In Time

Percaya atau tidak, bahwa kita memiliki waktu masing-masing. Setiap waktu milik seseorang berbeda dengan waktu milik orang lain.

In Time….setelah aku menonton film aksi yg dibintangi Justin Timberlake ini membuat aku paham, bahwa suatu saat mungkin akan ada yg lebih berharga dibandingkan harta, tahta dan wanita, yaitu waktu. Di film tersebut waktu menjadi hal yang langka dan yg terus dipertaruhkan bagi manusia, karena waktu itulah membuat mereka menjadi ganas dan rakus.

Kini mungkin kita masih belum sadar betapa berharganya waktu itu, dr 1 tahun, 1 bulan, 1 Minggu, 1 hari, 1 jam bahkan 1 detik. Ketika banyak melewatkan waktu yang telah kita lalui. Padahal merugi bagi manusia apabila memiliki waktu luang tetapi tdk dimanfaatkan sebaik mungkin akan aktivitasnya. Padahal semakin tua usia kita, rasanya waktu semakin cepat. Mari kita flashback

Bayangkan anda saat ini berusia 6 tahun, saat itu aktivitas anda hanyalah bangun pagi, sekolah, berisitirahat siang, bermain di sore hari dan belajar di malam hari. Rasanya anda begitu menikmati setiap waktu aktivitas anda, sampai-sampai waktu berputar begitu lambat dan ingin segera memasuki hari Sabtu dan Minggu. Apakah itu yang anda rasakan?

Atau ketika anda sedang menerima pelajaran disekolah yang begitu anda benci, apakah rasanya ingin segera berbunyi Bell pulang atau tanda pergantian jam pelajaran? Begitukah yang anda rasakan?

In Time….itulah hanyalah salah satu kejadian yang mungkin pernah kita alami di usia muda, kemudian kita beranjak dewasa, hingga kita bebas memilih aktivitas dan pengisi waktu kita. Hampir kebanyakan aktivitas yang kita jalani saat ini adalah pilihan kita sendiri, itu pastinya yang kita sukai dan bisa kita nikmati. Semakin kita nikmati hidup ini maka waktu begitu terasa cepat pula, hingga rasanya ingin mengulang waktu yang sama. Bukan begitu?

Kini kita tidak memiliki waktu banyak untuk diri sendiri, orang lain bahkan keluarga. Hampir saja waktu kita habis di dunia ini dan tak ada yang abadi bagi siapapun yang ingin benar-benar hidup di dunia ini. Semua memiliki waktunya masing-masing dan semua itu akan berhenti apabila waktu kita telah habis. Yah hidup seperti ini misi dengan berbagai misi yang memiliki waktu berbeda-beda. Hidup ini bagaikan bom waktu. Sadar atau tidak sebenarnya kita sedang mengejar bom waktu tersebut agar tidak meledak ataupun tidak mendahului akhir waktu kita. Hidup kita penuh dengan deadline…jika kita gagal menyelesaikn pekerjaan sebelum deadline, maka habislah kita…inilah yang dinamakan waktu tanpa toleransi.

Tapi tak perlu khawatir, sekali lagi tugas manusia hanyalah berusaha semaksimal dan semampu yang diyakini dan Allah yang akan menentukan kapan waktu terbaik untuk kita, itulah namanya sebuah momentum. Pasti teman-teman pernah mengalami kejadian dimana ada seorang mahasiswa yang cukup menempuh pendidikan S1 nya selama 3-4,5 tahun, tetapi butuh waktu lama sekitar 1-2 tahun untuk memperoleh pekerjaan? Berlawanan dari dimana ada mahasiswa yang harus menempuh pendidikan S1 nya selama 5-7 tahun tetapi di tahun ke 3 atau setelahnya bahkan sebelum dia lulus dia sudah mendapatkan pekerjaan dan gaji yang layak. Bukankah begitu?

Atau disisi lain, kita mungkin pernah melihat dua orang yang saling mencintai hingga menjalin ikatan pacaran cukup lama tetapi tidak sampai menuju akad mereka sudah memutuskan berpisah, atau mungkin mereka bisa menikah setelah menjalin hubungan 5-10 tahun itu adalah waktu yang cukup lama dalam menjalin hubungan diluar nikah. Atau mereka sudah sejak umur 18 tahun saling kenal dan menjalin hubungan tetapi baru diumur 24-30 tahun mereka baru menikah. Tetapi sebaliknya mungkin ada yang baru mengenal 1 tahun bahkan kurang dari itu 2 bulan atau bahkan beberapa hari, mereka bisa menempuh hubungan Yang lebih serius yaitu pernikahan impian.

Jadi apa kesimpulannya? Apakah kita masih memikirkan waktu milik orang lain? Selagi kita masih memiliki waktu luang, kita pastikan kita gunakan untuk menyelesaikan pekerjaan kita, kita gunakan untuk menyelesaikan kewajiban dan hak kita. Yang Demi Waktu…hanya Sang Maha Pencipta yang kekal abadi tak lekang oleh waktu, sedangkan kita? Entah sampai misi kita berakhir atau tidak di dunia ini, waktu kita akan berakhir pada waktunya. Entah dalam keadaan baik atau buruk, entah dalam keadaaan terkenang atau dilupakan, kita sudah menghabiskan waktu banyak untuk diri sendiri dan orang lain, maka hargai waktu yang Allah berikan kepada hamba-Nya.

In Time not On Time apalagi Out Time

Iklan

The Next Step

Kemarin ketemu temen dan aku tanya “eh bentar lagi kamu lulus, trus rencana mau ngapain?”, “wah belum tahu e, belum ada rencana” jawab temanku.

The Next Step…

Seharusnya tujuan kita kedepannya sudah jelas, minimal kita tahu apa yang akan kita lakukan beberapa jam kedepan, kita tahu apa saja agenda kita hari ini, kita tahu apa yang akan kita kerjakan esok hari dari awal bangun tidur hingga menjelang tidur. Kita seharusnya tahu bagaimana memanajemen waktu, me-arrange mimpi-mimpi yang ingin kita capai. Jujur saja agenda dan keinginanku tahun ini yang sudah aku tuliskan diawal tahun adalah bisa pergi ke luar negeri, mulai untuk melamar/mencari kerja, diterima kerja, menikah dan bisa lulus tahun ini. Tetapi doa yang baru terkabulkan adalah doa kedua yaitu diterima kerja, pastinya pekerjaan tersebut adalah pekerjaan yang sesuai dengan bidangku dan yang diminati. Tidak sekedar bekerja, tapi bisa belajar dan pekerjaan tersebut bisa menunjang karir, sehingga tambahlah ilmu pengetahuan yang pastinya bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Sedangkan doa-doaku yang belum terkabulkan masih banyak sekali, meskipun begitu aku tetap bersyukur dan pastinya terus mengevaluasi diri, mungkin karena manajemen waktuku yang salah sehingga belum sempat untuk mengejar mimpi tersebut, mungkin jg karena kesalahan-kesalahan baik itu kecil maupun besar yang aku lakukan selama ini.

Yah, kalau ngomongin manajemen waktu itu emang sulit sekali untuk konsisten. Belajar soal manajemen nih, emang belajar manajemen waktu yang cocok/baik untuk kita (manusia) itu belajar dengan siapa sih? Nah kalau sekarang aku sendiri sih banyak belajar dari orang-orang sukses, yah orang-orang sukses itu ternyata kuncinya ada di manajemen waktu mereka. Mereka benar-benar menggunakan waktunya seoptimal mungkin untuk kebaikan, untuk bekerja, berjuang, mengabdi dan pastinya ber-spiritual (beribadah). Tetapi ada yang lebih dari itu semua, yaitu cara manajemen waktu ala Rasulullah. Yah, Rasulullah SAW adalah suri tauladan bagi seluruh umat manusia, baik muslim atau yang non muslim bisa saja menerapkan sunnah yang diajarkan Rasulullah SAW. Karena banyak sekali manfaat dari apa yang Rasullah ajarkan, misalkan saja cara makan Rasulullah yang mana kaki kanan beliau ditekuk keatas untuk menahan perut supaya saat makan perut jadi terasa cepat kenyang dan mengurangi istilah kekenyangan (kebanyakan makan) sehingga sangat baik untuk kesehatan tubuh. Selain itu beliau juga suka berolahraga seperti memanah yang mengajarkan kita untuk fokus, konsisten dan berani, selain itu beliau sering bangun seperti tiga malam untuk shalat tahajjud dan disitu waktu cocok kita untuk belajar.

