THE KNOWLEDGE

Good malam kawan… 🙂 Salam

Sudah lama tidak menulis, kini aku hadir untuk kembali menulis beberapa curahan dan kutipan dari buku yang pernah aku baca. Kali ini aku lebih banyak mengkutip suatu tulisan maupun ucapan dari seorang ahli ataupun pakar keilmuan yang sangat cerdas, yaitu Ali bin Abi Thalib RA. Disandur dari sebuah buku berjudul “Rahasia Kecerdasan Ali bin Abi Thalib Si Super Genius” aku banyak belajar tentang kecerdasan manusia dari beliau. Bahwa manusia memiliki potensi akal yang sangat luar biasa. Allah menciptakan akal untuk  kita fungsikan dalam berpikir dan mencari jalan keluar dari suatu masalah. Dalam hal ini, kecerdasan sangat diperlukan untuk mengoptimalkan kinerja otak. Apakah kalian percaya dengan mitos bahwa manusia rata-rata masih menggunakan 10% otak mereka? dari artikel yang sudah pernah aku baca, belum ada pembuktian akan mitos tersebut. Tapi mitos ini bisa diambil hikmahnya sebagai pedoman kita bahwa kita harus lebih banyak berpikir dan bertafakur dalam memecahkan masalah keilmuan, teka-teki disekitar kita dan mencari kebenaran hidup, hingga fokus kita adalah mengoptimalkan kinerja otak hingga mencapai 100% berfungsi.

“tatkala kecerdasan beriringan dengan rahmat Allah SWT, maka kecerdasan itu dapat menerangi umat manusia. Pada saat ini, banyak juga orang-orang yang membuktikan kecerdasaannya yang diterangi dengan cahaya ilahi memberikan manfaat kepada alam semesta atau, menjadi rahmatan lil’alamin”.

Dalam buku yang aku baca tersebut, kecerdasan Ali Ra muncul karena beliau sangat mencintai ilmu, lebih lagi ilmu agama Islam. Selain itu, dalam mencari ilmu beliau belajar langsung dengan ahlinya, yaitu Rasulullah SAW dan para sahabat yang ahli dibidangnya. Beliau sangat menghormati gurunya dan terus mengulang-ulang ilmu serta fokus terhadap apa yang saat itu sedang beliau sedang pelajari hingga menjadi sangat paham. Salah satu rahasia kecerdasan Ali Ra adalah beliau sangat memuliakan ilmu, ia bagaikan amanah yang harus disampaikan, sehingga beliau terus mengamalkan  ilmu yang beliau dapat, kemudian mengajarkannya kepada orang lain. Ilmu yang diberikan kepada orang lain tidak akan berkurang seperti harta yang disedekahkan, tetapi ilmu tersebut malah akan bertambah dan akan menjadi pahala amal jariyah yang terus mengalir ketika orang lain juga dapat mengamalkannya dan mengajarkannya kembali.

“jika ilmu tanpa agama maka dia buta, jika agama tanpa ilmu maka ia pincang, tindakan tanpa moral sangat berbahaya. sebaliknya, moralitas tanpa ilmu juga menyesakkan”.

“ilmu adalah sebaik-baik perbendaharaan dan yang paling indah. Ia ringan dibawa namun besar manfaatnya. Di tengah-tengah orang banyak ia indah, sedangkan dalam kesendirian ia menghibur”.

“orang yang beramal tanpa ilmu, seperti orang yang berjalan bukan pada jalannya. Maka, hal itu tidak menambah jaraknya dari jalan yang  terang, kecuali semakin jauh dari kebutuhannya. Dan, orang yang beramal dengan ilmu, seperti orang yang berjalan diatas jalan yang terang. Maka, hendaklah dia memperhatikan, apakah dia berjalan ataukah kembali”.

Menikmati proses belajar dan bersabar dalam menuntut ilmu adalah salah satu dari sekian banyak faktor kecerdasan Ali Ra. Beliau begitu bersabar dalam belajar, bertafakur dan bertadabbur dalam mendalami sebuah ilmu. Beliau memprioritaskan hal yang paling penting dalam belajar dan bekerja, kemudian melanjutkan hal yang penting saja, maka jelas tidak ada pekerjaan yang  sia-sia yang beliau kerjakan/pelajari.

“janganlah engkau mencari cepatnya pekerjaan, tetapi carilah yang bagusnya. sebab, orang-orang tidak akan bertanya tentang berapa lama seseorang menyelesaikan pekerjaannya, tetapi mereka hanya bertanya tentang kualitas produksinya”.

“ilmu berhubungan dengan amal. ilmu memanggil amal. jika amal menyambut panggilannya, bila tidak menyambutnya ia akan berpindah tempat”.

“tidak ada penyakit yang lebih parah dan kefakiran dari kebodohan”.

 

Iklan

Zona Nyaman

“Bagiku hidup adalah berkarya, sebab petualangan perlu dicetak menjadi karya. Meskipun itu sedang menangis atau tertawa. Semua menjadi sebuah karya. Sesuatu yang bisa dimanfaatkan olehku dan oleh orang lain. Selagi Tuhan masih memberiku waktu, berarti selama itu pula aku akan terus berkarya dan jika aku mati nanti, biarkan karya-karya itu menjadi warisan berharga generasi selanjutnya”

by Almarhum Aden EdAcoustic

 

sebuah kata-kata apik yang menggugah jiwa. Terutama bagi jiwa yang mulai kesal, hancur dan tak berdaya

Beberapa hari lalu aku menemui seorang ustadz yaitu ustadz Salman Al-Jugjawy ex-Sheila On 7. Pertemuan kami merupakan pertemuan yang tidak sengaja. Semua itu bermula saat aku mengajak seorang temanku untuk bersilaturahim ke rumah ustadz Salman Al-Jugjawy, karena pada saat itu masih suasana lebaran. Kita berdua berniat untuk bersilaturahim ke rumah beliau ba’da shalat ashar. Kita berdua berjanjian di suatu tempat dan tidak lama setelah aku sampai ditempat yang kita janjikan, aku mendapati sebuah SMS dari teman. Dia mengatakan bahwa dia tidak sengaja bertemu dengan ustadz Salman Al-Jugjawy di suatu masjid. Karena itu, aku langsung menuju ke masjid tersebut.

