indah, akhirnya menyakitkan. Aku lebih baik dihina, awalnya memang menyakitkan, tetapi akhirnya.. aku akan buktikan” #egosentris

“hidup ini berpasangan, maka jangan lama-lama untuk menjalaninya sendirian. Untuk apa berpasangan? jika sendiri saja masih bisa bertahan…yah bukan soal keadaanmu sekarang, tetapi Allah memang menciptakann kita  berpasangan, kitanya saja yang banyak alasan” #egosentris

“semakin kita dewasa, hidup semakin rumit saja, bukannya paham malah kebingungan, bukannya mendapatkan malah kehilangan, bukannya dicintai malah dibenci, bukannya didekati malah dijauhi, rumit…aku sendiri memaknai kehidupan ini jauh semakin dalam, bahwa hidup bukan soal lagi penerimaan dari orang lain, tapi soal penerimaan dari diri kita sendiri” #egosentris

“orang yang mengkritikmu didepan teman-temanmu adalah orang yang mengingankanmu untuk berubah, sudahlah jangan kau balas dengan hal yang sama, cukup buktikan jika yang dia katakan adalah salah, kamu lebih hebat dari itu, percayalah!” #egosentris

“berdampinglah dengan orang yang mau menerimamu apa adanya, yang disaat bersamanya kamu bisa menjadi dirimu sendiri tanpa menutupi kekurangan dan kelebihanmu” #egosentris

“aku masih pada pendirian ku, memantapkan hati dan mendekati-Mu” #egosentris

“perasaan ingin dimiliki oleh makhluk itu pasti ada, tetapi janganlah kita lupa, bahwa sesungguhnya kita sendiri telah dimiliki oleh-Nya” #egosentris

“biarkan teman-teman yang ada disekelilingmu meredakan setiap sedihmu, biarkan waktu yang mengelilingimu menyembuhkan setiap lukamu, hidup adalah ada kalanya kita sakit dan ada kalanya kita sembuh” #egosentris

“Matahari yang menerangi disaat gelap masih saja ada yang membenci, sedangkan gemerlap bintang yang diam di langit malam masih saja ada yang memuji, kamulah matahari itu” #egosentris

“jangan kau benci dirimu melebihi orang yang membencimu, janganlah kau menyakiti dirimu melebih orang yang menyakitimu, jangan kau merasa terpuruk karena egomu, bukalah pikiran dan hatimu, tulislah mimpi dan tujuanmu, ciptakan perjalanan dan sejarah baru, jangan berhenti hingga datang esok pagi, jangan kau tangisi hingga sakit ini tak tertahan lagi, jangan kau sesali hingga salah tak kau benahi, jangan kau menjadi terasing, pergi dan tebarkan wangi dirimu” #egosentris

“Dunia memang tak selamanya akan menerimamu, tapi ada akhirat yang akan menentukan dimana keberadaanmu” #egosentris

“Bukan tentang siapa yang lebih dulu datang dan lama mengenalmu, bukan tentang siapa yang banyak berjanji setia untuk membahagiakanmu, tapi tentang siapa yang datang dengan permisi dan tidak pergi begitu saja tanpa pamit” #egosentris

“ada yang harus diperjuangkan yaitu hati, ada yang harus dipertahankan yaitu doa, ada yang harus diyakinkan yaitu diri sendiri” #egosentris

“jangan kau lihat kebahagian orang lain dari pekerjaannya, harta yang dimilikiya, pasangan idamannya, rumah yang ditempatinya, kendaraan yang dikendarainya, liburan yang ia jalani, tapi lihatlah hati yang dialaminya, kebahagaan dimiliki oleh mereka yang memiliki jiwa yang tentram dan dekat dengan-Nya” #egosentris

“tugas pria bagaikan seorang pembalap, berkompetisi mengejar hati wanita idamannya sebelum melewati garis finish, sesekali menikung pria lain yang mendekatinya…. sah-sah saja kan?” #egosentris