Pola manajemen waktu yang diterapkan oleh Rasulullah mungkin berbeda dengan kita kebanyakan. Sebenarnya pola ini menjadi pola yang harus diterapkan oleh umat Islam. Secara singkat sebagian para sahabat, orang arab muslim dan para imam-imam sholeh terdahulu juga memiliki manajemen waktu yang hampir sama seperti yang Rasulullah ajarkan. Mereka tidur selepas shalat isya untuk beristirahat, kemudian bangun 1/3 malam sekitar jam 12-2 gitu klo di Indonesia, kemudian mereka shalat tahajjud dan berdzikir nah banyak sekali manfaat dari shalat tahajjud dan berdzikir ini, selain bermanfaat untuk spiritualitas kita (kedekatan kita kepada Sang Khalik), juga bermanfaat untuk tubuh kita, karena pada dini hari itu suara begitu sunyi/sepi, tidak ada keramaian sehingga bisa menumbuhkan konsentrasi untuk belajar, makanya dulu orangtua kita selalu menyarankan kita untuk belajar/menghafal selepas subuh/dini hari karena otak masih fresh, udara segar, sunyi dan banyak sekali mood baik yang terbentuk saat kita bangun pagi/sebelum subuh. Nah klo di zaman rasulullah dulu nih setelah shalat subuh masyarakat makkah langsung berangkat ke pasar untuk berdagang (menjemput rezeki), yah makanya pepatah arab mengatakan sesuai hadits dari Rasulullah “jangan tidur setelah subuh, apalagi sudah masuk waktu subuh masih saja tidur lelap, nanti rezekinya tidak lancar”, orang tua kita juga sering menasehati kita dengan mengatakan begini “subuh-subuh jangan tidur ntar rezekinya kepatok (diambil) ayam”. Yah emang benar, di zaman Rasullah aktifitas mereka adalah mencari dan menjemput rezeki, sampai sekarang pun pasar-pasar dimanapun selalu buka di awal waktu (pagi hari), karena mereka berlomba-lomba mencari pembeli/pelanggan.

Nah trus bagaimana dengan next step kita? apakah kita akan begini saja?  menjalani aktifitas yang monoton? tak ada ilmu baru? tak ada pengalaman baru? dan tak ada perubahan yang berarti?…Hidup adalah tentang pilihan, hidup adalah tentang melangkah dan cara untuk menerima setiap impact dari pilihan dan langkah yang kita tuju. The Next step harus kita buat dari sekarang, agar dengan mimpi-mimpi itu kita masih punya semangat, tak perlu menunggu waktu yang tepat, tetapi cukup kita kerjakan maka akan ada motivasi dari setiap apa yang telah kita kerjakan. Jangan menunda, karena kita tidak memiliki waktu untuk berleha-leha di dunia ini. Mumpung hidup, mumpung hati belum mengering, mumpung jiwa belum mati, mengapa tak kau utarakan mimpi-mimpimu dan pastinya meminta bantuan orang lain juga untuk menggapainya dan pastikan bahwa kau tidak sendiri, ada orang lain yang turut berkonstribusi, membangun kerjasama untuk berbagi jangan sendiri. The Next Step…

Okey jujur saja nih setelah aku lulus bakal ngapain? setelah lulus waktu terdekat aku mencari pendamping hidup, bukan sekedar hidup tapi partner realtionship goal, tidak sekedar pendamping yang menutup kekurangan, tetap juga pendamping yang mengajarkan arti hidup yang sesungguhnya. Setelah itu rencana aku membawa dia untuk pergi, belajar mandiri, mengejar mimpi bersama, mimpi tuk menjadi satu dan melawan tantangan yang akan kita lalui berdua. Hingga umur cukup untuk kembali…maka jika kita bisa kembali kekampung halaman dan mengabdi mungkin itu piihan yang terbaik, tetapi itu jangka waktu yang cukup lama, mungkin 7-10 thn lagi, tapi percayalah hari ini yang akan membentuk karakter dirimu dan perjalanan hidupmu esok dan yang akan datang. The Next Step…not just for tomorrow but for today too.

“ESCAPE”

GENERASI GALAU

             Beberapa hari yang lalu aku meng-uninstall aplikasi instagram di handphoneku. Sudah berulang kali aku melakukannya dan kemudian kembali lagi aku unduh. Semua itu aku lakukan bukan tanpa alasan. Meng-uninstall aplikasi instagram dan tidak membuka aplikasi itu adalah cara awal ku untuk mencoba memperbaiki waktu yang terbuang. Waktu ku terbuang karena diriku hampir menghabiskan waktu berjam-jam hanya melihat postingan orang lain dan postingan diriku yang begitu menyedihkan.

             Mungkin kejadian ini tidak hanya aku saja yang mengalaminya. Hampir semua orang (netizen) pernah mengalami hal yang sama dan dikenal dengan istilah kecemburuan sosial. Disaat kita melihat postingan teman, orang lain, tetangga, bahkan sahabat dan saudara pun yang begitu luar biasa bahagianya, asyik, inovatif dan kreatif, sedangkan postingan pribadi seperti tak layak di publikasikan, hingga diri ini merasa seperti ciptaan Tuhan yang gagal, atau mungkin sebagian yang terupload  hanya kisah masa lalu yang indah dan dirindukan.

         Melihat teman-teman ada yang sudah wisuda, pergi ketempat-tempat asyik, berkumpul bersama teman-teman seru, pergi keluar kota atau keluar negeri dan menikah adalah postingan impian kebanyakan orang. Mereka selalu mengunggah momen-momen terindah yang mereka alami, jarang sekali momen-momen buruk ataupun yang menjengkelkan mereka posting. Hidup menjadi luas tapi hati semakin sempit, aku scroll setiap beranda di ig dan berkata dalam hati “aku masih punya penyakit hati walau sedikit, penyakit itu adalah rasa iri, (hasad) dengki, cemburu dan takut, tetapi aku tidak ingin memikirkan kehidupan mereka, kebahagiaan mereka, aku adalah aku, mereka adalah mereka, bukankah kehidupan selalu ada kesedihan dan kesenangan? tetapi kenapa selalu kebahagiaan yang kita ungkap dan menutupi kesedihan yang ada. Sepertinya aku harus mematikan media ini, mungkin untuk sementara waktu hingga targetku dekat ini bisa tercapai” yah aku mematikan media sosial yang lagi naik daun itu selama beberapa waktu ini, tidak pernah aku otak-atik lagi, bahkan akun bisnis serta gallery yang berisikan karya pribadi tentang desain bangunan tidak pernah aku urus, “raurus” gumamku dalam hati.