Kita berdua bertemu dengan ustadz Salman Al-Jugjawy. Kemudian, kita berdua berbincang-bincang bersama, meskipun aku yang banyak mengajukan pertanyaan dan keluh kesah, mungkin temanku satu ini belum mempersiapkan beberapa pertanyaan yang ingin diajukan, atau bisa jadi sedang nge-blank sangking nggak nyangkanya ketemu ustadz Salman. Aku bertanya banyak tentang sebuah karya. Karena aku dan ustadz Salman dulunya sama memiliki background musik, maka aku menanyakan hal tersebut. Ustadz Salman menjawab sangat gamblang, beliau merupakan ustadz yang bukan berada digaris keras, beliau masih menolerir akan sebuah karya tentang musik, tulisan, syair dan seni, asalkan semua itu tidak menjauhkan diri kepada Allah. Semua itu beliau tolerir karena beliau memiliki jati diri tentang seni dan tidak sedikit kawan-kawan lama beliau masih terjun di dunia seni, terutama musik. Hal itu juga sebagai alasan beliau bahwa, semua itu sebagai media silaturahim beliau kepada kawan-kawan lama, kawan-kawan di Sheila on 7, kepada kawan-kawan pecinta seni dan musik. Beliau sadar bahwa hidup beliau dulu sangat bergantung kepada seni, musik dan kawan-kawan seperjuangan beliau dulu.

Meskipun beliau sangat ingin meninggalkan itu semua, tetapi beliau sadar bahwa berkawan dengan siapa saja, apalagi sesama umat muslim, hanya saja pilihlah sahabat yang benar-benar bisa membawa kita kembali kepada Allah. Beliau mengatakan bahwa apabila kita ingin berkarya dengan musik, boleh saja, asalkan sebisa mungkin kita menghindari namanya konser. Karena di konser tersebut akan timbul namanya ikhtilat (berkumpulnya orang-orang yang bukan muhrim). Kemunculan beliau di ranah publik setelah memutuskan untuk hijrah dulu juga dilalui dengan memperkenalkan lagu yang mengajak kepada kebaikan. Tetapi, semua itu beliau lakukan tanpa konser musik. Pemasukan beliau hanya dari youtube dan ringtone saja. Saran beliau yang belum aku terpikirkan ini menjadi catatanku bahwa aku sebisa mungkin harus menghindari konser. Kesimpulannya bahwa kita yang benar-benar ingin berkarya melalui musik, tetapi untuk amannya akan lebih baik jika kita tidak mengadakan konser, karena menurut ustadz Salman, dengan tampil menunjukkan sesuatu, sama halnya kita sedang memperkenalkan kelebihan-kelebihan kita, dan itu membuat banyak pujian dan tepuk tangan audience/pendengar, yang mana semua itu dapat membuat hati kita riya dan ujub.

hmm…ya jujur saja, banyak dari kita yang menginginkan pujian, kepercayaan, reward, hadiah dan lainnya dari kebaikan dan keahlian kita. Kita harus berhati-hati dalam berbuat sesuatu, terutama saat berbuat suatu kebaikan. Allah akan menilai perbuatan/amal kita dari sebuah niat, doa dan usaha. Sungguh rugi, jika kita tidak bisa meluruskan niat dan melaksanakan amal kebaikan karena Allah.

Cerita Singkat….

Pada tahun 2016 aku off dari bermusik. Penampilan terakhirku di depan orang banyak adalah pada saat penampilan finalis lomba band di UII. Saat itu aku tampil sebagai pemain sequencer/midi controller. Pada saat itu juga adalah penghargaan terakhirku di kancah festival lomba band. Aku memutuskan untuk keluar, karena aku harus fokus untuk kuliah dan meningkatkan softskill ku dibidang lain, terutama di bidang Agama Islam. Aku mulai menjual alat musikku satu per satu, demi menghindari permainan musik. Aku bermusik karena ada pemicu untuk bermusik, yaitu alat musik, maka semua aku jual.

Meskipun semua alat musik aku jual, keinginanku untuk mendirikan studio rekaman masih ingin aku wujudkan. Tetapi yang awalnya aku berniat untuk mendirikan studio rekaman untuk lagu yang mengajak hidup bebas dan kurang baik, aku niatkan untuk ke hal yang positif. Aku ingin merekam banyak jejak dari setiap kebaikan. Memiliki studio rekaman tidak harus bagi seorang musisi, tetapi bagi siapa saja yang ingin berkarya untuk kebaikan dan syiar Islam. Aku ingin merekam suara orang-orang mengaji, suara adzan, suara alam dan beberapa lagu yang mengajak kepada kebaikan,. Bisa itu nasyid ataupun akustik, yang setidaknya lagu itu tidak membawa hentakan (beat) yang membuat para pendengar bergoyang.

Aku melihat peluang itu untuk berdakwah, tetapi lagi-lagi aku bingung. Niatku ini mulai dipertanyakan oleh kawan-kawanku yang kurang setuju tentang ideku. Pasalnya banyak yang mengatakan bahwa musik/lagu/nyanyian itu haram. Tetapi, juga tidak sedikit yang mengatakan boleh asalkan tidak melalaikan dari kewajiban. Karena merasa bimbang dan tidak ingin ambil pusing, apalagi pada saat itu aku sedang belajar agama Islam dan bahasa Arab, lebih baik aku urungkan niatku dan fokus untuk belajar. Setelah beberapa lama aku mengurungkan niatku, pelan-pelan aku coba untuk curahkan seuntai kehidupan dengan menuliskan sebuah lirik lagu. Aku coba untuk mengkomposkan menjadi lagu yang easylistening/enak didengar, kurangi hentakan, tetapi cukup menggugah jiwa. Bagiku lagu adalah sebuah media untuk mencurahkan sebuah isi hati kepada manusia. Hati manusia yang awalnya keras bisa menjadi luluh setelah mendengar lagu. Pastinya semua itu tergantung jenis lagu yang dibawanya. Sebisa mungkin liriknya bisa didengar oleh siapa saja dan bisa memberikan perubahan dalam hidup. Aku saat ini sedang mengomposnya, aku tidak sedang ingin berdiam diri, sibuk belajar, berpura-pura tidak melihat kondisi sekitar dan merasa bahwa diri ini cukup untuk diriku saja. Tetapi ingat, kita adalah manusia yang diberikan 5 indera, 5 keajaiban, ada istilah indera ke-6 yang bagiku adalah sebuah indera yang  dimiliki oleh tiap-tiap orang. Indera itu adalah di atas rata-rata manusia biasa. Manusia yang duduk diam menunggu uang mengalir datang tak memiliki indera itu. Kita harus keluar dari zona nyaman. Mencari langkah terbaik untuk berkarya, agar kita bisa meninggalkan jejak. Saat kita tidak lagi menginjakkan kaki diatas permukaan bumi, semua orang akan mengenang kita, melalu karya yang telah dibuatnya. Padahal jasad kita telah terkubur oleh media kita sendiri yaitu tanah, tempat kita akhirnya berbaring. Kita akan kembali hina lagi.