“yang membuatmu kaya bukanlah harta, tapi hati dan pemikiranmu, cukuplah” #egosentris

“aku pergi bukan untuk kau kejar, aku hilang bukan untuk kau cari, aku hanya tidak ingin menjadi pusat perhatianmu dan aku tak ingin kamu menjadi pusat perhatianku. Aku sadar yang aku lakukan adalah salah dimatamu, tapi aku berdiri dengan pemahamanku. Jika, memang dua insan ditakdirkan untuk bersama, bagaimanapun Allah akan kembali mempertemukan, meskipun harus berjuang lagi merebut hatimu yang sempat layu” #egosentris

“coba telusuri hatimu lebih dalam, kamu peduli karena rasa kasihan atau benar karena rasa cinta?” #egosentris

Menepi

Menyemangati diri sendiri bukan hal yg mudah
Sendiri bukan berarti terasing
Sendiri bukan berarti terhalang
Sendiri bukan berarti terpuruk
Sendiri bukan berarti mati sebelum berjuang
Sendiri bukan berarti tak pantas
Sendiri bukan berarti terdiam
Sendiri bukan berarti menepi

Langkah ini akan menuntun kepada satu keindahan, yang menjadi misteri dalam genggaman cinta

Mungkin dunia tak akan menerima banyak kebaikan dari kita
Tetapi ada akhirat yang menunggu kita

Sudahkah kita pantas menjadi yang dinanti oleh-Nya
Jika Allah berkehendak jadikan aku bunga yang indah dan dinanti disetiap musimnya,
hingga aku gugur menjadi sang yg dirindukan

Can we be Friends?

Lagu ini menjadi lagu favorit ku sejak tahun 2018 lalu, aku ingin membicarakan diluar musiknya yang memang enak didengar, melainkan karena ada makna dari liriknya yang mengena dan aku sangkut pautkan dalam kehidupanku “Can we still be friends?”

Jika memang ada rasa yang tak terbalaskan, jika memang ada cinta yang belum sempurna, jika memang ada orang lain dihatinya, tetapkah kita bisa menjadi teman? teman seperti sedia dulu kala, disaat seperti awal berjumpa, kau tersenyum dan suka menggoda.

Jika memang belum waktunya, jika memang kau pantas dengannya, jika memang aku lebih baik dengan orang lain, apakah kita masih bisa menjadi teman? teman tanpa rasa canggung, teman yang selalu mengingatkan, teman yang selalu menanyakan, teman yang selalu kau dekati, teman yang kadang kau marahi, bukankah kita sah-sah saja menjadi teman?

Hei…apa kabar dia dihatimu? katanya kamu menginginkan pernikahan, tapi mengapa kamu memilih bertahan dengan orang yang belum pasti untukmu? semoga saja jalanmu benar, kesetiaanmu sangat diperhitungkan dan diuji oleh diriku, yang mencoba mencari celah-celah hatimu. Tapi…sayang… laki2 mana yang tidak hidung belang, semoga saja lelakimu adalah yang terbaik, karena masih sama, laki2 lebih banyak bermain dengan nafsu dan logika, sedangkan kamu….perasaanmu sungguh luar biasa, sampai aku agak kecewa, karena aku memilih diam dan menjauhimu karena aku takut kita terperangkap dengan janji-janji, dan berakhir dengan luka, tetapi….kamu lebih memilih bertahan dan berdoa bersamanya, aku kira kamu benar-benar sendiri.

