Music in your life or Music is your life?

26722-huntington-piano-1366x768-music-wallpaper

Aku tidak mengatakan aku adalah penyuka musik, tidak juga pandai dalam bermusik, bahkan aku tidak mengatakan bahwa aku adalah musisi. Aku hanyalah manusia yang mau tidak mau, suka atau tidak suka harus mendengarkan musik. Mereka yang menganggap musik itu baik mengatakan bahwa musik terdengar kurang menyentuh jika didalamnya tidak terdapat suatu syair, dan syair yang dibacakan akan terdengar kurang syahdu jika tidak dibarengi dengan musik yang mengalun lembut bagai lembayung. Siapa yang tidak pernah mendengarkan musik? Hampir semua orang pernah mendengar dan menikmati musik, karena dalam kehidupan ini musik begitu mendominasi, apa yang kita dengar itu adalah musik, meskipun bukan musik pada umumnya yang selalu berkaitan dengan suara gitar, drum, piano, terompet dan sebagainya. Tetapi suara-suara alamiah disekitar kita adalah komposisi musik yang indah, itulah penafsiranku, aku sendiri menyebutnya dengan suara alam atau authentic voice (suara asli yang muncul secara alamiah).

Dari suara yang kita dengar itu memiliki suatu nada, yang sangat bervariatif. Misalnya saja kita mendengar suara bisingnya knalpot motor di jalan, suara knalpot itu walau pun suaranya bising, dia memiliki nada tersendiri. Sayangnya, hanya beberapa orang yang dianugerahi kemampuan khusus oleh Allah yang bisa menebak nada dari suara-suara itu. Kemampuan khusus sekaligus luar biasa itu biasa disebut dengan absolute pitch (pandai dalam menebak nada), absolute pitch adalah orang yang dianugerahkan memiliki ke spesialan dalam menebak nada dari suara yang dia dengar, konon dari buku dan literasi tentang musik yang pernah aku baca, bahwa orang yang memiliki bakat absolute pitch di dunia ini bisa dihitung dengan jari atau bisa jadi sangat sedikit, contohnya saja yang aku ketahui adalah pemusik di era abad ke 16-18 yaitu Beethoven dan pemusik di era 19-20 adalah Jordan Rhodes. Entah itu hasil penelitian dari pakar musik atau bisa jadi mereka menganggap bahwa dirinya absolute pitch, pasalnya absolute pitch itu adalah manusia yang masuk dalam kategori luar biasa, dia bisa jadi mampu memainkan beragam alat musik, sekaligus bisa menciptakan alat musik dan pola musik yang sangat bervariatif dan untuk memperoleh bakat luar biasa itu adalah bisa  dari lahir ataupun bisa dikembangkan sendiri dengan latihan rutin dan berulang.

Mungkin teman-teman pernah menonton film “August Rush” dalam film tersebut mengisahkan seorang anak yang memiliki bakat luar biasa yaitu Absolute pitch. Dalam usia yang masih muda, August Rush bisa menjadi seorang komposer dan conductor yang berbakat memainkan segala macam alat musik. Meskipun film tersebut hanya fiktif belaka, tetapi begitulah kenyataannya bahwa orang yang memiliki bakat dalam absolute pitch seharusnya bisa jadi orang yang besar dimusik. Tak semua orang yang memiliki bakat ini adalah musisi, bahkan rata-rata musisi bukan berarti mereka adalah absolute pitch. Beberapa musisi bahkan diharuskan tidak buta nada, tetapi mereka yang mengerti tentang nada pun bukan disebut dengan absolute pitch, karena kebanyakan musisi meskipun bisa menebak nada, tetapi tidak semua mereka bisa menebak nada dari suara apapun, mungkin mereka hanya bisa menebak nada dari pola dalam nada, beberapa nada mayor dan minor, ada yang beberapa mampu menebak dengan syarat nada tersebut bentuknya jelas (bukan suara-suara alam), bahkan mereka menebak nada dengan perasaan dan pengalaman dari nada yang pernah dia mainkan, dan beberapa juga harus menyentuh alat musik dahulu baru bisa menentukan nadanya. Begitulah aku…aku pun yang sampai sekarang masih menikmati musik, masih belum mampu menebak nada dengan benar dari suatu lagu, aku harus meraba-rabanya dulu di alat musik piano, yah hanya piano.

Kecintaanku kepada musik tidak melebihi kecintaanku kepada Sang Maha Pencipta, Allah SWT. Karena Dia lah yang menciptakan apa-apa di dunia ini dengan suara. Teori alam BIGBANG…terbentuk karena suara meledaknya atom hingga menjadi partikel-partikel alam semesta. Maka sungguh indah jika kita bisa memanfaatkan suara ini menjadi suatu yang bermanfaat dan bertujuan untuk mengagungkan akan kebesaran Allah SWT. Menurut beberapa pakar ahli bahwa suara yang paling indah didengar di muka bumi ini ada 2, yang pertama adalah suara alamiah air sungai dan suara lantunan ayat suci Al-Quran. Menurut pendapat ini memang jelas, bahwa dijelaskan dalam Al-Quran, dibeberapa ayatnya bahwa di Surga akan ada air sungai yang mengalir yang berwarna jernih, maka tak jarang mereka yang bermeditasi dan therapy diri memilih objek yang terdapat sungai disekitarnya, selain itu Allah memerintahkan kepada umat Islam untuk membaca Al-Quran dengan bacaan yang indah, sehingga muncullah teknik nada dalam membaca AL-Quran atau biasa kita sebut dengan tilawah. Beberapa penelitian juga membuktikan bahwa mendengarkan dan membaca lantunan ayat suci Al-Quran membuat seluruh diri dan hati kita tenang, dengan penelitian yang lebih rinci bahwa ada partikel-partikel energi yang bergerak menjadi teratur/sesuatu yang lain pada saat dilantukan ayat suci AL-Quran, misalkan saja pada air yang diucapkan ayat kursi ataupun ayat dari Al-Quran lainnya.