           Aku hanya sedikit menjauhkan diri dari instagram karena sebelumnya aku menghabiskan waktu dengan aplikasi tersebut. Menanri postingan up-to-date dari teman/komunitas yang diikuti. mengupload video pribadi dengan kata-kata yang sebenarnya tidak berarti, seperti diri ini sedang belajar pamer. Biasanya aku gunakan untuk upload berita dan info kajian, tentang nasehat dan  dakwah untuk menutupi postingan jelek yang saat ini pun mulai marak, berita hoax, kumpulan foto yang tak senonoh dan keburukan lainnya. Tetapi akhirnya mulai menyimpang menjadi kumpulan foto sok bahagia, foto sok pamer, foto sok bijak dan foto2 sok lainnya. Aku mulai berfikir, aku adalah satu diantara banyak orang yang masih saja bisa terjurumus kedalam perangkap keburukan, jika diri ini belum di beri suntikan imunisasi penyakit hati. Oke,,,,mungkin ada yang nyinyir dan bertanya emang ada masalah dengan postingan pengalaman indah dan luar biasa itu? apa ruginya untuk diri sendiri dan orang lain? Yah semua itu ada jawabannya dan hanya pribadi masing-masing yang bisa menjawab. Bagiku awalnya sih baik, ada yang malah niatnya memotivasi dan merasa sebagai contoh yang pantas dan diteladani, mungkin ada juga yang merasa hidupnya luar biasa dan paling benar, nah ini yang bahaya. Itu yang aku takutkan selain aku punya penyakit hati akibat postingan orang lain, aku juga takut nantinya niat hati berubah menjadi ujub, riya, pamer dan penyakit hati lainnya. Karena itulah akhirnya aku berhenti dan menutup sementara akun ig ku hingga aku belajar artinya hidup yang nyata tanpa ada suatu kebohongan, rekayasa dan drama.

           Masih nyinyir…loh kok sementara? gak selamanya aja dilog out tuh akun? aku tidak mengatakn media sosial, facebook, WA, Line, bahkan blog ini serta instagram terutama itu buruk 100%, itu semua tergantung si pengguna. Tapi aku sendiri masih belajar untuk membentengi diri, belajar untuk berubah, belajar untuk menerima, belajar untuk mengatakan bahwa aku bukan hanya satu2nya manusia yang butuh pengakuan, bukan hanya satu2nya manusia yang memiliki pengalaman luar biasa dan hebat. Yang aku coba terapkan adalah mengingat dosa dan kematian, sehingga belajar untuk menghapus semua itu adalah caraku untuk berkembang menjadi pribadi yang baik. Media sosial menjadi penting sekarang, beberapa medsos menjadi urgent…tetapi untuk instagram saat ini tidak banyak yang bisa aku lakukan. Awalnya aku ingin menggunakan instagram untuk memperkenalkan karyaku dibidang arsitektur dan engineer, untuk mencari banyak pelanggan dan melakukan iklan sana-sini, tetapi semua itu aku hentikan beriringan saat ini jasa instagram belum aku butuhkan karena pekerjaanku tidak membutuhkan itu. Aku pun berfikir untuk menangguhkannya hingga keadaan berubah dan memastikan harus kembali aktif di instagram, mungkin hingga aku aktif untuk membuka bisnis kembali. Tapi karena saat ini masih sibuk dengan beberapa hal sehingga bisnis pun belum sempat.

              Aku sangat kagum dengan temanku yang tidak aktif di media sosial. akun Instagram dia tidak ada, Facebook sudah jarang aktif, twitter dia tidak mendaftar, hanya WA dan Line yang usang tak jarang dia update hanya sesekali saja. Mungkin itulah cara agar dia jauh dari penyakit hati yang sebenarnya semua manusia itu punya, hanya saja ada yang bisa bertahan, ada yang bisa terjerumus ada yang akhirnya memilih jalan ekstrim untuk berhenti dari pada timbul sakit di hati….yah terkadang kabar dari telinga lebih dapat diterima dari pada kabar lewat mata, karena semua menjadi nyata dan terbukti, sedangkan kita hanya terdiam dan bermimpi saja saat melihat mereka bahagia dan sukses. Maaf jika aku berlebihan, tetapi itulah yang sebenarnya terjadi sekarang ini. Semua postingan video, foto, cerita bahagia, luar biasa dan berkesan, tetapi sebenanrya mereka Galau dan yang membacanya pun Galau sehingga kita adalah Generasi yang Galau akan Kesenjangan sosial. Dulu kita menganggap diri kita generasi patah hati, tetapi sekarang nyatanya kita adalah generasi galau. Kita hidup di media sosial, makan dari media sosial, terkenal dari media sosial, dipuji dari media sosial, dicintai dan disukai dari media sosial,,,semua yang nyata adalah semu dan yang semu adalah nyata. Kita Generasi Galau…benar sekali galau, untuk apa sih semua ini? mau sampai tua upload-upload moment yang sebenarnya itu moment pribadi, moment untuk pasangan suami-istri yang baru saja menikah muda, moment teman-teman se-genk yang luar biasa, tetapi kita masih saja ingin dikenal dan diakui keberadaannya, masih saja ingin dicintai, masih saja ingin pembuktian. Jika sekecil moment apapun itu kita nikmati, kita rasakan sendiri, dengan mematikan wifi dan paket data yang kita miliki pasti rasanya akan begitu menghayati.

Pemikiran galau ini aku tuangkan karena aku begitu susahnya stalking seseorang, aku payah hanya mencari informasi lewat sosial media, bahkan dia sendiri mati dengan dunia maya. Tolong kalau ada kabar tentang dia aku kabari yaaa, akan ada imbalan yang pantas untuk sekilas info tentang dia

GEN_GALAU

Runaway

Belum banyak tulisan yang aku ketik pada lembar skripsiku…tapi, tiba-tiba aku terfikir untuk menulis kata-kata diluar lembar skripsiku, izinkan aku mencurahkan isi hatiku

Aku tertawa dan tersenyum dengan perjalanan panjang yang aku lalui selama ini. Aku yang binal dan penakut ini pandai melarikan diri dari masa lalu, yah terutama dalam masalah hati. Instagram, WA, Line, FB masih gencar sekali dengan postingan hal-hal yang indah, sebuah status yang singkat, perjalanan keluar kota dan negeri yang menyenangkan, pekerjaan yang mapan dengan gaji besar, pasangan baru yang entah mereka lalui dengan akad atau hanya sekedar janji palsu semata dan segalanya tentang keindahan dan kesenangan merajai media sosial saat ini. Jarang sekali postingan sedih, musibah dan tentang keprihatinan muncul walau hanya seonggok jagung. Kini tulisan ini yang akan menjadi salah satu seonggok jagung yang mahir mengungkapkan kata-kata. Maaf tadi ada sebuah kata dari W.S.Rendra.Tapi ini bagianku.

“Pergi adalah kebiasaanku, melarikan diri adalah impianku, melupakanmu adalah pekerjaanku, membaca dan menulis kisah adalah pelampiasanku”

Jika aku tak beranjak, maka aku bisa jadi mati terdiam, atau lebih baik aku mati saat melangkah, maka perjalananku akan jelas. Hatiku terhenti disini, diam, tak berani beranjak, melaju pun akut, mundur pun pantang. Apakah aku menunggu? entah antara aku menunggu waktuku atau menunggu waktumu atau menunggu waktu yang Allah pastikan. Tapi kita pun tak nampak sehati saja. Seperti kita benar-benar lari dari impian masing-masing. Tetapi aku tak akan berbicara tentang kamu, aku akan berkisah tentang manusia bodoh seperti diriku. Menyiksa diri sendiri adalah bagian dari hidupku, fisik dan hati adalah bagian bodoh itu, sangatlah bodoh dan menghancurkan batin, tapi aku masih ingat dua obat jitu yaitu ikhlas dan sabar.

Lari….

pernah berfikir untuk kembali? saat itu usiaku masih menginjak 15 tahun, aku menyukai seorang gadis lebih muda setahun dariku. Terkadang aku menunggu di pemberhentian bus/angkot sepulang sekolah. Pernah sekali kita berjalan bersama menuju rumah masing-masing. Entah lupa pembicaraan kala itu tapi aku ada rasa padanya. Setelah itu aku tak pernah bertemu lagi dengannya di pemberhentian itu. Beberapa waktu kemudian aku mencoba mengatakannya padanya tentang isi hatiku didepan orang-orang banyak (didepan teman-temanku). Didepan kelas kala itu, aku coba meyakinkan diri bahwa aku bukan seorang laki-laki pecundang yang datang mengharapkan bidadari dunia, tetapi aku merasa belum mampu, karena beberapa waktu setelah kejadian itu aku pun pergi tanpa pamit.