Berkaryalah, keluarlah dari zona nyamanmu…berkarya jangan diartikan ke hal yang sempit. Berkarya bisa apa saja. Peneliti berkarya dengan penelitian, seniman berkarya dengan lukisan dan patung, Penulis berkarya dengan tulisan, Wirausahawan berkarya dengan usaha/lapangan kerja yang didirikannya, Arsitek dan Ahli struktur berkarya dengan bangunan dan sebagainya. Asalkan berkarya dengan niat untuk kebaikan. Takmir masjid berkarya dengan mengadakan kegiatan dakwah Islamiyah dan mengajak sebanyak-banyaknya jamaah untuk berbondong-bondong berpartisipasi hadir. Berkarya itu sangat luas. Produktiflah, berbuatlah untuk orang sekitar, berpahalalah dengan berkarya, berbuatlah untuk dikenal karena karya yang baik-baik.

DON’T BE AFFRAID… AKU ADALAH SALAH SATU YANG BERSAMA KALIAN DALAM KARYA INDAH INI. MANUSIA ADALAH KARYA TERINDAH YANG ALLAH CIPTAKAN, DENGAN AKAL DAN RASA.

Sebuah Nasehat

myhome15Malam ini aku mendapatkan sebuah nasehat, meskipun tidak secara langsung, tetapi nasehat ini cukup menampar hatiku…

Bagi kta yg sedang dan mulai berhijrah….

Satu semester ini aku menyerah, menyerah belajar bahasa Arab tentang ilmu Sharaf. Aku beralasan, bahwa aku sedang mengambil banyak SKS, kuliah pagi dan banyak sekali deadline tugas. Selain itu, aku beralasan bahwa belajar bahasa Arab ilmu Sharaf itu cukup sulit. Sebenarnya semua itu bukanlah alasan yang tepat. Alasan yang paling tepat cukup aku dan Allah yang tahu. Aku bisa menyimpulkan bahwa aku tidak terlalu berniat untuk belajar bahasa Arab pada saat itu dan mulai mementingkan duniaku.

Aku merasakan bedanya, ketika aku mulai belajar agama Islam dengan aku yang saat ini, yang sebenarnya masih belum cukup dikatakan berilmu. Hati yang kotor ini masih belum dikatakan bersih. Aku yakin, masih ada penyakit hati yang belum terhapuskan. Penyakit hati itu muncul seiring imanku yang mulai melemah, seiring berkurangnya kualitas ibadahku, tidak seperti dulu pada saat aku mulai untuk belajar mengenal Rabb ku.

Aku malu, semakin banyak teman-temanku yg berhijrah, dan tidak sedikit dari mereka yang menanyakan tentang kajian serta majelis kepadaku, meminta saranku, dan sebagainya. Tetapi, andai mereka tahu, tidak 100 % hatiku hanya karena Allah, tidak seluruhnya aku curahkan kepada Allah. Menurutku, aku masih belum benar-benar berhijrah, belum benar-benar baik dan belum benar-benar Istiqomah. Entahlah, apa arti semua ini, aku hanya takut saja, was-was atas semua niatku untuk berhijrah. Takut hijrahku hanya sementara, hanya sekedarnya dan belum maksimal. Bisa jadi, mereka yang menanyakan itu semua kepadaku, lebih baik, lebih ikhlas dan lebih Allah cintai dari pada diriku.

Gagalnya aku melanjutkan bahasa Arab, merupakan salah satu bukti bahwa aku masih belum Istiqomah dalam berilmu. Aku sendiri bukan orang yang rutin mengikuti kajian. Aku masih sering mementingkan urusan pribadi dibandingkan belajar agama. Aku masih merasa agak sulit untuk membagi waktu antara ibadah dan urusan dunia. Aku masih memiliki kelemahan untuk terus Istiqomah. Aku hanya ingin beberapa orang mengerti, bahwa aku tidak sebaik-baik yang dibayangkan, tetapi juga tidak seburuk yang dibayangkan, hanya saja meluruskan, bahwa kualitas hidup ini ada kalanya baik adakalanya turun. Adakalanya kita semangat untuk beribadah , ada juga saat dimana iman kita sedang melemah. Setidaknya, semalas-malasnya orang yang beriman, mereka masih tetap berada dalam kebaikan.

Allahua’lam bishawab

Music in your life or Music is your life?

26722-huntington-piano-1366x768-music-wallpaper

Aku tidak mengatakan aku adalah penyuka musik, tidak juga pandai dalam bermusik, bahkan aku tidak mengatakan bahwa aku adalah musisi. Aku hanyalah manusia yang mau tidak mau, suka atau tidak suka harus mendengarkan musik. Mereka yang menganggap musik itu baik mengatakan bahwa musik terdengar kurang menyentuh jika didalamnya tidak terdapat suatu syair, dan syair yang dibacakan akan terdengar kurang syahdu jika tidak dibarengi dengan musik yang mengalun lembut bagai lembayung. Siapa yang tidak pernah mendengarkan musik? Hampir semua orang pernah mendengar dan menikmati musik, karena dalam kehidupan ini musik begitu mendominasi, apa yang kita dengar itu adalah musik, meskipun bukan musik pada umumnya yang selalu berkaitan dengan suara gitar, drum, piano, terompet dan sebagainya. Tetapi suara-suara alamiah disekitar kita adalah komposisi musik yang indah, itulah penafsiranku, aku sendiri menyebutnya dengan suara alam atau authentic voice (suara asli yang muncul secara alamiah).

Dari suara yang kita dengar itu memiliki suatu nada, yang sangat bervariatif. Misalnya saja kita mendengar suara bisingnya knalpot motor di jalan, suara knalpot itu walau pun suaranya bising, dia memiliki nada tersendiri. Sayangnya, hanya beberapa orang yang dianugerahi kemampuan khusus oleh Allah yang bisa menebak nada dari suara-suara itu. Kemampuan khusus sekaligus luar biasa itu biasa disebut dengan absolute pitch (pandai dalam menebak nada), absolute pitch adalah orang yang dianugerahkan memiliki ke spesialan dalam menebak nada dari suara yang dia dengar, konon dari buku dan literasi tentang musik yang pernah aku baca, bahwa orang yang memiliki bakat absolute pitch di dunia ini bisa dihitung dengan jari atau bisa jadi sangat sedikit, contohnya saja yang aku ketahui adalah pemusik di era abad ke 16-18 yaitu Beethoven dan pemusik di era 19-20 adalah Jordan Rhodes. Entah itu hasil penelitian dari pakar musik atau bisa jadi mereka menganggap bahwa dirinya absolute pitch, pasalnya absolute pitch itu adalah manusia yang masuk dalam kategori luar biasa, dia bisa jadi mampu memainkan beragam alat musik, sekaligus bisa menciptakan alat musik dan pola musik yang sangat bervariatif dan untuk memperoleh bakat luar biasa itu adalah bisa  dari lahir ataupun bisa dikembangkan sendiri dengan latihan rutin dan berulang.