Aku pertama kali mempelajari musik ketika duduk dibangku kelas 2 SMP. Alat musik yang aku pelajari hingga sekarang adalah keyboard dan piano. Aku pernah belajar gitar otodidak, tetapi karena sudah lama tidak memainkan alat tersebut jadi mulai agak lupa. Hingga sekarang alat musik piano lah yang menjadi andalanku dalam bermusik. Sejak kecil aku sudah sering menyanyi, kadang-kadang berduet sepanggung dengan Ayah ku. Karena Ayahku adalah salah satu dari keluarga yang suka bermusik. Ayahku dulu adalah personil dari kelompok keroncong di Jember. Beliau hampir tiap malam senin on air di radio RRI Jember. Ketika aku ada waktu luang aku selalu menemani Ayahku latihan dan siaran. Tidak jarang juga setiap malam minggu, di tempat tinggalku selalu ada acara kumpul dengan warga sekitar, kegiatannya adalah bermusik dengan organ tunggal, aku dan ayahku adalah salah satu penyumpang lagu pada saat itu. Ayahku juga belajar beberapa alat musik, beliau pandai bermain keyboard, gitar dan sempat belajar biola. Bagi Ayahku musik adalah hobbynya, ayahku mengatakan bahwa musik itu bisa menenangkan pikiran dan bikin awet muda. Aku pun melihat buktinya sendiri, Ayahku sampai sekarang masih diberikan kesehatan dan semangat oleh Allah SWT dalam berkarier, karya dan mengurus keluarga.

Aku pun  mencoba mengikuti jejak Ayahku. Setelah pindah dari Jember menuju Yogyakarta, aku mulai mengembangkan bakat musik dalam diriku. Aku mulai belajar rutin piano pop dan membentuk grup band, hingga akhirnya dapat merasakan beberapa kali juara. Selain itu aku bersama teman-teman juga menulis lagu hingga lagu kami terdengar di beberapa radio di Yogyakarta, dan sempat membuat sebuah videoklip bersama teman-teman media. Setelah beberapa tahun disibukkan dalam bermusik, aku memutuskan untuk rehat dan membenahi diri terlebih dahulu. Karena pada saat itu manajemen waktuku mulai tidak terkontrol, yang disibukkan diband, marchingband dan kuliah, sehingga aku memutuskan berhenti dari semua kegiatan bermusik. Butuh waktu untukku me-recovery semuanya dari pemikiran tentang musik, tujuanku pada musik dan harapanku kepada musik. Bagi kebanyakan umat muslim termasuk aku sendiri ragu akan kebenaran mendengarkan serta memainkan alat musik, karena musik dalam Islam itu menjadi suatu yang  haram. Tetapi nyatanya sampai sekarang masih ada ustadz/kiai yang membolehkan dalam memainkan dan mendengarkn musik, dengan tujuan jelas dan mengajak kebaikan. Mereka punya alasan tersendiri mengapa masih membolehkan mendegarkan dan memainkan alat musik. Tidak semua apa yang kita persepsikan tentang temannya musik adalah wanita, khamr, hiburan dan sebagainya yang dilarang oleh Allah, Allhua’allam. Semua itu kita serahkan kepada yang Maha Tahu Segalanya, karena di zaman Rasullah pun musik masih  ada yang diperbolehkan dengan beberapa syarat syar’i dan kondisi syar’i pula.

Sebenarnya metode dan pola dalam musik itu yang menemukan pertama kali nya  adalah ilmuwan Muslim lho, dia adalah Al-Farabi. Al-Farabi adalah pakar berbagai disiplin ilmu, salah satunya adalah teknik musik. Dia menciptakan kitab Al-Musiqa, yaitu sebuah buku tentang musik. Hingga akhirnya Islam tenggelam dan Kekhalifahan runtuh, orang-orang Eropa mulai menulis namanya diatas sebagai penemu musik, alat musik, teori musik, teknik musik dan segalanya tentang musik. Hingga sampai saat ini, pemusik-pemusik bersejarah yang kita kenal masih berasal dari bangsa Eropa seperti, Bach, Bethoven, Mozart, dan sebagainya.

Hari ini adalah hari terakhir di tahun 2016. Pastinya banyak sekali ritual-ritual bangsa barat dalam merayakan tahun baru. Seharusnya kita tahu betul, sebagai umat muslim bukan berarti tahun baru adalah sesuatu yang harus diagung-agungkan. Jika kita merasa pergantian tahun baru adalah moment yang sangat penting, mengapa tidak kita ubah dengan suatu kegiatan yang bermanfaat, sekaligus tidak mengikuti budaya-budaya non muslim. Budaya umat non muslim dalam merayakan pergantian tahun baru contohnya adalah meniup alat musik terompet, jadi bagaimana jika cukup hari ini saja kita berhenti meniup alat musik terompet, setelahnya kita bisa meniup alat musik terompet. Karena dikhawatirkan jika kita mengikuti kebiasaan mereka ditahun baru ini akan menjadi suatu tasyabbuh (menyamai umat non muslim). Aku pernah iseng bertanya dengan temanku yang beragama nasrani, “ bro apa sih bedanya Kristen dan katholik dalam hal bermusik”, dia langsung menjawab begini “kalau Kristen/Kristen protestan itu bermusiknya sangat syahdu yaitu hanya menggunakan alat musik semacam organ, sedangkan kalau katolik/Kristen katolik itu dalam hal bermusik lebih modern, dengan mengusung sebuah band”. Hmm sudah menjadi suatu yang harus bagi umat Kristen dan katolik untuk mengenal musik, bedanya dengan umat muslim itu tidak harus…malah umat muslim ditekankan untuk mendengar dan memainkan nyanyian tanpa alat musik dan masih ada beberapa syarat-syarat syar’i lainnya yang tidak mungkin aku bahas satu persatu sekarang hehe.