Pergi ,,,,

Pergi adalah caraku melupakan apa yang terjadi, melupakan keindahan kota, melupakan memori tentang cinta dan kasih. Melupakan ibuku yang telah meninggalkanku 8 tahun lalu di Madinah. Melupakan seorang gadis yang 3 tahun aku kagumi. Melupakan teman-temanku yang buruk terhadapku. Tapi sayang, semua itu tidak benar-benar dapat terlupakan hanya dengan menginjakkan dari kota lama ke kota baru.

Pindah….

Di sebuah kota baru, aku mengenal orang baru, berharap wanita impianku ada disini. Kisah lama terulang kembali ditempat baruku. Aku rasa bukan karena waktu dan bukan karena tempat, tetapi karena diriku yang begitu payah dalam memanajemen cinta. Bullshit dengan cinta. Aku bisa saja melarikan diri, kapan saja dan kemana saja, kini akhirnya aku belum saja lari, aku coba mendekat…lebih dekat dengan Sang Maha Cinta, Sang Maha Pemberi Cinta, yang mengerti dari segala misteri hidup ini. Ari Lasso penyanyi legendaris bilang

Segala yang terjadi dalam hidupku ini
Adalah sebuah misteri illahi
Perihnya cobaan hanya ujian kehidupan

Entahlah…mungkin ini hanya sekedar ujian hati, tetapi aku masih saja teringat 2 hal yaitu ikhlas dan sabar, tidak ada lagi modal yang bisa aku pegang. Perjalanan semakin berat, langkahku hampir saja hilang, tapi aku coba menguatkan. Beberapa waktu lalu aku mendaftar pekerjaan. Pekerjaan yang dapat mengantarku untuk keluar dari zona misteri ini. Entah antara berniat untuk pergi atau mengejar karier, tapi kedua hal itu ada dibenakku sekarang. Tapi aku benar-benar ingin membahagiakan dirinya (gadis baru), tetapi aku harus membahagiakan kedua orangtuaku. Niatku bukan lagi mengejarnya, tapi dengan memperoleh prestasi aku akan bahagia. Meskipun aku harus jujur bahwa prestasi terbaik bagiku adalah bisa menaklukkan hatinya yang mungkin mulai rapuh karena aku saja tak kunjung tampak. Kini aku mengartikan kebahagiaan adalah membahagiakan kedua orangtuaku, mendapatkan pekerjaan yang mapan, sukses pekerjaan dan keilmuan, tapi diriku masih saja terjebak di lubang kemaksiatan…aku takut dan itu pelarianku saat ini.

Sabar….
Dulu aku mencoba sabar, tetapi kesabaran yang tak ada batasnya membuat niatku tak terbatas juga. Sampai kapan aku akan diam, sampai kapan aku akan menyimpan perasaan. Sepertinya memang sulit dan sakit. Keraguan mengantarkanku pada lubang hitam yang sama. Kini hanya ada diriku dan penyesalan, seharusnya ketika aku benar-benar ingin menemuinya aku katakan sejujurnya. Tapi aku tak pernah janji sekalipun padanya dengan kata, hatiku berjanji sendiri, bermaksud menyembunyikan…agar pengalaman dulu (gadis lama) tak terulang kembali, tapi yang terjadi adalah luka, luka yang mungkin dapat terobati dengan cara lari dan pergi dari impian itu. Kini aku sendiri yang menanggungnya. Ingin berpaling tapi aku tidak berhak, karena aku benar-benar tidak ingin menyakitinya. Apakah aku akan pergi tanpa berpamit lagi?
“Diriku terjebak dalam lingkatan setan, berpaling bukan hak ku, melangkah maju sudah terlambat, jadilah hatiku mati menjadi debu”
RUNAWAY with you

Thriller di Tanah Padang

Pada bulan Mei lalu, aku ditunjuk dosenku untuk bertugas membantu beliau menyiapkan sebuah acara Ilmiah Tahunan tentang Riset Kebencanaan di Padang. Beberapa dosen yang akan terbang ke Padang terbagi menjadi dua, dosen senior sebagai pemakalah yang akan berbicara di acara konferensi dan dosen junior sebagai aktor dibalik semua persiapan para dosen senior sekaligus sebagai penjaga stand yang memperkenalkan lembaga riset di universitas kami “DirRRect UII (Disaster Risk Reduction Centre Islamic University of Indonesia)”. DiRRect sendiri merupakan sebuah lembaga/organisasi/kumpulan para peneliti, ilmuwan & dosen yang bergerak di bidang keilmuan terkait mitigasi bencana untuk mengurangi dampak akibat bencana.

Nah, beberapa minggu sebelum keberangkatan, aku ditelepon oleh dosenku untuk menandatangi sebuah kontrak berisi proposal dan permohonan bantuan dana kepada Rektorat untuk biaya kegiatan disana. Entah kenapa aku yang ditunjuk, tetapi sebelumnya aku beserta beberapa teman-teman lainnya sempat tergabung sebagai relawan dalam bencana Badai Tropis Cempaka-Dahlia di Jogja pada akhir tahun 2017 lalu. Sempat membantu dosen dalam merencanakan pembangunan jembatan baru yang rencana seluruh desain jembatan adalah sukarela dari UII, tapi entah aku juga belum tahu perkembangannya sampai sekarang, hingga akhirnya pada saat itu akupun dimintai tolong untuk membantu mensukseskan konferensi di Padang sekaligus menjadi delegasi/perwakilan dari para mahasiswa. Tapi aku yakin, bukan faktor keaktifanku saja di kampus, tetapi ada faktor lain sehingga sampai ditunjuk untuk mengikuti kegiatan tersebut, melainkan karena memang aku lebih mirip dosen dari pada mahasiswa, alias tua “muka boros” kata dosen ku 🙂

Nah lanjut kepada cerita inti, …sesuai judulnya “Thriller di Tanah Padang”.Aku tidak ingin menceritakan keseruan dan pengalaman ku turut serta dalam acara tersebut. Tetapi, aku hanya ingin menceritakan sebuah kisah singkat “horror” yang mana aku menjadi tersangkanya, lah kok bisa?

Jadi pada suatu subuh di Padang, di saat dosen-dosen muda pada tepar karena kerja seharian, aku keluar dari kamar hotel sendirian untuk shalat subuh di Masjid. Aku mulai mencari masjid terdekat dari Hotel dengan mengikuti suara adzan yang asalnya sulit ditebak. Karena ini baru pertama kali aku menginjakkan kaki di tanah Padang dan belum tahu lokasi masjid, maka aku terus saja mencari dari manakah suara adzan subuh itu berasal. Sempat bingung dan akhirnya aku menemukan tanda. Ada seorang ibu bermukenah sedang berjalan beberapa meter didepanku. Aku mengikuti dia hingga kita berdua masuk disebuah gang sempit yang sepi ‘cieeeee’ horror woy horror. Oke, pada saat itu keanehan terjadi, sang ibu sesekali menatapku ke belakang mencoba menerawangi ku, memastikan aku tidak melakukan hal-hal jahat, aneh dan brutal. Suasana saat itu begitu mencekam, hingga membuat bulu kuduk kami berdua merinding dan tiba-tiba ibu tersebut berlari, larinya mirip orang ketakutan, sontak aku ilfiil sambil berkata pada diri sendiri “apakah ada yang salah? tidak ada siapa-siapa lagi disekitar kita berdua, apakah ibu tersebut lari karena takut denganku? ataukah ibu tersebut sedang melihat sosok lain? atau trauma karena dulu pernah……ah tidak mungkin!?” cukup sampai disitu aku berfikir dan aku mencoba menilai diriku dikala subuh itu. Perawakanku yang begitu sangar dipagi hari itu. Aku pergi kemasjid tidak selayaknya seperti orang-orang yang pergi ke masjid. Aku hanya memakai celana jeans hitam panjang dan hem biru  ketat dengan rambut panjang tak beraturan ditambah muka kucel karena semalam mempersiapkan banyak hal di lokasi. Lantas tidak salah jika sang ibu lari terbirit-birit setelah melihat perawakanku yang lebih mirip genderuwo dibandingkan mirip john snowman “Game of Thrones”.