Mungkin teman-teman pernah menonton film “August Rush” dalam film tersebut mengisahkan seorang anak yang memiliki bakat luar biasa yaitu Absolute pitch. Dalam usia yang masih muda, August Rush bisa menjadi seorang komposer dan conductor yang berbakat memainkan segala macam alat musik. Meskipun film tersebut hanya fiktif belaka, tetapi begitulah kenyataannya bahwa orang yang memiliki bakat dalam absolute pitch seharusnya bisa jadi orang yang besar dimusik. Tak semua orang yang memiliki bakat ini adalah musisi, bahkan rata-rata musisi bukan berarti mereka adalah absolute pitch. Beberapa musisi bahkan diharuskan tidak buta nada, tetapi mereka yang mengerti tentang nada pun bukan disebut dengan absolute pitch, karena kebanyakan musisi meskipun bisa menebak nada, tetapi tidak semua mereka bisa menebak nada dari suara apapun, mungkin mereka hanya bisa menebak nada dari pola dalam nada, beberapa nada mayor dan minor, ada yang beberapa mampu menebak dengan syarat nada tersebut bentuknya jelas (bukan suara-suara alam), bahkan mereka menebak nada dengan perasaan dan pengalaman dari nada yang pernah dia mainkan, dan beberapa juga harus menyentuh alat musik dahulu baru bisa menentukan nadanya. Begitulah aku…aku pun yang sampai sekarang masih menikmati musik, masih belum mampu menebak nada dengan benar dari suatu lagu, aku harus meraba-rabanya dulu di alat musik piano, yah hanya piano.

Kecintaanku kepada musik tidak melebihi kecintaanku kepada Sang Maha Pencipta, Allah SWT. Karena Dia lah yang menciptakan apa-apa di dunia ini dengan suara. Teori alam BIGBANG…terbentuk karena suara meledaknya atom hingga menjadi partikel-partikel alam semesta. Maka sungguh indah jika kita bisa memanfaatkan suara ini menjadi suatu yang bermanfaat dan bertujuan untuk mengagungkan akan kebesaran Allah SWT. Menurut beberapa pakar ahli bahwa suara yang paling indah didengar di muka bumi ini ada 2, yang pertama adalah suara alamiah air sungai dan suara lantunan ayat suci Al-Quran. Menurut pendapat ini memang jelas, bahwa dijelaskan dalam Al-Quran, dibeberapa ayatnya bahwa di Surga akan ada air sungai yang mengalir yang berwarna jernih, maka tak jarang mereka yang bermeditasi dan therapy diri memilih objek yang terdapat sungai disekitarnya, selain itu Allah memerintahkan kepada umat Islam untuk membaca Al-Quran dengan bacaan yang indah, sehingga muncullah teknik nada dalam membaca AL-Quran atau biasa kita sebut dengan tilawah. Beberapa penelitian juga membuktikan bahwa mendengarkan dan membaca lantunan ayat suci Al-Quran membuat seluruh diri dan hati kita tenang, dengan penelitian yang lebih rinci bahwa ada partikel-partikel energi yang bergerak menjadi teratur/sesuatu yang lain pada saat dilantukan ayat suci AL-Quran, misalkan saja pada air yang diucapkan ayat kursi ataupun ayat dari Al-Quran lainnya.

Aku pertama kali mempelajari musik ketika duduk dibangku kelas 2 SMP. Alat musik yang aku pelajari hingga sekarang adalah keyboard dan piano. Aku pernah belajar gitar otodidak, tetapi karena sudah lama tidak memainkan alat tersebut jadi mulai agak lupa. Hingga sekarang alat musik piano lah yang menjadi andalanku dalam bermusik. Sejak kecil aku sudah sering menyanyi, kadang-kadang berduet sepanggung dengan Ayah ku. Karena Ayahku adalah salah satu dari keluarga yang suka bermusik. Ayahku dulu adalah personil dari kelompok keroncong di Jember. Beliau hampir tiap malam senin on air di radio RRI Jember. Ketika aku ada waktu luang aku selalu menemani Ayahku latihan dan siaran. Tidak jarang juga setiap malam minggu, di tempat tinggalku selalu ada acara kumpul dengan warga sekitar, kegiatannya adalah bermusik dengan organ tunggal, aku dan ayahku adalah salah satu penyumpang lagu pada saat itu. Ayahku juga belajar beberapa alat musik, beliau pandai bermain keyboard, gitar dan sempat belajar biola. Bagi Ayahku musik adalah hobbynya, ayahku mengatakan bahwa musik itu bisa menenangkan pikiran dan bikin awet muda. Aku pun melihat buktinya sendiri, Ayahku sampai sekarang masih diberikan kesehatan dan semangat oleh Allah SWT dalam berkarier, karya dan mengurus keluarga.

Aku pun  mencoba mengikuti jejak Ayahku. Setelah pindah dari Jember menuju Yogyakarta, aku mulai mengembangkan bakat musik dalam diriku. Aku mulai belajar rutin piano pop dan membentuk grup band, hingga akhirnya dapat merasakan beberapa kali juara. Selain itu aku bersama teman-teman juga menulis lagu hingga lagu kami terdengar di beberapa radio di Yogyakarta, dan sempat membuat sebuah videoklip bersama teman-teman media. Setelah beberapa tahun disibukkan dalam bermusik, aku memutuskan untuk rehat dan membenahi diri terlebih dahulu. Karena pada saat itu manajemen waktuku mulai tidak terkontrol, yang disibukkan diband, marchingband dan kuliah, sehingga aku memutuskan berhenti dari semua kegiatan bermusik. Butuh waktu untukku me-recovery semuanya dari pemikiran tentang musik, tujuanku pada musik dan harapanku kepada musik. Bagi kebanyakan umat muslim termasuk aku sendiri ragu akan kebenaran mendengarkan serta memainkan alat musik, karena musik dalam Islam itu menjadi suatu yang  haram. Tetapi nyatanya sampai sekarang masih ada ustadz/kiai yang membolehkan dalam memainkan dan mendengarkn musik, dengan tujuan jelas dan mengajak kebaikan. Mereka punya alasan tersendiri mengapa masih membolehkan mendegarkan dan memainkan alat musik. Tidak semua apa yang kita persepsikan tentang temannya musik adalah wanita, khamr, hiburan dan sebagainya yang dilarang oleh Allah, Allhua’allam. Semua itu kita serahkan kepada yang Maha Tahu Segalanya, karena di zaman Rasullah pun musik masih  ada yang diperbolehkan dengan beberapa syarat syar’i dan kondisi syar’i pula.