Aku menghilang dan menghindar bukan karena egoku… tapi, aku menahan egoku agar aku tak menjadi pusat perhatianmu, agar aku tak menjadi apa yang kau andalkan. Bodoh ya..masih saja aku mengharapkanmu, jika saja kamu benar-benar tersakiti oleh lelakimu, kira2 aku  menyediakan bahuku untukmu tidak ya? atau lebih baik aku pura-pura tidak tahu saja, atau malah tidak menerimamu sama sekali, tapi aku selalu berdoa agar kelak kau benar-benar menjadi. Karena, aku ingin melihat temanku bahagia bersama orang yang dicintainya, sedangkan aku, sampai saat ini sedang bergelut dengan diriku sendiri, sedang sibuk saja memperbaiki diri, sedang menikmati penghasilan sendiri, sedang…sedang…. saja, alias “b” aja

jadi “Can we be friends?”

untukmu yang pernah aku dekati, motif hati terselubung yang sebenarnya bisa aku ungkapkan kapan-kapan hari, ternyata aku lebih memilih untuk mengatakannya lebih dini, bermodalkan masa lalu karena kebodohanku pergi karena tak ingin menyakiti dan tersakiti. Jika memang kau menolakku, dan memilih berhenti untuk mengenalku, tidak apa2, tetapi bisakah kita menjadi teman? tak usah bermusuhan, mem-blog media sosialku, menghapus history chatku, atau meng-ghibahkan aku, aku hanya manusia biasa yang penuh rasa bersalah dan lupa, kalau aku masih punya prinsip untuk tidak menyakiti seorang wanita, karena kelalaian pria, maaf jika terus terang ku malah menyakitimu dan membuatmu menjauh, karena aku pernah merasakan diposisimu…., tetapi aku salah, seharusnya aku tidak mengatakan niatku kepadamu, seharusnya aku berhati-hati, mencari tahu, kepo lebih dulu, tetapi kau membuatku terbawa perasaan, sedangkan kau tidak menjaga perasaan. Tapi, tenang, tetap aku yang salah karena aku terbawa perasaan. Aku sedang belajar untuk memperbaiki itu.

Jadi kesimpulannya kita bisa sama-sama berteman kan?

Senyum yang akan kau bawa

Senyum yang akan kau bawa
.
Susah ya membiasakan diri untuk tersenyum, bukan tabiat buruk tapi itu memang kepribadianku…, apa karena bagiku senyum itu berat? membuat wajahku terlihat lucu dan bulat?. Padahal senyum bagaikan magnet. Dengan menampakkan senyum dan raut muka yang bahagia maka org lain akan terbawa suasana, tapi aku…adalah tipe org yg memang jarang tersenyum dan juga bukan tipe org yg lincah, mencari perhatian sana kemari, tapi aku bisa saja tersenyum dan tertawa karena hal2 yg menurut org lain tidak penting dan tidak lucu.
.
dahulu….Teman2ku mengatakan setiap kali aku tampil di depan panggung membawakan lagu, aku selalu stay cool, sok keren, terlihat tenang atau mungkin tegang, tanpa ekspresi, apapun itu genrenya. Tetapi aku merasa tidak demikian, mungkin karena aku memang tidak pandai menyampaikan ekspresi, entah kapan harus bersedih, entah kapan harus bahagia. Yaaa biarlah begitu saja…apa adanya…. bagaimanapun aku masih tetap ingin melihat org lain tersenyum, karena senyum adalah ibadah kenapa kta tdk berubah? untuk selalu tersenyum, apapun keadaannya. mangga…monggo..mari mas 🙂

Siapa tahu senyummu itu menjadi alasan bahwa kamu layak dicap sebagai calon penghuni surga kelak. Amin

Jeda, Singgah dan Syukur

Melanjutkan tulisanku sebelumnya, masih berkaitan dengan “a quarter life crisis”. Yah seperti biasa blogku lebih banyak menjelaskan tentang pribadi dan pengalaman diriku, agar aku bisa merangkum banyak tentang diriku dan perjalanan hidupku, tapi aku berharap semoga kalian dapat mengambil banyak pelajaran dan hikmah dari tulisanku ini, atau mungkin sedikit inspirasi 🙂

yah….di masa-masa ini “a quarter life crisis” kita banyak mengalami keinginan-keinginan yang memuncak seperti keinginan melanjutkan pekerjaan, kuliah, bisnis bahkan keinginan segera menikah, seperti kita ingin sekali segalanya serba instan dan semua keinginan tercapai dalam sekejap mungkin, bahkan menulis blog ini saja ingin cepat-cepat selesai, padahal semuanya butuh proses untuk meraih semua itu. Yah, harus aku akui saja bahwa kita akan mulai menentukan mimpi2 selanjutnya, step by step pastinya dan core to the core haha apaan sih.