Yah…..intinya si ibu tadi su’uzan, ngelihat aku yang lebih mirip penjahat…bu ingat yang jahat itu Rangga “kata Cinta” bukan aku yang muka emang mirip preman tapi hatiku bu’ mirip hello kitty bu’, yang sering dipermainkan “naudzubillah”….malah lebih parahnya lagi mirip adeknya hello kitty bu’, ngertiin aku dong bu’, aku sedang mencari hidayah kala subuh itu bukan mencari mangsa, emang aku WereWolf bu’? oh tidakkkkk….aku harus segera cukur rambut diwajahku

Jadi begitulah kisah Thriller absurdku di Tanah orang dan ini baru pertama kali terjadi dalam hidupku, semoga tidak terulang lagi…sungguh unik, membuat aku jadi muhasabah diri, aku harus banyakin senyum dan menghibur dikala jalan-jalan subuh sendiri dan bertemu seorang ibu…atau aku harus bagaimana entahlah hehe

~SEKIAN~

Asisten Perancangan Gedung dan Proposal Tugas Akhirku

“Kini ku kembali menulis secercak kisahku agar terasa berarti kembali”

Ekhm kapan lulus? kapan wisuda? kapan kerja? kapan nikah? beberapa kalimat yang terus menerus menerjang ke kuping kiri ku tetapi keluar juga lewat kuping kanan 🙂

Sabar dan tetap berjuang, adalah modal dalam menerima setiap kalimat yang sebenarnya sedikit tidak aku harapkan dan kalau bisa aku hindari, tapi…..Semua itu adalah semangat dan pemicu bagi diri ini agar aku bisa menyegerakan satu persatu tujuan hidup kebanyakan orang. Apa itu tujuan hidup kebanyakan orang? yah…yaitu adalah lahir, sekolah, lulus, kerja, nikah, mati. Yah begitulah siklus hidup singkat sesosok manusia gamblang.

Tak mau hanya stagnan dalam mengarungi bahtera hidup seorang diri alias jomblo menyepi, so aku mencoba memberanikan diri tuk memilih keluar dari zona nyaman lagi. Setelah tutup teori dengan IPK ehmm… lumayan nggak cumlaude tapi kemelut, aku memberanikan diri “alias memaksakan diri” tuk mendaftar menjadi asisten dosen. Sebelum mendaftar menjadi asisten, sebelumnnya aku konsultasi dengan teman yang sudah menjabat menjadi asisten lebih dulu dan pastinya juga konsultasi kepada Allah SWT agar diberikan pilihan dan petunjuk yang benar. Setelah konsultasi dan mendapatkan pencerahan, akhirnya aku memutuskan mendaftar menjadi asisten, dan apakah kalian tahu? aku hampir mendaftar di setiap matakuliah yang membutuhkan asisten.

Matakuliah hidraulika 1, analisis struktur statis tak tentu, desain pelat & balok beton, desain portal beton tahan gempa, perancangan gedung dan manajemen proyek.

Aku berfikir toh kalau diterima semua juga nanti aku akan bebas memilih mana matakuliah yang akan aku ambil. Dari 6 matakuliah yang aku pilih, hanya 4 matakuliah yang aku ikuti tes ujiannya, dan dari 4 matakuliah tersebut hanya 3 matakuliah yang diterima yaitu desain pelat & balok beton, desain portal beton tahan gempa dan perancangan gedung. Dari awal memang aku niat banget tuk menjadi salah satu asisten dari 3 matakuliah tersebut. Setelah dikontak pihak jurusan, akhirnya aku memantapkan diri tuk memilih matakuliah perancangan gedung. Aku memilih menjadi asisten PG (Perancangan Gedung) karena aku pikir dengan menjadi asisten PG akan lebih menantang dan disitu aku akan banyak belajar tentang desain gedung dengan model yang bermacam-macam. Finally, tiba aku harus menjadi asisten matakuliah PG pertama kali dengan hanya bermodalkan ilmu-ilmu yang seadanya dan ilmu yang didapatkan di masa kuliah sebelumnya.

Tak hanya disitu, aku sekaligus menjadi asisten dosen pembimbing Tugas Akhir ku sendiri yaitu Bapak Harsoyo. Nah….awalnya aku milih dosbing beliau adalah kemauanku sendiri. Awalnya aku ingin Tugas Akhir tentang manajemen proyek, tapi apa daya aku bukan pilihan, dan akhirnya aku memilih TA tentang struktur. Karena sejak semester 8 dan 9 aku tertarik dengan baja, karena perilaku  dosennya yang rockable dan keren pokoknya seperti yang menginspiasi itu adalah Bapak Iman sayang bukan dosen UII tapi UGM, Bapak Hariadi, Bapak Suharyatma dan pastinya Bapak Harsoyo. Dari situ akhirnya aku memilih TA tentang redesain struktur baja. Berhubung di kampus ku yang aku tahu ada 3 dosen yang berkecimbung di struktur baja yaitu ada Bpk. Harsoyo, Bpk Suharyatma dan Bpk Hariadi, maka saya memilih Bpk. Harsoyo. Pertimbangan aku memilih beliau adalah:

1. Bpk. Suharyatma, memang beliau juga ahli struktur baja, tetapi alangkah lebih cocok lagi jika kasus TA ku adalah struktur jembatan, sedangkan yang menjadi kasus ku adalah struktur portal, dan Bapak Harsoyo salah satu dosen yang pernah membimbing mahasiswa TA tentang redesain gedung portal baja

2. Bpk. Hariadi, beliau memang masih muda dan sangat enak sekali diajak berdiskusi walaupun hanya lewat message/WA, tetapi beliau saat itu belum bisa membimbing mahasiswa

3. Bpk. Harsoyo, aku memilih beliau karena waktu konsultasi dengan beliau sudah terjadwal yaitu setiap selesai shalat subuh dirumah beliau pada hari kerja kecuali Sabtu & Ahad. Sehingga aku mencoba meminimalisir istilah “nunggu dosen” buktinya sampai sekarang aku jarang sekali “nunggu dosen” malah dosen yang nunggu aku dirumahnya 🙂

Dengan pertimbangan tersebut, aku “bismillah” semoga pilihan memilih Bapak Harsoyo sebagai dosbing TA adalah jalan yang benar, apabila tersesat pun, setidaknya tersesat dijalan yang benar, apabila tak bisa menangkap ilmu beliau pun, setidaknya menangkap adanya hidayah dari beliau. Yah….dan sampai sekarang selama beberapa bulan berjuang hanya untuk mengurus proposal yang seharusny hanya 40 halaman, tetapi dengan beliau bisa dapat 110 halaman. Dari situ aku dapat hidayah…..yaitu: bangun subuh setiap hari untuk bimbingan jangan sampai ngantuk menghalangi tuk menjad berarti

Lanjut ke PG (Perancangan Gedung)…..Karena aku mengampu kelas ngulang, jadi memang agak ribet, beberapa ketentuan perancangan harus aku tentukan sendiri, aku desain denah sendiri, beberapa kali salah desain, karena setelah dikonsultasikan desainku agak sedikit menyimpang. Si bapak  juga minta aku tuk mengikuti peraturan baru yang ada, ditambah dinding geser di antara lift. Nah Loh dulu jamanku PG ku simple banget, yah namanya juga belajar jadi memang oleh dosen dimudahkan. Tetapi, ini beda, klo bisa pun desain benar-benar nggak cuma sekali jadi tapi harus diulang-ulang sampai syarat desain memenuhi. Nih PG udah seperti Tugas Akhir aja nih, bener-bener mirip tugas akhir, lah bisa jadi megang dua tugas akhir nih…dududu

Proposal gimana? alhamdulillah lancar….meskipun baru di ACC, tapi ACC proposal oleh bapak harsoyo merupakan anugerah terindah yang pernah aku alami. Bagaimana tidak setiap bimbingan di pagi-pagi buta, ditanyain ini itu, sampai-sampai sepertinya bapaknya bosan liat aku bolak-balik rumah bapak berbulan-bulan dan tanpa disadari langsung di ACC. Yeeeee…..