Jadi dimana kedudukan musik dalam hidup kalian? apakah musik adalah yang mendominasi seluruh hidupmu? atau hanya salah satu bagian dalam hidupmu? atau tidak sama sekali?

Mungkin begitulah sedikit ulasan musik yang aku rangkum dari apa yang pernah aku baca, dengar dan aku tahu. Yah sudah selesai teman-teman baca tulisanku hari ini, semoga bermanfaat bagi teman-teman sebagai penambah info dan penulis juga butuh pencerahan serta comment dari teman-teman sekalian terhadap pemikiran dan pengalamanku ini.

Akhiru Kalam 🙂

The Change of My Life (Hijrahku)

Assalamualaikum…

Alhamdulillah tepat seminggu yang lalu aku mendapatkan suatu apresiasi yang luar biasa dari panitia penyelenggara JAFANA FAIR 2016 di kampus UII. Tulisan tentang hijrahku mendapatkan tempat diurutan kedua sehingga mau tidak mau saat itu aku harus menghadiri acara Talkshow yang diisi oleh Caesar Aditya mantan artis YKS (Yuk Kita Sahur) yang ada slogannya buka sithik joss hehe

Bagiku Apresiasi ini bukanlah menjadi tolak ukur prestasi, karena apa…karena aku menyebut diriku sebagai pemenang lomba menulis aib diri sendiri, ya kok dibanggakan hhehe. Hampir saja aku mau menceritakan semua perjalananku dari sisi buruk(Darkside) menuju sisi terang(lightside). Tetapi, tidak semua aib harus diceritakan selagi Allah sedang menjaga aib itu sendiri, maka dari itu kita diberi kesempatan oleh Allah untuk memperbaiki/berubah .  Sebetulnya ini hanya sedikit perjalanan hidup manusia yang sebenarnya masih ada yang lebih luar biasa dan inspiratif selain ini.

Aku akan terus belajar dan belajar, karena bagaimanapun yang tejadi saat itu adalah kehendak Allah. Apresiasi ini bisa menjadi peringatan bahkan ujian, agar aku terus beristiqomah dalam menyebarkan kebaikan dan dakwah.

Untuk postingan saat ini, aku akan memposting hasil tulisan hijrahku pada saat lomba menulis hijrah yang diadakan oleh JAFANA FPSB UII lalu, dan harapannya semoga kita semua bisa mengambil hikmah dan memotivasi teman-teman/pembaca untuk berbuat positif, minimal di lingkungan keluarga kita. Bismillah…..

Berawal dari hati, semua tergerak karena hati, mencoba ikhlas menjalani semua karena Allah SWT…

Awal mula (Prolog)….

Saat itu pukul 17.30 dan adzan maghrib di Jogja pukul 18.00, sedangkan penampilan bandku adalah pukul 18.30, tersisa satu jam untuk mempersiapkan apa yang perlu aku siapkan sebelum perform, dari pada membuat teman-temanku khawatir karena menungguku, aku lebih dulu berangkat ke tempat acara dari pada aku menunggu dirumah hingga adzan maghrib tiba. Aku tiba di Padmanaba, disini lagi-lagi diundang sebagai pengisi acara, entah yang ke berapa kalinya aku mengisi pensi yang diselenggarakan SMA ini, mungkin sudah yang ke 5 kalinya atau mungkin lebih. Seperti biasa sebelum naik panggung, untuk menghilangkan kecemasanku sebelum perform aku harus menenangkan diriku, menenangkannya cukup dengan merilekskan diri, berpositif thinking bahwa penampilan malam ini akan sukses. Aku mulai berbaur dengan teman-temanku, sedikit bercanda dengan gojekan khas anak Jogja, membahas wanita, pacar atau saling mengejek satu sama lain, tapi dalam tanda kutip gojek alias bercanda, sembari mempersiapkan apa saja yang perlu disiapkan untuk aksi panggungku nanti. Oh ya aku hampir  lupa bahwa adzan maghrib telah berkumandang, mungkin dengan shalat aku bisa lebih menenangkan hati dan pikiranku sebelum penampilan bersama bandku dimulai, dan saat itu 15 menit sebelum penampilan aku menyempatkan diri untuk shalat maghrib. Rupanya penampilan bandku segera dimulai, teman satu bandku sudah kebingungan mencariku kemana, maklum aku tidak izin kalau aku pergi  sebentar untuk shalat, lantas setelah shalat aku langsung menuju stage dan siap menghibur semua penonton yang datang.

Beberapa lagu yang kita bawa cukup membuat penonton terhibur, sebagian dari mereka ikut berjoged dan berdansa bergaya para penikmat musik club tanpa alkohol dan tanpa ganja. Mungkin musik kami bisa menggantikan kedua barang haram itu. Tetapi semua itu tidak memuaskan diriku, karena apa yang terpuaskan? jika saja ketika aku bermain musik, tetapi hati dan pikiranku sedang memikirkan yang lain, rasanya aku ingin berubah dan ingin menjadi seperti orang lain yang bisa menentukan pilihan atau jalannya masing-masing. Padahal karir bermusikku baru seumur jagung yaitu 5 tahun, tetapi cukup banyak jam terbang dimusik dengan projek yang beragam dan syukur menorehkan prestasi. Pencapaian itu semua hanya sebatas kesenangan sementara, pelan-pelan langkah ku berjalan mundur dari kehidupanku yang sekarang dan mencoba mencari jalan terang dikemudian….

Pertarungan Batin…..