Sayangnya, kita sebagai manusia tidak akan tahu letak rezeki kita dimana, yang terbaik bagi diri kita apa, siapa, kapan dan bagaimana, kita hanya mampu berusaha dan berdoa agar pilihan yang terbaik dan pastinya yang kita harapkan juga benar-benar jatuh pada diri kita. Beberapa orang mungkin mudah mendapatkan pekerjaan, tetapi sulit untuk melanjutkan studi dan menjalin hubungan. Mereka yang baru saja freshgraduate tanpa memasukkan CV pun tiba-tiba mendapatkan panggilan pekerjaan, bisa diterima bekerja dimana saja atau cukup sekali memasukkan CV bisa langsung diterima bekerja sebagai pegawai tetap, tetapi untuk urusan pendidikan dia gagal, kampus yang dia daftarkan menolaknya, mungkin saja dia diterima ….. tetapi bukan kampus favoritnya atau mungkin juga bukan jurusan yang diminatinya, atau hal lainnya dia sulit mendapatkan jodoh, wanita yang ia sukai banyak menolaknya ataupun gagal untuk mencapai pernikahan, teman-temannya meninggalkannya dan sering mengejaknya. Bahkan sebaliknya ada yang mudah diterima di berbagai kampus favorit, pernikahannya dimudahkan, banyak yang menginginkan dia menjadi pasangan hidupnya dan banyak yang ingin berteman dengannya, tetapi soal pekerjaan dia selalu gagal, butuh effort lebih untuk mendapatkan pekerjaan yang diidamkannya. Siklus hidup seperti itu mungkin pernah kita alami, yah… entah apa yang mudah kita capai dan mana yang sulit kita gapai, atau bisa jadi bagi kita semua mudah tercapai, maka itu adalah nikmat Allah yang sungguh luar biasa. Tapi, bukan berarti semua ini adalah takdir dari Allah semata, semua ini juga butuh evaluasi dan perbaikan diri “muhasabah”, mungkin kita kurang dalam skill untuk bekerja, tapi kita punya skill dalam bersosial, atau sebaliknya. Yah begitulah perjalanan hidup, ketika Allah memberikan kesulitan terhadap sesuatu hal, disisi lain Allah juga memberikan kemudahan akan hal lain, tetapi terkadang kita tidak menyadari itu dan bisa jadi karena kita kurang bersyukur atas apa yang Allah berikan kepada kita berupa nikmat yang tak tergantikan.

Lalu sudah sampai mana rasa syukur kita?

Ketika kita merasa kegagalan hadir dan kesulitan sedang menimpa diri kita, maka cegah semua itu dengan mengingat-ingat kembali, apa keberhasilan atau kemudahan yang telah Allah berikan dari lain sisi?….maka sungguh nikmat Allah sangatlah luar biasa, Allah masih memberikan kita banyak nikmat dari segala sisi, entah itu nikmat sehat, nikmat kaya, nikmat ketenangan hati dan ketentraman hidup, nikmat jodoh, nikmat pekerjaan dan masih banyak lagi. Kita hanya saja yang merasa selalu kurang dan kurang, merasa selalu gagal dan gagal, padahal buah dari usaha dan doa itu akan selalu berbanding lurus, hanya saja memang ada 3 cara Allah akan mengabulkan doa kita