Segera aku selesaikan proposalku lalu aku upload ke web KP-TA sipil UII. Setelah itu segera aku menemui bu Wiwik “THE MOTHER OF STUDENTS” (alias karyawan di akademik & kuncinya urusan akademik) hanya mau bilang “bu proposal saya di ACC bapak Harsoyo keren kan?”

Lanjut PG……………..krikkrikkrikkrikkrik, bener-bener mandi keringat, pada saat pertemuan awal aku mengajar. Awalnya mahasiswa yang aktif mengikuti asistensi ada 27an hingga akhirnya yang aktif sekitar 3 – 6 orang,,,,dududu…ini mahasiswanya ndak ada semangat belajarnya huuuuuu. Klo ini kelas TPA (Taman Pendidikan Alquran) aku pengen ngumumin pakai mic dan berkata “Teman-teman, yang masih berada dirumah, kost, kontrakan, segera ke kelas untuk asistensi PG, sekali lagi…..teman-teman….” Sayang sekali kampusku bukan TPA :(. Akhirnya aku pun mencoba menyemangati mereka setiap masuk kelas…apa yang susah aku bantu, apa yang menjadi pantangan aku bantu…karena yang aku ajar adalah mahasiswa, dan aku pernah diposisi mereka dulu. Dan jujur ketika aku menjadi mahasiswa yang aktif kuliah, aku itu haus akan ilmu, jadinya aku rakus dengan ilmu, dengan begitu aku mulai bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu…aku harap mahasiswa atau teman-temanku ini haus juga akan ilmu, bukan hanya memikirkan nilai terus lulus begitu saja.

Yah begitulah kisah singkat yang sedang berlangsung ini, menjadi asisten itu susah-susah gampang, senangnya klo ngajar itu lancar, mahasiswa banyak yang aktif dan mahasiswa paham akan materi yang disampaikan. Tugas Akhir juga begitu susah-susah gampang, senangnya kalau aku bisa menjawab pertanyan dosbing dan mendengar kata ACELOLE sekelagi eh ACC maksudnya hehe.

Hati yang Menyendiri

“semisalkan aku menikah nanti apakah aku bisa menjadi aku yang seperti biasanya?”

Setelah aku tahu bahwa Islam melarang untuk pacaran tetapi sangat menganjurkan untuk menikah, aku mulai tertarik dengan istilah menikah, wanita sholehah, ta’aruf, mas kawin, adab interaksi antar lawan jenis dalam Islam, hak-hak suami istri, mendidik anak dan semua tentang pernikahan dan keluarga. Terkadang aku semangat sekali untuk menikah, aku yakin bahwa aku bisa menikah diusia yang terbilang muda, tetapi terkadang harapan itu redup seiring waktu yang terus berputar. Karena aku belum mempu dalam segi waktu dan harta, aku selalu mencari celah untuk meredupkan harapan yang sangat indah itu. Kalau dulu aku habiskan waktuku dengan bermusik, berkarya dan kumpul dengan teman-teman musik, kini aku habiskan waktuku dengan kesibukan kuliah, belajar membaca bahkan kegiatan sosial diluar seperti kegiatan dakwah, kumpul dengan temna-teman komunitas dakwah, futsal, memanah, olahraga dan terkadang menulis seperti ini. Dari semua pengisi waktu luangku tersebut aku berharap aku menemukan celah nikmat hidup sebagai manusia yang masih saja dilanda kegalauan. Yah ada yang mengatakan obat mujarab pengusir galau itu adalah dengan menikah, tidak hanya aku saja, bahkan semua para jomblo beriman pasti ingin menikah, tapi menikah itu tidak mudah, niat harus lurus, ada jaminan, visi misi telah jelas, siap menanggung semua akibatnya, melihat kondisi dan situasi keluarga, dll. Melihat persyaratan menikah itu memang menakutkan, seperti kita harus dihadapkn dengan sebuah pilihan yang menentukan benar atau salah, jika gagal, maka habislah sudah.

Contohnya beberapa hari yang lalu aku membaca berita seorang istri yang dibunuh oleh suaminya karena sakit hati kepada istrinya yang selalu merendahkan suami karena masalah perbedaan penghasilan dan masalah ekonomi keluarga. Padahal mereka adalah pasangan muda tanpa pacaran, tetapi langsung memulai dengan proses pernikahan. Tapi ada juga berita yang pasangannya dibunuh karena ada hubungan misterius di luar pernikahan. Setelah mengetahui berita tersebut aku menyimpulkan bahwa berpasangan itu membahayakan, berpasangan itu membunuhmu layaknya iklan rokok? apakah demikian? tidak menjamin sebelum menikah ataupun setelah menikah?

Ya Allah aku sangat sedih, mungkin aku atau semua takut bahwa standar hidup kita karena dunia, karena uang, yah karena sudah begitu sistemnya hidup didunia, tidak ada money maka go away…padahal seandainya kita semua mendekatkan diri kepada Allah, pasti semua ada jalan, hati akan tenang dan akan saling mengalah, selalu ada keputusan terbaik karena ada Allah yang terlibat dalam setiap urusan. Aku takut jika tidak demikian, karena aku sendiri terkadang masih sedih, masih merasa bahwa kasih sayang Allah itu belum sampai ke diri ku, masih merasa bahwa Allah belum memaafkan dosa-dosa ku. Padahal aku sudah mencoba dan berusaha agar aku dapat mampu menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya, akan terus mencoba dan tidak akan berhenti. Karena, cinta Allah apabila sampai ke kita, hati kita selalu tenang, meskipun dilanda musibah pun, hati kita masih tenang, setidaknya mulut masih dapat tersenyum dan mengucapkan alhamdulillah

~SEKIAN~

Musafiriina Indonesia fii Malaysia

Alhamdulillah pada bulan september 2017 lalu aku bersama 32 teman dari Indonesia diizinkan untuk bisa hadir sebagai tamu atau delegasi di negeri tetangga yaitu Malaysia. Kita mengikuti sebuah conferensi bertemakan tentang Problematika dalam perspektif Keislaman yang diadakan oleh AFSEC bekerjasama dengan Jama’ah Shalahudin dari Universitas Gadjah Mada.

Aku, Arif, Krisal, Haidar dan Arina. Kita berlima berangkat bersama dari International Airport Adisucipto Yogyakarta. Ini baru kali pertama kali kita dipertemukan dalam perjalanan panjang. Sebelumnya aku telah mengenal Krisal dan Haidar karena mereka berdua adalah partner tim dalam conference ini, sedangkan aku baru saja mengenal Arif dan Arina di bandara. Kita berlima memang sudah berencana berangkat dengan pesawat yang sama dari jauh hari, tetapi komunikasi kita hanya melalui via group whatsapp.

Sampai di Kuala Lumpur, Malaysia…mimpi ini menjadi kenyataan, karena sebelumnya aku berniat sebelum menikah dan lulus nanti, aku ingin ke luar negeri mencari pengalaman dan relasi, setidaknya aku tahu bagaimana prosedur mengurus ini dan itunya sampai tetek bengeknya untuk bisa ke luar negeri dan itu mimpiku nanti bersama istri untuk bisa memulai sebuah perjalanan panjang, amin. Kembali ke Malaysia, yah meskipun hanya negara seberang, tapi ini pertama kalinya aku menjajaki negeri orang, baru pertama kalinya mengantre di antrian panjang saat tiba sebagai warga negara asing, dan pertama kalinya menjadi turis di negeri melayu ini hehe.