Tahap yang paling aku benci adalah ketika aku tiba-tiba merasa gundah dan cemas akan ke arah mana hidupku harus ku bawa. Aku merasa sudah tidak punya mimpi dan tujuan yang jelas. Kecenderunganku kepada dunia semakin menjadi-jadi, tak jarang aku tertimpa masalah keluarga, karena masalah kecil yang kaitannya dengan dunia semata. Saat aku mulai sadar muncul pertanyaan bagaimana caranya aku mampu menentukan jalanku yang sangat berbeda dari apa yang telah aku jalani?. Semakin bertambah umurku, semakin paham aku membedakan mana yang baik, buruk, bermanfaat dan tidak bermanfaat. Aku bergumam dalam hati “apakah masih ada jiwa malaikat dalam hati ku yang kotor, kaku dan kusam ini?” dan “masih adakah ruang tobat bagiku?”. Aku tak pernah menepis itu semua, karena dulu aku terlalu egois untuk menikmati apa yang aku sukai dan keterpihakanku kepada hal-hal dunia, membuatku menjadi buta akan kewajiban, agama dan akhirat. Karena itu, aku berani berbuat dosa dan melalaikanku dari kewajiban.

Aktivitas melalaikan adalah disaat tidak bernilai sama sekali….

Tak hanya kuliah, aku sibuk di bandku, komunitas musik jazz di Jogja  dan marching band Universitas Islam Indonesa. Terkadang aku sulit membagi waktu karena aktivitas diluar kuliahku yang begitu padat, akhirnya kuliahku pas-pasan, nilai akademis ku yang biasa saja dan ilmu juga tidak banyak yang bisa diserap karena seringnya tidak masuk kuliah  karena keperluan bermusik. Aku mulai mengerti dengan kondisi ku yang seperti ini, kesibukanku di musik melalaikanku dari kewajibanku, tidak hanya melalaikan kuliah, bahkan mengurangi waktuku untuk lebih dekat dengan Al-Quran dan Sang Pencipta. Rumah hanya sebagai tempat tidurku, setiap weekend tiba, aku hampir selalu ada acara, jika tidak latihan band, ya marching band atau perform. Jadi setiap aku pulang kerumah, semua keluarga sudah tertidur lelap dan ketika aku bangun, semua keluargaku telah pergi menjalani aktivtasnya masing-masing, jarang sekali aku berkomunikasi dengan keluargaku bahkan Ayahku sendiri. Semua itu membuatku berfikir ulang, rasa jenuh, bosan dan kesal melanda karena tertekan mengerjakan pekerjaan yang berulang-ulang dan kurang bermanfaat ini membuatku berfikir untuk keluar dari dunia yang telah aku rencanakan dan aku bentuk ini, padahal semua ini yang dulu aku idam-idamkan menjadi musisi dan penulis lagu, tetapi keinginanku mulai berbalik arah pada saat itu. Sempat selama satu semester nilai IP ku menurun, hingga berada dibawah rata-rata, sehingga muncul rasa menyesal dan keinginan untuk memperbaikinya. Aku bernazar pada diriku sendiri, setelah aku menjalani amanahku sebagai player Grand Prix Marching Band 2016 bersama MB UII aku akan mulai fokus untuk kuliah, keluarga dan Agamaku, hanya 3 itu yang menjadi alasan mengapa aku ingin rehat atau berhenti sejenak dari apa yang telah aku mulai.

Teringat Almarhum Ibu….berarti ingat kita bisa kapan saja mati

Tepatnya 7 tahun yang lalu dari sekarang, Ibu ku telah meninggalkan dunia untuk bertemu Sang Pencipta. Bagaimana tidak tahun 2009 adalah suatu cobaan yang berat bagi keluargaku, beberapa hari sepeninggal Ibuku di Madinah saat akan menunaikan Haji saat itu juga aku divonis terkena penyakit usus buntu, sentak aku kaget dan pasrah menerima vonis dokter yang dulu sempat aku takuti, karena tidak ada jalan lain selain operasi, maka akupun dioperasi. Bukan tanpa alasan aku ingin memperbaiki diriku, tapi semua itu karena motivasi seorang Ibu. Aku ingin sekali nantinya aku dan keluargaku bisa berkumpul ditempat yang terbaik di Akhirat nanti, aku tidak ingin membuat almarhum ibuku kecewa, melihatku bermaksiat dan hanya berhura-hura didunia. Aku ingin membahagiakan almarhum dengan menjadi orang yang berbakti dan sholeh. Aku ingin membahagiakan almarhum dengan menjadi orang yang cinta keluarga. Terkadang aku melupakan almarhum, hampir lupa dengan dekapan dari sosok Ibu dan wanita. Semenjak sepeninggalnya beliau, aku sekeluarga dirawat oleh nenek, tak jarang aku menjadi orang yang pembangkang saat itu.

Proses Hijrah adalah mencari kebenaran…..

Seiring berjalannya waktu aku mulai belajar agama dan meningkatkan nilai akademisku. Semua itu aku jalani karena aku ingat amanah orangtua satu-satunya yaitu belajar, lulus dan kerja. Saat itu juga aku mulai fokus kuliah, tidak hanya kuliah aku juga mulai mendalami agama Islam, aku mulai belajar bahasa arab, tahsin, mengikuti kajian bahkan menjadi salah satu pengurus di Lembaga Dakwah Fakultas di kampusku, aku bersama teman-teman aktif berdakwah di kampus dengan menyelenggarkan berbagai kajian, pelatihan dan kegiatan dakwah lainnya. Selain itu aku juga mulai ditunjuk menjadi salah satu asisten AAI (Asistensi Agama Islam) dikampusku bersama mahasiswa lainnya sampai saat ini, sekaligus aku menjadi salah satu koordinator didalamnya. Tak hanya itu aku juga mulai aktif kegiatan dakwah di kampung ku dan mulai mendirikan komunitas bersama teman-teman di kampus yang bernamakan KOMPASS (Komunitas Peduli Anak Sholeh Sholehah) yang kegiatannya adalah syiar agama Islam dengan sudut pandang kepada orangtua dan anak-anak , serta sekaligus mengajar anak-anak di TPA dalam membaca iqro’ dan memfasilitasi bimbel gratis. Sungguh luar biasa, capaian yang cukup besar menurutku, melalui hal yang kecil ini aku berharap bisa menghapus dosa-dosaku yang pernah aku lakukan. Karena kegiatan itu juga aku jadi mulai kenal dengan ustadz dan orang-orang shaleh.