Sebenarnya metode dan pola dalam musik itu yang menemukan pertama kali nya  adalah ilmuwan Muslim lho, dia adalah Al-Farabi. Al-Farabi adalah pakar berbagai disiplin ilmu, salah satunya adalah teknik musik. Dia menciptakan kitab Al-Musiqa, yaitu sebuah buku tentang musik. Hingga akhirnya Islam tenggelam dan Kekhalifahan runtuh, orang-orang Eropa mulai menulis namanya diatas sebagai penemu musik, alat musik, teori musik, teknik musik dan segalanya tentang musik. Hingga sampai saat ini, pemusik-pemusik bersejarah yang kita kenal masih berasal dari bangsa Eropa seperti, Bach, Bethoven, Mozart, dan sebagainya.

Hari ini adalah hari terakhir di tahun 2016. Pastinya banyak sekali ritual-ritual bangsa barat dalam merayakan tahun baru. Seharusnya kita tahu betul, sebagai umat muslim bukan berarti tahun baru adalah sesuatu yang harus diagung-agungkan. Jika kita merasa pergantian tahun baru adalah moment yang sangat penting, mengapa tidak kita ubah dengan suatu kegiatan yang bermanfaat, sekaligus tidak mengikuti budaya-budaya non muslim. Budaya umat non muslim dalam merayakan pergantian tahun baru contohnya adalah meniup alat musik terompet, jadi bagaimana jika cukup hari ini saja kita berhenti meniup alat musik terompet, setelahnya kita bisa meniup alat musik terompet. Karena dikhawatirkan jika kita mengikuti kebiasaan mereka ditahun baru ini akan menjadi suatu tasyabbuh (menyamai umat non muslim). Aku pernah iseng bertanya dengan temanku yang beragama nasrani, “ bro apa sih bedanya Kristen dan katholik dalam hal bermusik”, dia langsung menjawab begini “kalau Kristen/Kristen protestan itu bermusiknya sangat syahdu yaitu hanya menggunakan alat musik semacam organ, sedangkan kalau katolik/Kristen katolik itu dalam hal bermusik lebih modern, dengan mengusung sebuah band”. Hmm sudah menjadi suatu yang harus bagi umat Kristen dan katolik untuk mengenal musik, bedanya dengan umat muslim itu tidak harus…malah umat muslim ditekankan untuk mendengar dan memainkan nyanyian tanpa alat musik dan masih ada beberapa syarat-syarat syar’i lainnya yang tidak mungkin aku bahas satu persatu sekarang hehe.

Jadi dimana kedudukan musik dalam hidup kalian? apakah musik adalah yang mendominasi seluruh hidupmu? atau hanya salah satu bagian dalam hidupmu? atau tidak sama sekali?

Mungkin begitulah sedikit ulasan musik yang aku rangkum dari apa yang pernah aku baca, dengar dan aku tahu. Yah sudah selesai teman-teman baca tulisanku hari ini, semoga bermanfaat bagi teman-teman sebagai penambah info dan penulis juga butuh pencerahan serta comment dari teman-teman sekalian terhadap pemikiran dan pengalamanku ini.

Akhiru Kalam 🙂

The Change of My Life (Hijrahku)

Assalamualaikum…

Alhamdulillah tepat seminggu yang lalu aku mendapatkan suatu apresiasi yang luar biasa dari panitia penyelenggara JAFANA FAIR 2016 di kampus UII. Tulisan tentang hijrahku mendapatkan tempat diurutan kedua sehingga mau tidak mau saat itu aku harus menghadiri acara Talkshow yang diisi oleh Caesar Aditya mantan artis YKS (Yuk Kita Sahur) yang ada slogannya buka sithik joss hehe

Bagiku Apresiasi ini bukanlah menjadi tolak ukur prestasi, karena apa…karena aku menyebut diriku sebagai pemenang lomba menulis aib diri sendiri, ya kok dibanggakan hhehe. Hampir saja aku mau menceritakan semua perjalananku dari sisi buruk(Darkside) menuju sisi terang(lightside). Tetapi, tidak semua aib harus diceritakan selagi Allah sedang menjaga aib itu sendiri, maka dari itu kita diberi kesempatan oleh Allah untuk memperbaiki/berubah .  Sebetulnya ini hanya sedikit perjalanan hidup manusia yang sebenarnya masih ada yang lebih luar biasa dan inspiratif selain ini.

Aku akan terus belajar dan belajar, karena bagaimanapun yang tejadi saat itu adalah kehendak Allah. Apresiasi ini bisa menjadi peringatan bahkan ujian, agar aku terus beristiqomah dalam menyebarkan kebaikan dan dakwah.

Untuk postingan saat ini, aku akan memposting hasil tulisan hijrahku pada saat lomba menulis hijrah yang diadakan oleh JAFANA FPSB UII lalu, dan harapannya semoga kita semua bisa mengambil hikmah dan memotivasi teman-teman/pembaca untuk berbuat positif, minimal di lingkungan keluarga kita. Bismillah…..

Berawal dari hati, semua tergerak karena hati, mencoba ikhlas menjalani semua karena Allah SWT…

Awal mula (Prolog)….

Saat itu pukul 17.30 dan adzan maghrib di Jogja pukul 18.00, sedangkan penampilan bandku adalah pukul 18.30, tersisa satu jam untuk mempersiapkan apa yang perlu aku siapkan sebelum perform, dari pada membuat teman-temanku khawatir karena menungguku, aku lebih dulu berangkat ke tempat acara dari pada aku menunggu dirumah hingga adzan maghrib tiba. Aku tiba di Padmanaba, disini lagi-lagi diundang sebagai pengisi acara, entah yang ke berapa kalinya aku mengisi pensi yang diselenggarakan SMA ini, mungkin sudah yang ke 5 kalinya atau mungkin lebih. Seperti biasa sebelum naik panggung, untuk menghilangkan kecemasanku sebelum perform aku harus menenangkan diriku, menenangkannya cukup dengan merilekskan diri, berpositif thinking bahwa penampilan malam ini akan sukses. Aku mulai berbaur dengan teman-temanku, sedikit bercanda dengan gojekan khas anak Jogja, membahas wanita, pacar atau saling mengejek satu sama lain, tapi dalam tanda kutip gojek alias bercanda, sembari mempersiapkan apa saja yang perlu disiapkan untuk aksi panggungku nanti. Oh ya aku hampir  lupa bahwa adzan maghrib telah berkumandang, mungkin dengan shalat aku bisa lebih menenangkan hati dan pikiranku sebelum penampilan bersama bandku dimulai, dan saat itu 15 menit sebelum penampilan aku menyempatkan diri untuk shalat maghrib. Rupanya penampilan bandku segera dimulai, teman satu bandku sudah kebingungan mencariku kemana, maklum aku tidak izin kalau aku pergi  sebentar untuk shalat, lantas setelah shalat aku langsung menuju stage dan siap menghibur semua penonton yang datang.