Ada hal yang luar biasa ketika aku dalam perjalanan menuju hotel di Kuala Lumpur, aku melihat sebuah baliho besar iklan produk kecantikan dan yang menjadi luar biasanya adalah model iklan tersebut adalah wanita bercadar, wow, aku kagum, karena sebelumnya aku belum pernah menemukan iklan sejenis di Indonesia.

Yah, yang jadi pertanyaannya adalah, bahwa negara Malaysia adalah negara dengan penduduknya  mayoritas beragama non Muslim, sedangkan Islam hanya 40% disini, tapi negara ini masih menganut sistem kerajaan seperti kekhalifahan Islam dan proses hukumnya yang masih menganut hukum Islam. Meskipun kerajaan dipisahkan dengan kebijakan politik, tetapi negara ini bisa berjalan semestinya sebagai sebuah negara yang sama dengan Indonesia yaitu sebagai negara Islam.

Sesuatu lain yang membuat aku terheran-heran adalah, dimana ini pemilik mobil avanza? hehe ternyata hampir tidak ada mobil yang sedang trend di Indonesia karena harganya yang terjangkau itu. Ngomongin transportasi nih, sebenarnya pengguna kendaraan pribadi di Malaysia tidak jauh berbeda dengan di Indonesia, hanya saja mungkin merek mobil yang berbeda dan jarang sekali yang menggunakan motor. Sistem transportasi di Kuala lumpur, Malaysia sendiri sudah bisa terbilang maju, dan aku adalah orang yang sangat menyukai infrastruktur yang sangat maju. Bagaimana tidak, perkembangan transportasi di Kuala Lumpur, Malaysia lebih maju dibandingkan Ibukota sendiri di Indonesia. Tersedianya MRT (Mass Rapid Transit), LRT (light Rapid Transit), BRT (Bus Rapid Transit), GoKL, sepeda umum dan mungkin masih banyak lagi, semua tersedia disini.

Kedatanganku ke Kuala Lumpur langsung dimanjakan dengan tersedianya transportasi umum tersebut. Penggunaannya pun cukup mudah, kita hanya membeli tiket di sebuah mesin layaknya mesin ATM, besar biaya menyesuaikan dengan tujuan yang akan kita tuju, bisa juga membeli tiket di counter, tetapi harganya agak sedikit lebih mahal.

Selama 4 hari di Kuala Lumpur aku beserta 32 delegasi dari Indonesia lainnya mengikuti agenda yang sudah di rencanakan oleh panitia. beberapa tempat bersejarah, maskot negara dan museum Islam menjadi tujuan perjalanan kita hingga di hari terakhir kita harus mempresentasikan Paper kita di hadapan teman-teman dan para dosen International Islamic University of Malaysia.

22046609_335354013592320_9172287711274963767_n
Aku dan tim saat mendapatkan penghargaan 2nd best of presentation – 2017

Aku melihat tower KL dan Petronas yang menjulang tinggi dari jendela hotel, aku tersenyum sendiri bisa singgah di negara yang sering rusuh dengan negara sendiri hehe. Yah, rasanya akan terasa lengkap jika aku pergi bersama seseorang yang spesial nanti, ah aku seperti kurang bersyukur dalam hidup, aku harus menikmati hidupku saat ini dan menikmati perjalananku bersama teman-teman baru di Kuala Lumpur dan berharap dapat memberikanku banyak insprisasi serta meredakan gundah yang sedang melanda.

Aku termasuk orang yang pendiam, kalau bicara sekedarnya saja tapi sudah bisa cerewet dengan orang yang sudah dikenal. Malam itu adalah tantanganku, pada sesi dinner, saat itu aku mengenal banyak teman dan orang-orang baru yang akan menjadi teman perjalanan selama 4 hari kedepan. Teman-teman yang luar biasa pastinya, sampai kita dipertemukan di negeri tetangga. Faris, Ipank, Kozin, Dani, Ghea, Mbak Gadis, Mbak Iin, Abi, Dena, Rara, Elsa, Fabi, Caca dan banyak lagi, mereka adalah teman seperjalanan yang begitu luar biasa selepas dari mengikuti berbagai agenda, kita semua masih saja menikmati perjalanan sendiri mengelilingi suasana malam di kota Kuala Lumpur, nekat naik MRT, LRT, dan bus super gratis yaitu GoKL.

Ada pada suatu malam kita nekat pergi ke Stadion Bukit Jalil, hanya untuk menghadiri undangan dari kontingen Indonesia di ASEAN PARA GAMES, karena pada saat itu juga wakil negara Indonesia mendapatkan juara umum. Wow, ini namanya bonus, tiket untuk masuk kesana semua adalah cuma-cuma alias gratis, kita semua berteriak INDONESIA!!! + TAKBIR!! tapi pelan-pelan takut dikira macam-macam hehe.

Sampai di hari terakhir agenda kita di Kuala Lumpur, kita dipertemukan lagi dengan teman-teman dari PPI (Persatuan Pelajar) dari Indonesia yang sedang menempuh studi di Malaysia. Kita bersama mengikuti perlombaan disana dan kita menjadi juara 1 tarik tambang International karena kejadiannya di luar negeri haha :D. Waktu menjelang siang, kita akan mengikuti konferensi yang menjadi andalan dalam iklan acara ini. Acara yang bertajuk ASEAN Islamic Student Summit akan berakhir setelah acara konferensi ini. Aku bersama krisal sudah menyiapkan materi dan latihan semalam, berhubung conversationku masih abal-abal, aku menyiapkan power point yang cukup menarik audience.

Akhirnya giliran timku maju mempresentasikan problem seputar Islam yang sampai saat ini menarik untuk diulas. Kita bertiga mengambil topik tentang dampak buruk media sosial dan cara Islam memberikan solusi dalam menghadapi permasalahan tersebut. Judul presentasi tim lain juga tidak kalah keren dan update, beberapa ada yang membahas soal konflik Israel-Palestina, ada yang membahas soal sukuk (obligasi), ada yang membahas ta’akhi, Islam dan pancasila, Islam di era globalisasi dan beberapa judul lain yang tidak aku duga, dan pertama kali mendengar istilah sukuk serta ta’akhi menjadi sebuah ilmu baru yang bagus untuk didalami.

Presentasi saat itu pun berakhir, kita semua harus kembali ke hotel untuk mengikuti acara terakhir, yaitu penutupan. Kita mulai menyampaikan kesan dan pesan selama perjalanan di negeri ini. Selama 4 hari, meski singkat, kita semua masih merindukan rumah, ingin sekali menceritakan seluruh perjalanan selama disini, jika tak mampu bercerita, setidaknya semua ini akan bermakna dan mengenang. Aku salah satu pelajar tertua dari beberapa yang ada, pelajar termuda adalah pelajar SMA. Sebagai yang tertua, meskipun belum sempurna, aku tetap memberikan semangat dan doa untuk teman-teman baru disini, tak terasa 4 hari itu membuat kita semua dekat, meskipun ada ego dan kesalahan yang terjadi, tetapi kita merasa bahwa selama 4 hari sungguh perjalanan sebuah umat yang luar biasa di negeri orang. Bayangkan setiap kita berjalan, rasanya ingin mengumandangkan takbir dan menunjukan ketauhidan kita, satu iman kita yaitu Islam, aku tidak akan ragu lagi dengan teman seorang muslim yang beriman dan berjuang untuk agama, keluarga dan bangsa. Mimpi kalian sangat hebat, masih muda semangat dalam berkarya, masih muda punya pandangan yang luas, aku ingin seperti kalian yang bermimpi tak terbatas.