Pelan-pelan aku mulai melepas kesibukanku yang dulu, yang dulunya aku aktif bermusik, sering meninggalkan kuliah, ibadah dan sebagainya, aku yang dulu sering bertasyabuh, bersikap plural dan sekuler, tetapi sekarang aku tidak ingin mengulangi hal yang sama. Sekarang aku mencoba untuk fokus kuliah dan aktivitas dakwahku, karena bagaimanapun setiap manusia yang tinggal di dunia ini mengemban amanah dari Tuhannya yaitu amanah memimpin dan amanah dakwah (Khalifah). Meskipun ada rasa sedikit menyesal karena aku merasa terlambat untuk melakukan semua ini, tapi aku mencoba untuk memahami diri sendiri, bahwa tidak ada kata terlambat dari semua ini, aku mulai merancang masa depan, memperbaiki diri sekaligus memantaskan diri agar nantinya Allah juga memantaskanku dengan seorang wanita sholehah kelak yang akan mengisi setiap detik waktu dan kekosongan hatiku.

Istiqomah…..

Selanjutnya hal yang tersulit ketika dalam proses hijrah adalah bukan disaat kita bisa berbuat baik itu semua, tetapi disaat bagaimana kita bisa istiqomah dijalan kebaikan yang kita tempuh. Namanya manusia, hasrat atau keinginan dunia yang tinggi dan rasa bosan pasti akan tetap melanda, terkadang muncul rasa kesepian dihati, sehingga berkeinginan untuk mengulang masa lalu. Sempat ada timbul kekecewaan kepada Allah SWT, karena setelah aku berhijrah ada saja cobaan yang datang, sehingga aku harus sadar bahwa cobaan semata-mata karena Allah sayang kepada kita, dengan memberikan ujian kepada hambanya, untuk mengetahui sebarapa besar keistiqomahan seorang hamba.. Terkadang aku terlalu merendahkan diri dan merasa terus bersalah. Terkadang aku masih merasa aku belum pantas untuk berbuat baik, karena masa lalu dan keinginan untuk berbuat dosa pun kadang-kadang menghampiri. Aku terus mencoba meneguhkan hati, meskipun siklus maksiat-tobat-maksiat-tobat pernah aku jalani, tapi aku terus berusaha untuk menjauhi dosa/maksiat, dari mencoba tidak mendekati hal yang memicu untuk berbuat maksiat dan belajar dalam berakhlak mulia.

Kadang ketika aku mengingat masa-masa kelamku aku selalu saja merasa malu dan bersedih. Dulu aku merasa begitu durhakanya kepada orangtua, mudahnya meninggalkan perintah Allah, begitu keras dan kotornya hati ini. Semua itu karena lingkunganku yang buruk, mengajarkanku tentang nikmatnya pacaran meskipun aku sendiri hanya sampai ke batas pendekatan belum sampai kepacarannya. Sering adanya cacian dan hinaan yang tertuju kepadaku karena aku salah satu yang belum pernah memiliki pasangan. Kebiasaan-kebiasaan  buruk yang pernah aku alami dan aku kerjakan, membuat rendah derajat keimananku dimata Allah, hingga semua itu memunculkan rasa kesepian dihati dan rasa ingin mengubah dosa lalu menjadi pahala. Aku selalu merasakan ditengah-tengah keramaian aku masih merasa sepi, jauh dari Allah dan merasa tidak berguna bagi sekelilingku. Aku sempat pernah berputus asa, sempat merasa hidupku tak berguna dan tak ada yang mau bersama manusia hina ini. Begitu sepinya hidupku tanpa ibadah dan sunnah, tapi aku berusaha untuk bangkit lagi dengan segenap keyakinan, bahwa aku bisa mencari hidayah itu, karena tak semua hidayah itu datang sendirinya, tapi juga perlu dicari, maka aku mencari disekitarku, berharap ada lingkungan yang cocok untukku, untuk belajar agama dan berharap ada yang mau menerimaku  apa adanya.

Itulah moment awal dimana aku mulai membiasakan kakiku untuk selalu melangkah menuju ke masjid dan mengikuti majels-majelis ilmu. Aku ingat sekali seberapa jarangnya dulu aku pergi ke masjid, shalat tepat waktu, puasa ramadhan penuh, aku adalah hal yang dulunya jauh dari semua itu. Sekarang aku mencoba bersikap jujur dan sebaik mungkin dengan orang lain. Kajian Islam yang telah aku ikuti dan buku-buku keislaman yang telah aku baca menambah keyakinanku bahwa Islam begitu indah dalam menanggapi masalah dan fenomena yang ada pada saat ini. Pada saat itu juga aku mulai berkumpul dengan teman-teman yang sholeh dan sholehah, mulai menjadi bagian dari mereka, mulai belajar dari mereka, mulai untuk mencari kebarokahan hidup, mulai untuk mempersiapkan diri menjadi imam minimal imam untuk keluarga kecilku kelak, berhubung namaku imam hehe, maka aku harus menjadi pemimpin. Aku beberapa kali dipercayai menjadi imam shalat, meskipun awalnya agak canggung karena bacaan shalat dan surat ku masih belum lancar ditambah buruknya akhlak ku, tapi seiring aku belajar dan memperbaiki diri, aku sudah mulai percaya diri untuk mengimami makmum/jamaah.