Beberapa lagu yang kita bawa cukup membuat penonton terhibur, sebagian dari mereka ikut berjoged dan berdansa bergaya para penikmat musik club tanpa alkohol dan tanpa ganja. Mungkin musik kami bisa menggantikan kedua barang haram itu. Tetapi semua itu tidak memuaskan diriku, karena apa yang terpuaskan? jika saja ketika aku bermain musik, tetapi hati dan pikiranku sedang memikirkan yang lain, rasanya aku ingin berubah dan ingin menjadi seperti orang lain yang bisa menentukan pilihan atau jalannya masing-masing. Padahal karir bermusikku baru seumur jagung yaitu 5 tahun, tetapi cukup banyak jam terbang dimusik dengan projek yang beragam dan syukur menorehkan prestasi. Pencapaian itu semua hanya sebatas kesenangan sementara, pelan-pelan langkah ku berjalan mundur dari kehidupanku yang sekarang dan mencoba mencari jalan terang dikemudian….

Pertarungan Batin…..

Tahap yang paling aku benci adalah ketika aku tiba-tiba merasa gundah dan cemas akan ke arah mana hidupku harus ku bawa. Aku merasa sudah tidak punya mimpi dan tujuan yang jelas. Kecenderunganku kepada dunia semakin menjadi-jadi, tak jarang aku tertimpa masalah keluarga, karena masalah kecil yang kaitannya dengan dunia semata. Saat aku mulai sadar muncul pertanyaan bagaimana caranya aku mampu menentukan jalanku yang sangat berbeda dari apa yang telah aku jalani?. Semakin bertambah umurku, semakin paham aku membedakan mana yang baik, buruk, bermanfaat dan tidak bermanfaat. Aku bergumam dalam hati “apakah masih ada jiwa malaikat dalam hati ku yang kotor, kaku dan kusam ini?” dan “masih adakah ruang tobat bagiku?”. Aku tak pernah menepis itu semua, karena dulu aku terlalu egois untuk menikmati apa yang aku sukai dan keterpihakanku kepada hal-hal dunia, membuatku menjadi buta akan kewajiban, agama dan akhirat. Karena itu, aku berani berbuat dosa dan melalaikanku dari kewajiban.

Aktivitas melalaikan adalah disaat tidak bernilai sama sekali….

Tak hanya kuliah, aku sibuk di bandku, komunitas musik jazz di Jogja  dan marching band Universitas Islam Indonesa. Terkadang aku sulit membagi waktu karena aktivitas diluar kuliahku yang begitu padat, akhirnya kuliahku pas-pasan, nilai akademis ku yang biasa saja dan ilmu juga tidak banyak yang bisa diserap karena seringnya tidak masuk kuliah  karena keperluan bermusik. Aku mulai mengerti dengan kondisi ku yang seperti ini, kesibukanku di musik melalaikanku dari kewajibanku, tidak hanya melalaikan kuliah, bahkan mengurangi waktuku untuk lebih dekat dengan Al-Quran dan Sang Pencipta. Rumah hanya sebagai tempat tidurku, setiap weekend tiba, aku hampir selalu ada acara, jika tidak latihan band, ya marching band atau perform. Jadi setiap aku pulang kerumah, semua keluarga sudah tertidur lelap dan ketika aku bangun, semua keluargaku telah pergi menjalani aktivtasnya masing-masing, jarang sekali aku berkomunikasi dengan keluargaku bahkan Ayahku sendiri. Semua itu membuatku berfikir ulang, rasa jenuh, bosan dan kesal melanda karena tertekan mengerjakan pekerjaan yang berulang-ulang dan kurang bermanfaat ini membuatku berfikir untuk keluar dari dunia yang telah aku rencanakan dan aku bentuk ini, padahal semua ini yang dulu aku idam-idamkan menjadi musisi dan penulis lagu, tetapi keinginanku mulai berbalik arah pada saat itu. Sempat selama satu semester nilai IP ku menurun, hingga berada dibawah rata-rata, sehingga muncul rasa menyesal dan keinginan untuk memperbaikinya. Aku bernazar pada diriku sendiri, setelah aku menjalani amanahku sebagai player Grand Prix Marching Band 2016 bersama MB UII aku akan mulai fokus untuk kuliah, keluarga dan Agamaku, hanya 3 itu yang menjadi alasan mengapa aku ingin rehat atau berhenti sejenak dari apa yang telah aku mulai.

Teringat Almarhum Ibu….berarti ingat kita bisa kapan saja mati

Tepatnya 7 tahun yang lalu dari sekarang, Ibu ku telah meninggalkan dunia untuk bertemu Sang Pencipta. Bagaimana tidak tahun 2009 adalah suatu cobaan yang berat bagi keluargaku, beberapa hari sepeninggal Ibuku di Madinah saat akan menunaikan Haji saat itu juga aku divonis terkena penyakit usus buntu, sentak aku kaget dan pasrah menerima vonis dokter yang dulu sempat aku takuti, karena tidak ada jalan lain selain operasi, maka akupun dioperasi. Bukan tanpa alasan aku ingin memperbaiki diriku, tapi semua itu karena motivasi seorang Ibu. Aku ingin sekali nantinya aku dan keluargaku bisa berkumpul ditempat yang terbaik di Akhirat nanti, aku tidak ingin membuat almarhum ibuku kecewa, melihatku bermaksiat dan hanya berhura-hura didunia. Aku ingin membahagiakan almarhum dengan menjadi orang yang berbakti dan sholeh. Aku ingin membahagiakan almarhum dengan menjadi orang yang cinta keluarga. Terkadang aku melupakan almarhum, hampir lupa dengan dekapan dari sosok Ibu dan wanita. Semenjak sepeninggalnya beliau, aku sekeluarga dirawat oleh nenek, tak jarang aku menjadi orang yang pembangkang saat itu.

Proses Hijrah adalah mencari kebenaran…..