22045711_335354270258961_7362380300073153307_n
bersama delegasi Indonesia

Bakrie mahasiswa asal Ambon (Kampung saya dulu hehe) yang luar biasa semangatnya dalam berdakwah dan mengejar cita-citanya yaitu memajukan Ambon dan sekitarnya (sudah kayak jam shalat haha). Aab mahasiswa UNDIP yang luar biasa kedermawaannya dan sifat kepemimpinannya nampak jelas, melebihiku yang 2 tahun lebih tua dari dia. Arif mahasiswa LNG yang luar biasa sholehnya, kalem dan selalu mengingkatkan ku untuk taat dan sabar, Krisal teman satu tim yang kece, meskipun dia lulusan pondok di Aceh, anak komunikasi ini emang memanfaatkan ilmu komunikasinya untuk berdakwah, Haidar mahasiswa UMY yang bersemangat untuk mendunia, dia juga lulusan pondok dan sangat bersemangat untuk selalu mengatakan takbir dimana-mana,  Faris mahasiswa UNPAD yang sangat energik dalam berdakwah dan mau membekali yang muda dengan ilmunya, kepemimpinan dan kepedulian nampak sekali pada dirinya, Fida dan Ipank si cowok keren yang dimana Fida lebih mirip sang vokalis band The Script * u know lah 🙂 dan Iphank “si bikers” yang lebih mirip Chrisye wkwk *ngawur. Si Kozin yang diam-diam ternyata diam-diam :)) *nggak nyambung. Si Danny yang diam-diam seperti kozin ternyata diminati oleh seorang ibu penjual ice cream di dataran merdeka :)). Si syahrul yang diam-diam selama perjalanan ternyata merekam kita dan membuat video yang kueeceee vrohhh :D. Mbak Iin yang sepertinya sedang menikmati masa jomblonya dan S2nya, semoga bisa menjadi S3(eStri) yang sholehah nanti hehe. Arina, Ghea, Denok, Dena, Maraya, Maria, Fabi, Elsa, Rara wanita muslimah yang sangat pemberani, berani pergi keluar negeri tanpa mahramnya itu kurang berani apa coba? hehe. Caca dan Tary a.k.a  Mbak-mbak sosialita muda yang fashionable dan sedang dalam tahap HIJRAH 2017 hehe, meski kadang cerewet dan banyak maunya, tapi melatih pria2 di sini untuk sabar dan siap menghadapi sang istri kelak, caelah wkwk. kang Abi yang lebih muda dan pantas aku tuakan karena ilmunya bukan lagi karena umurnya hehe, Mbak Gadis, Mbak Ibel, Mas Fahmi dan seluruh teman-teman seperjalanan yang luar biasa, thanks for that day. Mengajarkanku artinya kebersamaan dan ukhuwah, meskipun tidak terlalu saling kenal, meskipun hanya sebentar, tetapi kisah ini patut aku ceritakan kepada orang-orang diluar sana.

Semoga ukhuwah selalu ada, kita masih satu marga yaitu keturunan nabi Adam dan Islam. Akan aku kisahkan perjalanan singkat ini kepada teman, keluarga, istri dan anak-anakku kelak.

DCIM152MEDIA

 

THE KNOWLEDGE

Good malam kawan… 🙂 Salam

Sudah lama tidak menulis, kini aku hadir untuk kembali menulis beberapa curahan dan kutipan dari buku yang pernah aku baca. Kali ini aku lebih banyak mengkutip suatu tulisan maupun ucapan dari seorang ahli ataupun pakar keilmuan yang sangat cerdas, yaitu Ali bin Abi Thalib RA. Disandur dari sebuah buku berjudul “Rahasia Kecerdasan Ali bin Abi Thalib Si Super Genius” aku banyak belajar tentang kecerdasan manusia dari beliau. Bahwa manusia memiliki potensi akal yang sangat luar biasa. Allah menciptakan akal untuk  kita fungsikan dalam berpikir dan mencari jalan keluar dari suatu masalah. Dalam hal ini, kecerdasan sangat diperlukan untuk mengoptimalkan kinerja otak. Apakah kalian percaya dengan mitos bahwa manusia rata-rata masih menggunakan 10% otak mereka? dari artikel yang sudah pernah aku baca, belum ada pembuktian akan mitos tersebut. Tapi mitos ini bisa diambil hikmahnya sebagai pedoman kita bahwa kita harus lebih banyak berpikir dan bertafakur dalam memecahkan masalah keilmuan, teka-teki disekitar kita dan mencari kebenaran hidup, hingga fokus kita adalah mengoptimalkan kinerja otak hingga mencapai 100% berfungsi.

“tatkala kecerdasan beriringan dengan rahmat Allah SWT, maka kecerdasan itu dapat menerangi umat manusia. Pada saat ini, banyak juga orang-orang yang membuktikan kecerdasaannya yang diterangi dengan cahaya ilahi memberikan manfaat kepada alam semesta atau, menjadi rahmatan lil’alamin”.

Dalam buku yang aku baca tersebut, kecerdasan Ali Ra muncul karena beliau sangat mencintai ilmu, lebih lagi ilmu agama Islam. Selain itu, dalam mencari ilmu beliau belajar langsung dengan ahlinya, yaitu Rasulullah SAW dan para sahabat yang ahli dibidangnya. Beliau sangat menghormati gurunya dan terus mengulang-ulang ilmu serta fokus terhadap apa yang saat itu sedang beliau sedang pelajari hingga menjadi sangat paham. Salah satu rahasia kecerdasan Ali Ra adalah beliau sangat memuliakan ilmu, ia bagaikan amanah yang harus disampaikan, sehingga beliau terus mengamalkan  ilmu yang beliau dapat, kemudian mengajarkannya kepada orang lain. Ilmu yang diberikan kepada orang lain tidak akan berkurang seperti harta yang disedekahkan, tetapi ilmu tersebut malah akan bertambah dan akan menjadi pahala amal jariyah yang terus mengalir ketika orang lain juga dapat mengamalkannya dan mengajarkannya kembali.

“jika ilmu tanpa agama maka dia buta, jika agama tanpa ilmu maka ia pincang, tindakan tanpa moral sangat berbahaya. sebaliknya, moralitas tanpa ilmu juga menyesakkan”.

“ilmu adalah sebaik-baik perbendaharaan dan yang paling indah. Ia ringan dibawa namun besar manfaatnya. Di tengah-tengah orang banyak ia indah, sedangkan dalam kesendirian ia menghibur”.

“orang yang beramal tanpa ilmu, seperti orang yang berjalan bukan pada jalannya. Maka, hal itu tidak menambah jaraknya dari jalan yang  terang, kecuali semakin jauh dari kebutuhannya. Dan, orang yang beramal dengan ilmu, seperti orang yang berjalan diatas jalan yang terang. Maka, hendaklah dia memperhatikan, apakah dia berjalan ataukah kembali”.

Menikmati proses belajar dan bersabar dalam menuntut ilmu adalah salah satu dari sekian banyak faktor kecerdasan Ali Ra. Beliau begitu bersabar dalam belajar, bertafakur dan bertadabbur dalam mendalami sebuah ilmu. Beliau memprioritaskan hal yang paling penting dalam belajar dan bekerja, kemudian melanjutkan hal yang penting saja, maka jelas tidak ada pekerjaan yang  sia-sia yang beliau kerjakan/pelajari.

“janganlah engkau mencari cepatnya pekerjaan, tetapi carilah yang bagusnya. sebab, orang-orang tidak akan bertanya tentang berapa lama seseorang menyelesaikan pekerjaannya, tetapi mereka hanya bertanya tentang kualitas produksinya”.

“ilmu berhubungan dengan amal. ilmu memanggil amal. jika amal menyambut panggilannya, bila tidak menyambutnya ia akan berpindah tempat”.

“tidak ada penyakit yang lebih parah dan kefakiran dari kebodohan”.

 

Blog di WordPress.com.

Atas ↑