Alhamdulillah semua aktivitasku bisa aku gantikan ke yang lebih baik, karena semua itu aku niatkan untuk Allah SWT, keluargaku, almarhmum ibuku, diriku pastinya dan istriku serta keturunanku kelak. Sampai saat ini aku terus berupaya untuk berkarya dengan niat dakwah dan semata-mata karena Allah untuk mengajak orang lain lebih mencintai Allah dan dekat kepada Allah SWT. Semua itu dimulai dengan membersihkan hati yang kotor ini. Amin

12250128_976224062434666_5532679074528143642_n

  • Nama: Imam Agung Baskoro (biasa dipanggil Mamski atau Imambasz)
  • Lahir: Ambon, 28 Maret 1995
  • Asal Universitas: UII / FTSP / Teknik Sipil 2013
  • Nomor HP: 085729937824
  • Email: imam.a.baskoro@gmail.com
  • Facebook/Instagram: Imam Agung Baskoro/imambasz
  • Influence dulu: Jordan Rhoedes, Doni Joesran, Ilman Maliq D’Essential
  • Influence sekarang: Nabi Muhammad SAW dan para sahabat
  • Kesibukan sekarang: memperbaiki diri dan memantapkan hati

KP singkat yang bikin Kangen

Abstrak

1464698861842Tepatnya semester yang lalu saat aku mulai beranjak ke semester 6 aku melaksanakan kerja praktek disebuah proyek di kawasan Universitas Gadjah Mada, disitu aku berperan sebagai calon kontraktor muda amatir  pembantu kontraktor professional dan berpengalaman. Dari 4 mahasiswa yang kerja praktek dibagian kontraktor, hanya aku yang sendiri yang cowok, sisanya  cewek, maka pimpinan proyek menempatkanku untuk sering-sering membantu pekerjaan dilapangan dari pada dikantor, lalu pimpinan proyek menyarankan ku untuk sekalian bisa bantuin kerjaan tukang alias nukang, pikiranku langsung menuju kepada alat pengaman diri “berarti aku harus segera beli alat pengamanan diri yang komplit sekalian sepatu bootnya karena aku harus siap2 kotor, siap2 buka baju, siap2 capek dan parahnya siap2 berhenti kuliah” . Disitu aku merasa ada sedikit intimidasi dari pihak proyek yang menyuruh mahasiswa putra untuk kerja praktek dilapangan, sedangkan untuk mahasiswa putri bekerja di kantor, aku sebut ini intimidasi? Wkwk terlalu lebay atau aku tidak paham dimana hak sebagai laki-laki dan hak sebagai perempuan dibidang kontraktor? Tapi ya begitulah kerja dilapangan akan terasa berbeda dengan kerja dikantoran, so ini kesempatan ku untuk memperoleh ilmu bersama para kontraktor dilapangan, sekaligus aku jadi tukang juga tidak masalah sekalian olahraga pikirku hehe.

First Part….

Masa Kerja Praktek dimulai, mahasiswa mulai sibuk mencari proyek kesana-kemari, ada yang mencari dilokasi sekitar tempat kuliahnya, di kota tempat tinggalnya, bahkan sampai diluar kota, kuliahnya di Jogja kerja prakteknya di Pacitan ada tuh wkwk. Dua minggu aku mencari, masukin surat lamaran kerja praktek kesana-kemari, tapi tidak ada satupun lamaran yang diterimai eh tidak satupun aku dihubungi :D,  galau yah?iya galau, galaunya kaya digantungin orang gitu, tapi ini digantungan sama pihak proyek lebih tepatnya sama satpam di proyek karena dia yang menerima surat lamaranku yang pertama saat datang ke proyek, galau sih boleh asalkan galau positif kayak gini hehe. Dua bulan berlalu sejak pendaftaran Kerja Praktek di kampusku dan sudah sekitar 5 surat lamaran KP yang berbeda sudah aku kirim, tiba-tiba tepat sehari sebelum aku memulai KP di proyek pertamaku, aku mulai mendapat sms dari teman untuk menggantikan dirinya KP di sebuah proyek di kawasan UGM, Alhamdulillah Allah itu selalu mengada-ada dengan cara yang ada-ada saja, emang bisa ya? Pikirku pesimis, tapi mencoba optimis.

Esoknya aku mencoba untuk mendatangi proyek yang dimaksudkan temanku itu, aku menggantikannya karena temanku sudah diterima di proyek lain dan sudah berjalan cukup tau eh cukup lama maksudnya hehe. Aku datang dengan langkah yang pesimis tapi hati mencoba optimis, memasuki ruangan rapat di proyek aku membuka pintu dan sudah hadir beberapa mahasiswa dari universitas lain dan ternyata ada satu temanku lagi yang diterima, dia mahasiswi dari universitas yang sama namanya Angga, yah ingat namanya Angga bukan Anggi karena Angga ini nama samaran, kalau pakai nama asli Anggi belum ada persetujuan dari orangnya kalau aku masukin dia ditulisanku ini hehe. Aku telat 30 menit dari jadwal yang sudah ditentukan, yah aku harus mencari alat pengaman dahulu sebelum datang ke proyek, aku pikir hari itu aku akan langsung kerja pratek, tapi eh ternyata belum, saat itu kita ada penyuluhan sebentar terkait peraturan kerja praktek di proyek tersebut. Mahasiswa dibebaskan untuk datang ke proyek kapan aja asalkan yang penting datang ke proyek bawa oleh-oleh minimal martabak pandega hihi. Aku memutuskan hari itu untuk memulai kerja praktek di proyek pertamaku meskipun belum diwajibkan, yeaahhh I always ready to study…….