1. Dikabulkan secara langsung setelah melalui ikhtiar dan doa

2. Ditunda sampai batas waktu yang Allah kehendaki baik ketika masih didunia maupun diakhirat

3. Allah menggantikan doa tersebut dengan sesuatu hal yang lebih baik

keren yaaa…hidup seorang muslim pasti dijamin terkabulkannya doa oleh Allah, maka kita sebagai manusia tidak perlu khawatir, ber-positif thinkinglah kepada Sang Pencipta, karena Dia lah yang bisa menjadikan segalanya di dunia ini menjadi apa yang Dia mau atas kehendaknya, bahkan Dia bisa mengubah apa yang tidak mungkin menjadi mungkin, Dia mampu mengubah hitam menjadi putih, api menjadi air, angin menjadi hujan, batu menjadi pasir bahkan benci menjadi cinta, bukankah Allah bersabda “Aku seperti prasangka hamba-hambaku” maka berprasangka baiklah dan optimislah dalam menjalani hidup ini, kepada siapapun tak terkecuali kepada Sang Pencipta Alam Jagad Raya ini.

“innama’al usri yusroo fa innama’al usri yusroo”

setelah kesulitan pasti ada kemudahan 2x, makna dari ayat dalam surat Al-Insyirah ini sunggah jelas sekali bahwa saat kita mengalami kesulitan disitu juga ada kemudahan, kesulitan dan kemudahan itu sangat dekat sekali bahkan kalimat ini terulang sampai dua kali sebagi taukid “penegasan”.

Jeda, singgah dan syukur….kita hanya cukup berhenti sejenak, ketika kita mulai memikirkan diri kita yang begitu jauh dari keberhasilan, kesuksesan dan keber-artian dibandingkan orang lain. Kita merasa orang lain sudah sukses, bisa pergi keluar negeri, memiliki pekerjaan yang dicintainya, memiliki pasangan hidup, melanjutkan studinya di sekolah/kampus favoritnya. Coba…kita berhenti sejenak “jeda” kita putar otak kita, kita ulangi masa-masa hidup kita, perjalan hidup kita, sudah sampai mana kita saat ini, track record apa yang sudah kita alami saat ini, jangan2 kita sudah mengalami banyak cerita dan pengalaman yang telah kita lalui, hanya saja kita mudah lupa, mudah tidak bersyukur dan merasa belum puas, karena bisa saja hidup kita saat ini sudah sangat baik dan masa ini adalah masa yang pernah kita impikan dimasa lalu…coba ingat? bukankah doa-doa kita perlahan diijabah oleh Allah SWT?, tapi kita saja masih merasa belum puas akan hal nikmat yang Allah berikan kepada hidup kita?. Jangan bandingkan dirimu dengan orang lain…kita boleh saja menginginkan hal yang sama dengan mereka yang hidupnya lebih baik menurut pandangan kita, kita boleh saja meniru mereka agar mendapatkan apa yang seperti mereka dapatkan, tapi jangan sampai akhirnya kita menjauh dari sebenarnya siapa diri kita, boleh menjadi seperti orang lain, yakni menjadi orang lain atau temanmu yang baik, pintar, sabar, sholeh/sholehah, cerdas, kaya tapi dengan versi diri kita sendiri…bukan alih2 harus sama persis dengan orang lain. Coba bayangkan jika semua orang di dunia ini sama saja? …….. hidup menjadi bosan dan begitu-begitu saja. Boleh singgah bersama mereka yang hebat dan sukses, tapi bukan berarti harus menjadi mereka, tapi ambillah hal-hal yang baik dari mereka lalu kau olah dengan caramu atau versimu…… hingga akhirnya kamu menemukan bahagiamu. Karena bahagia itu adalah bukan saat menjadi orang lain, tapi saat kamu menjadi dirimu sendiri. Dengan begitu kamu bisa bersyukur dan senantiasa bersabar saat keinginan-keingananmu belum benar-benar tercapai.

Jedalah…Singgahlah…. dan ber-Syukurlah

Lanjut ke tema selanjutnya….. “Siapkah Tuk Jatuh Cinta Lagi?”