Seiring berjalannya waktu aku mulai belajar agama dan meningkatkan nilai akademisku. Semua itu aku jalani karena aku ingat amanah orangtua satu-satunya yaitu belajar, lulus dan kerja. Saat itu juga aku mulai fokus kuliah, tidak hanya kuliah aku juga mulai mendalami agama Islam, aku mulai belajar bahasa arab, tahsin, mengikuti kajian bahkan menjadi salah satu pengurus di Lembaga Dakwah Fakultas di kampusku, aku bersama teman-teman aktif berdakwah di kampus dengan menyelenggarkan berbagai kajian, pelatihan dan kegiatan dakwah lainnya. Selain itu aku juga mulai ditunjuk menjadi salah satu asisten AAI (Asistensi Agama Islam) dikampusku bersama mahasiswa lainnya sampai saat ini, sekaligus aku menjadi salah satu koordinator didalamnya. Tak hanya itu aku juga mulai aktif kegiatan dakwah di kampung ku dan mulai mendirikan komunitas bersama teman-teman di kampus yang bernamakan KOMPASS (Komunitas Peduli Anak Sholeh Sholehah) yang kegiatannya adalah syiar agama Islam dengan sudut pandang kepada orangtua dan anak-anak , serta sekaligus mengajar anak-anak di TPA dalam membaca iqro’ dan memfasilitasi bimbel gratis. Sungguh luar biasa, capaian yang cukup besar menurutku, melalui hal yang kecil ini aku berharap bisa menghapus dosa-dosaku yang pernah aku lakukan. Karena kegiatan itu juga aku jadi mulai kenal dengan ustadz dan orang-orang shaleh.

Pelan-pelan aku mulai melepas kesibukanku yang dulu, yang dulunya aku aktif bermusik, sering meninggalkan kuliah, ibadah dan sebagainya, aku yang dulu sering bertasyabuh, bersikap plural dan sekuler, tetapi sekarang aku tidak ingin mengulangi hal yang sama. Sekarang aku mencoba untuk fokus kuliah dan aktivitas dakwahku, karena bagaimanapun setiap manusia yang tinggal di dunia ini mengemban amanah dari Tuhannya yaitu amanah memimpin dan amanah dakwah (Khalifah). Meskipun ada rasa sedikit menyesal karena aku merasa terlambat untuk melakukan semua ini, tapi aku mencoba untuk memahami diri sendiri, bahwa tidak ada kata terlambat dari semua ini, aku mulai merancang masa depan, memperbaiki diri sekaligus memantaskan diri agar nantinya Allah juga memantaskanku dengan seorang wanita sholehah kelak yang akan mengisi setiap detik waktu dan kekosongan hatiku.

Istiqomah…..

Selanjutnya hal yang tersulit ketika dalam proses hijrah adalah bukan disaat kita bisa berbuat baik itu semua, tetapi disaat bagaimana kita bisa istiqomah dijalan kebaikan yang kita tempuh. Namanya manusia, hasrat atau keinginan dunia yang tinggi dan rasa bosan pasti akan tetap melanda, terkadang muncul rasa kesepian dihati, sehingga berkeinginan untuk mengulang masa lalu. Sempat ada timbul kekecewaan kepada Allah SWT, karena setelah aku berhijrah ada saja cobaan yang datang, sehingga aku harus sadar bahwa cobaan semata-mata karena Allah sayang kepada kita, dengan memberikan ujian kepada hambanya, untuk mengetahui sebarapa besar keistiqomahan seorang hamba.. Terkadang aku terlalu merendahkan diri dan merasa terus bersalah. Terkadang aku masih merasa aku belum pantas untuk berbuat baik, karena masa lalu dan keinginan untuk berbuat dosa pun kadang-kadang menghampiri. Aku terus mencoba meneguhkan hati, meskipun siklus maksiat-tobat-maksiat-tobat pernah aku jalani, tapi aku terus berusaha untuk menjauhi dosa/maksiat, dari mencoba tidak mendekati hal yang memicu untuk berbuat maksiat dan belajar dalam berakhlak mulia.

Kadang ketika aku mengingat masa-masa kelamku aku selalu saja merasa malu dan bersedih. Dulu aku merasa begitu durhakanya kepada orangtua, mudahnya meninggalkan perintah Allah, begitu keras dan kotornya hati ini. Semua itu karena lingkunganku yang buruk, mengajarkanku tentang nikmatnya pacaran meskipun aku sendiri hanya sampai ke batas pendekatan belum sampai kepacarannya. Sering adanya cacian dan hinaan yang tertuju kepadaku karena aku salah satu yang belum pernah memiliki pasangan. Kebiasaan-kebiasaan  buruk yang pernah aku alami dan aku kerjakan, membuat rendah derajat keimananku dimata Allah, hingga semua itu memunculkan rasa kesepian dihati dan rasa ingin mengubah dosa lalu menjadi pahala. Aku selalu merasakan ditengah-tengah keramaian aku masih merasa sepi, jauh dari Allah dan merasa tidak berguna bagi sekelilingku. Aku sempat pernah berputus asa, sempat merasa hidupku tak berguna dan tak ada yang mau bersama manusia hina ini. Begitu sepinya hidupku tanpa ibadah dan sunnah, tapi aku berusaha untuk bangkit lagi dengan segenap keyakinan, bahwa aku bisa mencari hidayah itu, karena tak semua hidayah itu datang sendirinya, tapi juga perlu dicari, maka aku mencari disekitarku, berharap ada lingkungan yang cocok untukku, untuk belajar agama dan berharap ada yang mau menerimaku  apa adanya.

Itulah moment awal dimana aku mulai membiasakan kakiku untuk selalu melangkah menuju ke masjid dan mengikuti majels-majelis ilmu. Aku ingat sekali seberapa jarangnya dulu aku pergi ke masjid, shalat tepat waktu, puasa ramadhan penuh, aku adalah hal yang dulunya jauh dari semua itu. Sekarang aku mencoba bersikap jujur dan sebaik mungkin dengan orang lain. Kajian Islam yang telah aku ikuti dan buku-buku keislaman yang telah aku baca menambah keyakinanku bahwa Islam begitu indah dalam menanggapi masalah dan fenomena yang ada pada saat ini. Pada saat itu juga aku mulai berkumpul dengan teman-teman yang sholeh dan sholehah, mulai menjadi bagian dari mereka, mulai belajar dari mereka, mulai untuk mencari kebarokahan hidup, mulai untuk mempersiapkan diri menjadi imam minimal imam untuk keluarga kecilku kelak, berhubung namaku imam hehe, maka aku harus menjadi pemimpin. Aku beberapa kali dipercayai menjadi imam shalat, meskipun awalnya agak canggung karena bacaan shalat dan surat ku masih belum lancar ditambah buruknya akhlak ku, tapi seiring aku belajar dan memperbaiki diri, aku sudah mulai percaya diri untuk mengimami makmum/jamaah.