Bagian Kedua….(namanya proses jangan banyak protes 🙂 )

Pemimpin Yang Ideal untuk Rakyat Yogyakarta

Demi Mewujudkan Pemilu Berintegritas Yang Menghasilkan Pemimpin Daerah Berkualitas.

Pemilu serentak kepala daerah tahun ini akan bergulir pada bulan Februari 2017. Siklus politik kembali tinggi seiring makin banyaknya aktor politik yang berkonsentrasi dalam pemilihan umum 5 tahunan tersebut. Oleh karena itu siperubahan mencoba memberikan wadah bagi para masyarakat umum untuk memberikan pemikirannya terkait pagelaran yang memiliki ouput menghasilkan pemimpin ideal untuk daerah. Total sekitar hampir 7 Provinsi, 18 Kota dan 76 Kabupaten di Indonesia menjadi segmen utama dari event ini.

Berikut dibawah ini adalah link hasil tulisan dan pemikiran saya tentang “Pemimpin Yang Ideal untuk Rakyat Yogyakarta”. Harapan saya menuliskan ini adalah agar membuka hati dan pikiran rakyat serta calon pemimpin bahwa untuk mendapatkan pemimpin yang sesuai harapan setiap orang adalah hal yang mustahil jika rakyatnya saja belum bisa mumpuni dalam menjadi rakyat yang ideal. Selamat menyimak dan menikmati 🙂

http://siperubahan.com/read/2920/Pemimpin-Yang-Ideal-untuk-Rakyat-Yogyakarta

Pengorbanan

Berbicara tentang Qurban. Sepertinya saat ini menjadi saat yang tepat membahas tentang Qurban, tetapi yang akan aku bahasa adalah Qurban dalam konteks makna yang cakupannya luas bukan dalam hal sebenarnya, karena pembahasan tentang Qurban dalam arti sebenarnya itu sudah banyak dilaksanakan baik dalam bentuk tulisan maupun kajian hihi :), bahkan di waktu dekat ini sudah banyak sekali kajian tentang qurban dalam arti sebenarnya.

Jumat lalu, dimana aku belajar saat itu juga aku sedang diuji dan dipaksa untuk menerapkannya.

“Menurutku adalah suatu pengorbanan ketika apa yang sedang kita cintai dan kita miliki itu kita tinggalkan demi hal yang lebih baik dan semata-mata karena Allah.”

Saat itu aku mendapatkan ilmu yang banyak dari dua orang pembicara yang cukup tersohor di kalangan masyarakat. Dua pembicara itu adalah Ustadz Muhammad Roy dan Ustadz Salman Al-Jugjawy. Acara yang bertemakan tentang Qurban itu memberikan banyak pelajaran berarti bagi kami yang ingin sekali membuktikan cintanya kepada Allah dengan ber-qurban. Melihat dari kata “Qurban” maka bahasa Indonesia menyerapkannya menjadi kata “korban” hingga tidak hanya menjadi kata yang pasif, tapi bisa menjadi kata yang aktif/bekerja yaitu “berkorban dan mengorbankan”. Disitulah aspek kata “Qurban” menjadi luas, yang awalnya kata “Qurban” adalah suatu bentuk amal yang dilakukan hamba-Nya sebagai bukti kecintaannya, dengan wujud sembelihan hewan yang telah ditetapkan syariat dan apa yang telah dibuktikan oleh Nabi Ibrahim dan Ismail AS, bisa menjadi meluas karena hakekat dari kata “Qurban” itu sendiri. Yang saya maksud adalah hakekatnya bukan keluar dari koridor “Qurban” itu sendiri dari apa yang seharusnya. Yah jika kita berbicara tentang korban/pengorbanan, maka kita bisa mengingat-ingat kembali apa yang sudah kita korbankan untuk memperoleh perhatian Allah. Jika manusia saja butuh perhatian karena sifatnya yang mudah cemburu, maka Allah adalah yang paling cemburu, karena Allah adalah Maha segalanya.  Bahkan Allah pun mudah cemburu semudah ketika Dia Marah dan Memaafkan. “Allah Maha Pencemberu” ustadz Roy menjelaskan. Dan ketika Allah cemburu maka akan memberikan suatu ujian dari apa yang telah membuat Allah cemburu, bisa itu karena kita terlalu mencintai seseorang, barang dan semua yang bersifat duniawi.

Yang dimaksud pengorbanan adalah ketika kita rela segala yang kita miliki dan paling kita cintai sirna karena Allah yang mengambilnya pada saat kita sedang asyik memiliki dan mencintainya. Aku mengingat-ingat kembali apa yang sudah aku korbankan untuk mendapatkan cinta Allah. Sepertinya pengorbananku hanya bernilai kecil di mata Allah, tapi namanya manusia masih ada rasa kecewa mengapa harus ada yang dikorbankan. Jika bukan harta yang kita korbankan, bisa jadi itu waktu dan tenaga. Beberapa hari yang lalu aku mendapat kabar dari seorang teman, bahwa ada seorang teman kita yang sekarang sedang berkorban. Dia tidak lagi bisa melanjutkan kuliahnya karena harus kembali ke kampungnya untuk membantu orangtuanya mengurus keluarga. Bagiku itu adalah suatu pengorbanan. Disaat semua anak muda bangga dan asyik menjalankan aktivitas kuliahnya, dia sendiri rela mengorbankan semua itu karena kebutuhan yang mendesak, karena diminta oleh orangtuanya dalam hal baik. Karena jiwa sang anak yang terbuka itulah dia mau membantu orangtuanya. Dia beralasan, bahwa dia tidak bisa meninggalkan orangtuanya begitu saja saat mereka benar-benar membutuhkan, menurutnya surga itu dekat sekali dan rahmat Allah itu tidak akan mengkhianati, surga yang dimaksudkan disini adalah Ibu, maka dia kembali ketempat asalnya sekaligus untuk memuliakan Ibunya.  Seperti yang dikutip oleh ustadz Ahmad Al-Habsyi dalam bukunya yang berjudul “Ada surga dirumahmu, yaitu Ibumu”