Butuh Jeda

Pernah nggak sih, nggak ada hujan, nggak ada angin, tiba-tiba saja kamu keinget “flashback” masa-masa lalumu dan membandingkan masa lalumu dengan masa sekarang yang akhirnya membuatmu rindu untuk kembali ke masa lalu dan sebenarnya masa sekarang adalah masa yang sedari dulu kamu impikan dan kamu kejar…

Pernah nggak sih, nggak ada hujan, nggak ada angin tiba-tiba ketika kamu scroll dan stalking media sosial seseorang yang kamu sukai dan yang kamu sukai itu ternyata sudah dekat dengan orang lain dan orang lain itu nampaknya lebih hebat dan lebih baik dari kamu…..

Pernah nggak sih, nggak ada hujan, nggak ada angin tiba-tiba ketika kamu lagi buka media sosial terus muncul postingan-postingan temanmu atau orang lain yang kelihatannya menyenangkan, seru dan bisa dikatakan mereka sukses dan berhasil…..

Pada kondisi itu rasanya kita butuh jeda nggak sih? maksud ku kita butuh waktu untuk memikirkan apa sih kekurangan dan kelebihan diri sendiri ketimbang bila dibandingkan dengan orang lain?. Kita butuh jeda nggak sih? untuk membandingkan apa baik dan buruknya diri sendiri di masa  lalu dengan masa kini?.

Yah…rasanya saat itu seperti waktu mulai melambat, otak kita mulai perlahan  beralih memikirkan sesuatu yang lebih mendalam, dan kembali mempertanyakan hal yang mendasar, Siapa sih aku sesungguhnya? Apa sih mimpi besar ku? Apa sih kelebihan dan kekurangan ku? Apa aku bahagia dengan kondisi sekarang? Apa aku sekarang berada di jalur yang benar?

a quarter life crisis”

Banyak yang mengatakan ini adalah kondisi dimana kita sedang memasuki fase krisis seperempat abad dalam hidup kita. Yah, beberapa sumber mengatakan ini terjadi diumur 20an ke atas. Hanya saja aku sendiri mulai mengalami hal ini sejak duduk di bangku SMA, yakni sejak umur 17 tahunan. Saat itu adalah masa-masa sulit dalam menentukan pilihan dan mulai memikirkan akan kuliah dimana, kerja apa, menikah atau berpasangan dengan siapa, ingin tinggal dimana dan ingin menjadi apa nantinya.

Kalau melihat history atau sejarah cita-citaku dan mimpi-mimpiku maka akan terlihat sekali perubahan di setiap umur atau fase dalam hidupku, misalkan saja