Alhamdulillah semua aktivitasku bisa aku gantikan ke yang lebih baik, karena semua itu aku niatkan untuk Allah SWT, keluargaku, almarhmum ibuku, diriku pastinya dan istriku serta keturunanku kelak. Sampai saat ini aku terus berupaya untuk berkarya dengan niat dakwah dan semata-mata karena Allah untuk mengajak orang lain lebih mencintai Allah dan dekat kepada Allah SWT. Semua itu dimulai dengan membersihkan hati yang kotor ini. Amin

12250128_976224062434666_5532679074528143642_n

  • Nama: Imam Agung Baskoro (biasa dipanggil Mamski atau Imambasz)
  • Lahir: Ambon, 28 Maret 1995
  • Asal Universitas: UII / FTSP / Teknik Sipil 2013
  • Nomor HP: 085729937824
  • Email: imam.a.baskoro@gmail.com
  • Facebook/Instagram: Imam Agung Baskoro/imambasz
  • Influence dulu: Jordan Rhoedes, Doni Joesran, Ilman Maliq D’Essential
  • Influence sekarang: Nabi Muhammad SAW dan para sahabat
  • Kesibukan sekarang: memperbaiki diri dan memantapkan hati

KP singkat yang bikin Kangen

Abstrak

1464698861842Tepatnya semester yang lalu saat aku mulai beranjak ke semester 6 aku melaksanakan kerja praktek disebuah proyek di kawasan Universitas Gadjah Mada, disitu aku berperan sebagai calon kontraktor muda amatir  pembantu kontraktor professional dan berpengalaman. Dari 4 mahasiswa yang kerja praktek dibagian kontraktor, hanya aku yang sendiri yang cowok, sisanya  cewek, maka pimpinan proyek menempatkanku untuk sering-sering membantu pekerjaan dilapangan dari pada dikantor, lalu pimpinan proyek menyarankan ku untuk sekalian bisa bantuin kerjaan tukang alias nukang, pikiranku langsung menuju kepada alat pengaman diri “berarti aku harus segera beli alat pengamanan diri yang komplit sekalian sepatu bootnya karena aku harus siap2 kotor, siap2 buka baju, siap2 capek dan parahnya siap2 berhenti kuliah” . Disitu aku merasa ada sedikit intimidasi dari pihak proyek yang menyuruh mahasiswa putra untuk kerja praktek dilapangan, sedangkan untuk mahasiswa putri bekerja di kantor, aku sebut ini intimidasi? Wkwk terlalu lebay atau aku tidak paham dimana hak sebagai laki-laki dan hak sebagai perempuan dibidang kontraktor? Tapi ya begitulah kerja dilapangan akan terasa berbeda dengan kerja dikantoran, so ini kesempatan ku untuk memperoleh ilmu bersama para kontraktor dilapangan, sekaligus aku jadi tukang juga tidak masalah sekalian olahraga pikirku hehe.

First Part….

Masa Kerja Praktek dimulai, mahasiswa mulai sibuk mencari proyek kesana-kemari, ada yang mencari dilokasi sekitar tempat kuliahnya, di kota tempat tinggalnya, bahkan sampai diluar kota, kuliahnya di Jogja kerja prakteknya di Pacitan ada tuh wkwk. Dua minggu aku mencari, masukin surat lamaran kerja praktek kesana-kemari, tapi tidak ada satupun lamaran yang diterimai eh tidak satupun aku dihubungi :D,  galau yah?iya galau, galaunya kaya digantungin orang gitu, tapi ini digantungan sama pihak proyek lebih tepatnya sama satpam di proyek karena dia yang menerima surat lamaranku yang pertama saat datang ke proyek, galau sih boleh asalkan galau positif kayak gini hehe. Dua bulan berlalu sejak pendaftaran Kerja Praktek di kampusku dan sudah sekitar 5 surat lamaran KP yang berbeda sudah aku kirim, tiba-tiba tepat sehari sebelum aku memulai KP di proyek pertamaku, aku mulai mendapat sms dari teman untuk menggantikan dirinya KP di sebuah proyek di kawasan UGM, Alhamdulillah Allah itu selalu mengada-ada dengan cara yang ada-ada saja, emang bisa ya? Pikirku pesimis, tapi mencoba optimis.

Esoknya aku mencoba untuk mendatangi proyek yang dimaksudkan temanku itu, aku menggantikannya karena temanku sudah diterima di proyek lain dan sudah berjalan cukup tau eh cukup lama maksudnya hehe. Aku datang dengan langkah yang pesimis tapi hati mencoba optimis, memasuki ruangan rapat di proyek aku membuka pintu dan sudah hadir beberapa mahasiswa dari universitas lain dan ternyata ada satu temanku lagi yang diterima, dia mahasiswi dari universitas yang sama namanya Angga, yah ingat namanya Angga bukan Anggi karena Angga ini nama samaran, kalau pakai nama asli Anggi belum ada persetujuan dari orangnya kalau aku masukin dia ditulisanku ini hehe. Aku telat 30 menit dari jadwal yang sudah ditentukan, yah aku harus mencari alat pengaman dahulu sebelum datang ke proyek, aku pikir hari itu aku akan langsung kerja pratek, tapi eh ternyata belum, saat itu kita ada penyuluhan sebentar terkait peraturan kerja praktek di proyek tersebut. Mahasiswa dibebaskan untuk datang ke proyek kapan aja asalkan yang penting datang ke proyek bawa oleh-oleh minimal martabak pandega hihi. Aku memutuskan hari itu untuk memulai kerja praktek di proyek pertamaku meskipun belum diwajibkan, yeaahhh I always ready to study…….

Bagian Kedua….(namanya proses jangan banyak protes 🙂 )

Pemimpin Yang Ideal untuk Rakyat Yogyakarta

Demi Mewujudkan Pemilu Berintegritas Yang Menghasilkan Pemimpin Daerah Berkualitas.

Pemilu serentak kepala daerah tahun ini akan bergulir pada bulan Februari 2017. Siklus politik kembali tinggi seiring makin banyaknya aktor politik yang berkonsentrasi dalam pemilihan umum 5 tahunan tersebut. Oleh karena itu siperubahan mencoba memberikan wadah bagi para masyarakat umum untuk memberikan pemikirannya terkait pagelaran yang memiliki ouput menghasilkan pemimpin ideal untuk daerah. Total sekitar hampir 7 Provinsi, 18 Kota dan 76 Kabupaten di Indonesia menjadi segmen utama dari event ini.

Berikut dibawah ini adalah link hasil tulisan dan pemikiran saya tentang “Pemimpin Yang Ideal untuk Rakyat Yogyakarta”. Harapan saya menuliskan ini adalah agar membuka hati dan pikiran rakyat serta calon pemimpin bahwa untuk mendapatkan pemimpin yang sesuai harapan setiap orang adalah hal yang mustahil jika rakyatnya saja belum bisa mumpuni dalam menjadi rakyat yang ideal. Selamat menyimak dan menikmati 🙂

http://siperubahan.com/read/2920/Pemimpin-Yang-Ideal-untuk-Rakyat-Yogyakarta