  1. TK, menginjak usia TK, cita-cita kita masih cita-cita yang kebanyakan orang tahu dan terbilang umum, kalau nggak jadi dokter ya jadi polisi, tentara bahkan guru. Karena profesi-profesi tersebut sering kita temui dalam hidup kita di masa itu dan mudah diingat karena pakaian dan seragam yang digunakannya. So, waktu itu aku bercita-cita ingin menjadi Polisi.
  2. SD, menginjak usia SD kita disuguhkan dengan berbagai mata pelajaran yang menurutku saat itu terbilang membosankan, sampai-sampai aku sekali harus pindah sekolah. Saat itu juga prestasi di SD tidak terlalu membanggakan. Yang aku banggakan adalah aku pernah meraih rangking 2 se-kelas saat aku duduk dibangku kelas 2. Tetapi, perubahan besar terjadi setelah aku pindah sekolah dan mulai mengubah pola belajarku setiap malam. Setiap malam aku tekun belajar dan mengisi semua jawaban dalam buku pelajaran, hingga akhirnya aku ikut berkompetisi meraih peringkat 3 besar sejak kelas 6 SD dan saat itu aku bisa menggeser prestasi murid lama di SD tersebut. Cita-citaku saat itu adalah aku ingin menjadi pemain sepakbola, terlalu mengkhayal dan tidak masuk akal:)
  3. SMP, disini aku semakin menggila dengan membuktikan kepada guru dan teman-temanku bahwa aku adalah murid yang berprestasi di SD saat itu. Masa-masa SMP adalah masa yang penuh kejutan bagiku, aku membuktikannya dengan meraih nilai tertinggi di mata pelajaran biologi hingga aku diikutkan lomba nasional biologi. Kemudian aku mulai membuktikannya di semua mata pelajaran yang ada, hingga aku jatuh hati pada mata pelajaran matematika dan akhirnya aku memutuskan untuk bercita-cita menjadi guru matematika. Tetapi, cita-cita itu tidak berjalan lama karena sejak duduk di kelas 9, aku merasa semakin bodoh menghadapi rumitnya soal matematika, akhirnya aku berpaling untuk memilih menjadi insinyur, entah insinyur apa, hanya terinspirasi oleh tokoh nasional saja yaitu Ir. Soekarno, dan itu aku tuliskan di buku kenangan SMP. Padahal jika saat itu aku sadar, bahwa untuk meraih gelar insinyur bisa jadi akan dihadapkan dengan rumitnya matematika dan kalkulus.
  4. SMA, masa-masa ini adalah masa yang penuh dengan pengalaman, dan masa dimana aku mulai memutar 180 derajat hidupku dari sebelumnya aku yang terkenal kutu buku beralih menjadi anak yang ingin terlihat lebih keren dan kekinian. di SMA ini aku menekuni dunia IPA tetapi nilai terbaikku lebih kepada penilaian Agama, padahal kebiasaanku adalah bermusik saat itu, sampai aku dijuluki ustadz di tempatku, menurutku itu hanya candaan belaka, yah aneh menurutku, tetapi aku coba jalani. Pelajaran di SMA hampir semua aku suka, hanya ada satu mata pelajaran yang sulit aku serap yakni Fisika. Pelajaran ini sungguh membuatku tidak bersemangat bersekolah, tetapi mau tidak mau aku harus menghadapi soal fisika yang begitu sulit untuk dipahami, entah karena memang fisika sendiri itu sulit atau karena guru ku saja yang sulit menyampaikan materi fisika dengan menark. Cita-cita ku saat itu masih belum jelas, malah keinginannya ingin menjadi musikus, tapi disisi lain aku ingin berkuliah di arsitek, tapi melihat pelajaran SMA yang membuat otak lesu, ingin sekali kuliah di ekonomi yang mata kuliahnya terbilang santai atau malah lebih mendalami musik. Yah pada masa itu aku terbilang masih labil karena penuh dengan pilihan, hingga akhirnya aku memutuskan untuk berkuliah di Teknik Sipil.
  5. Kuliah, membuka kembali buku tahunan SMP, disitu aku menuliskan cita-cita ku yang ingin menjadi insinyur, dan jelas tanpa disengaja apa yang aku tuliskan pun menjadi kenyataan, bahwa aku akan menjadi calon insinyur (saat ini sarjana teknik). Tapi anehnya di masa kuliah itu cita-citaku bukan menjadi seorang sarjana teknik melainkan ingin menjadi pebisnis (entrepreneur). Mulai saat itu aku belajar untuk usaha kecil-kecilan dari jualan tahu bakso, kaos sablon dan barang-barang bekas. Sambil menyelam minum air, yang dulu aku pernah bercita-cita ingin menjadi guru matematika dan pemusik bisa dibilang tercapai meskipun belum maksimal. Selain kuliah dan jualan aku juga mengajar musik dan pelajaran matematika secara privat. Selain itu juga aku sering tampil konser, mengikuti lomba musik hingga juara dan mengeluarkan musik dan video rekaman. Saat itu aku mulai berfikir bahwa manusia ada karena sebuah karya dan pengakuan, hingga aku memastikan bahwa aku ingin berkarya dalam hidupku entah dalam bentuk apa nantinya, itu yang masih aku raba hingga saat ini. Masih di masa kuliah, alih-alih ingin menjadi musikus ku, ditengah perjalanan aku memutuskan rehat dari musik dan fokus pada kuliah dan mendalami ilmu agama Islam. Yah, lebih tepatnya aku pelan-pelan mulai muhasabah dan memperbaiki diri. Hingga pada akhirnya aku mulai pelan-pelan menikmati kesibukan dan pekerjaanku sebagai mahasiswa Teknik Sipil. Mengikuti seminar, membantu dosen dalam berbagai acara penelitian dan sosial, mendalami keilmuan teknik dan mengajarkannya pada mahasiswa-mahasiswa lainnya dan kemudian disitu aku mulai merasakan bahwa aku benar-benar ingin menjadi seorang sarjana teknik atau orang awam mengenalnya dengan sebutan insinyur.

Fase “a quarter life crisis” terus berlanjut hingga sekarang, saat usiaku memasuki tahun ke-20an, aku mulai memikirkan dan mengevaluasi hidupku agar aku tahu apa tujuan hidupku sebenarnya, ingin dikenal sebagai siapa, mencari pasangan yang bagaimana dan belajar mengatur hidup serta keuangan sebaik mungkin. Terkadang mood berubah-rubah, terkadang aku bersyukur dan kadang juga merasa belum puas dengan hidup yang aku capai saat ini. Padahal jika ditelaah kembali, bisa jadi saat ini adalah keinginan dan impianku yang sebelumnya pernah terfikirkan dan terbesit dalam benak meski hanya sejenak dan melewatkannya bagai angin lalu. Yah, bekerja di sebuah perusahaan BUMN ternama dengan posisi yang diinginkan. Apakah itu bukannya sebuah anugerah? dan luar biasa? tetapi diri ini masih menganggap biasa-basa saja karena mungkin saja aku melihat hidup ini dari sisi yang berbeda. Yah mungkin benar, manusia itu tidak pernah puas dengan pencapaian hidupnya dan terlalu membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain. Padahal asal kita tahu,  masih ada orang diluar sana yang menginginkan kehidupan layak dan luar biasa yang kita miliki. Tetapi bukannya itu lebih baik? karena membuat kita tidak membanggakan diri, jauh dari sombong, riya dan ujub?….yah benar, tetapi bukan berarti kita tidak boleh bersyukur dan menikmati hidup yang kita jalani saat ini. Menikmati hidup ini apa adanya dan mensyukurinya adalah salah satu bentuk ibadah atas nikmat Allah Yang Maha Kuasa dan ciri pribadi umat  muslim yang bertakwa.

Lanjut ke tema selanjutnya….. “Jeda, Singgah dan Syukur”

Hilang Arah

“Ketika aku menulis aku berdoa, aku mengadu, aku menyandarkan tulisanku hanya kepada-Mu, bukan agar orang lain turut bersedih, bahagia, berduka ataupun bersuka karena ku”

JELAS

Aku bodoh, aku salah, aku tak terarah, aku pendosa, aku lemah, aku pecundang, aku lebay, dan aku hampir saja mati menjadi diriku, ketika aku sedang mencari dirimu.

Aku salah…ketika aku menyatakan perasaanku lebih awal, dan

Aku terlambat…ketika aku menyatakan perasaanku di saat waktu yang tepat? bagaimana ini menjadi waktu yang tepat? tepat bagiku, tapi tidak tepat bagimu

Aku yang tergesa-gesa dan aku yang lamban

Sejak saat itu……aku seperti kehilangan arah

entah siapa yang kutuju

seharusnya aku mendekat kepada Mu

Sejak saat itu….aku seperti kehilangan pundak

entah kepada siapa ku bersandar

seharusnya aku bersujud kepada Mu

Sejak saat itu….aku seperti kehilangan kepercayaan

entah kepada siapa ku mengadu

seharusnya aku yakin kepada Mu

Tapi, mulai saat ini aku berdoa….Semoga kelak aku akan menemukan arah ku, dan aku berjanji aku tidak ingin kehilanganmu

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