Yah belajar adalah ibadah dan baik, tetapi koridornya belajar tidak perlu jauh-jauh, mungkin saja bisa lebih dekat dengan keluarga sekaligus bisa membantu perekonomian keluarganya jika memungkinkan. Suatu kesedihan bagi saya mendengar teman yang saya anggap hebat ini sudah tidak lagi bisa bergabung dengan kita, sudah tidak bisa lagi shalat berjamaah dan mendengarkan kajian bersama-sama di masjid kampus, sudah tidak bisa lagi sharing perkara iman saat halaqoh berlangsung dan pastinya kita kehilangan satu dari sekian banyak kandidat pemimpin sholeh di kampus. Semoga jalannya bisa berbuah berkah dan semoga Allah selalu merahmatinya. Amin Ya Rabbal’alamin

Aku bangkit kemudian menatap diri ini dengan rasa iba, aku malah kebalikan dari temanku, aku telah berkorban banyak tetapi yang aku korbankan semata-mata bukan karena Allah, tetapi karena aku terlalu egois dan mementingkan sifat duniawi. Aku banyak mengorbankan waktu dan tenagaku untuk aktivitas diluar. Aku sering pulang hingga larut malam dan menghabiskan waktu diluar kampus, sampai-sampai tidak sempat berkumpul dengan keluarga dan tetangga. Aku akhirnya sadar bahwa yang aku lakukan adalah terlalu berlebihan, akhirnya aku memutuskan untuk meninggalkan semua itu dan kembali kepada mereka. Untuk membayar kesalahanku aku ingin berbuat sesuatu untuk sekitarku, dari keluarga, tetangga, kampus bahkan bisa lebih dari itu.

Yah pengorbanan bagiku adalah suatu karya, jika kita mau berkarya maka kita harus berkorban demi kebaikan. Kuliah adalah pengorbanan, belajar adalah pengorbanan waktu dan tenaga, maka dari pengorbanan akan membuahkan hasil yang tidak mengkhianati jika kita mau menikmati prosesnya dengan benar dan ikhlas. Ibadah pun adalah pengorbanan, contoh kecilnya: saat kita sedang sibuk-sibuknya mengurus tugas/laporan, kemudian adzan berkumandang, maka kita mau tidak mau harus berkorban meninggalkan sejenak tugas/laporan itu untuk memenuhi hajat dan kewajiban kita kepada Allah yaitu shalat. Berkorban simple bukan? demikian yang diterangkan oleh ustadz Salman Al-Jugjawy, penceramah ex-guitaris Sheila On7. Bahwa dari kisahnya dia kembali ke jalan Allah itu juga adalah pengorbanan, ketika dirinya sedang tenar di kalangan masyarakat sebagai seorang guitaris yang sukses dan sedang banyak kejatuhan job bersama band yang digandrunginya, disaat itu juga dia rela pergi meninggalkan semuanya dari kawan-kawan dekatnya, hobbi yang dicintainya dan segalanya karena tujuan yang baik. Hal itu dia lakukan karena semata-mata Ibu tercintanya sedang jatuh sakit dan terbukalah hatinya untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Cukup sekian pembahasan tentang qurban dariku, mungkin ketika kita tidak mampu berqurban dengan nilai yang tinggi termasuk berqurban hewan yang telah diperintahkan Allah SWT, ada kalanya kita belajar untuk berqurban yang lainnya dalam arti bersedekah, bukan berqurban hewan. Karena dalam bahasa Arab “Qurban” sendiri artinya adalah dekat/mendekat, jadi niat kita berqurban atau berkorban dalam artian sedekah adalah untuk mendekatkan diri kepada Sang Maha Pemberi.

SEKIAN DAN SYUKRON KATSIRAN

Tentang Hari ini

“Alhamdulillah….Aku masih diberi kesempatan untuk belajar, berproses, mereformasi diriku untuk mengganti masa kelamku dengan pengalaman baru yang lebih berharga” gumamku dalam perjalanan pulang ke rumah dan keluarga tercinta.

Selesai pelatihan mu’allim dari pagi-sore membuatku refresh kembali, menyegarkan jiwa dan batinku, segarnya melebihi ketika setelah bepergian ketempat jauh dari keramaian kota “tak perlu mencari kebahagiaan diluar sini” gumamku, aku tahu apa yang membuatku bahagia, adalah ketika aku semakin dekat dengan kebaikan dan kebaikan itu sangatlah luas, salah satunya adalah kebahagiaan yang sederhana ini, ketika aku bisa mendapatkan pengalaman, ilmu dan teman baru yang baik dan bisa bermanfaat untuk sesama, dan saling bisa mengajarkanku banyak arti kebaikan.

Aku lebih memilih diam disekitar mereka, karena aku merasa seperti baru, baru saja memulai, baru saja melangkah, meskipun aku tau dan andai saja mereka tau, dunia yang kita sentuh saat ini sangatlah jauh dari dunia yang dulu aku jalani, dan aku anggap ini sebagai suatu anugerah untuk aku belajar menjadi lebih baik, sekaligus menanam benih nilai-nilai Islami dalam hidupku agar mulai tumbuh pohon dan bunga pada suatu saat nanti.

Ragu tapi senang….

Ragu karena aku harus memperbaiki nilai kuliah yang sempat jatuh 2 semester yang lalu sehingga fullday aku memikirkan untuk belajar dan mengerjakan tugas, tetapi senang karena aku mendapatkan lingkungan baru bersama orang-orang yang hebat dalam agama, akademis dan pasti yang luar biasa semangatnya. Entah aku harus menyebut ini apa? aku hanya berkata it’s awesome but i’m not sure. Yahhh solusinya adalah jalani, hadapi dan pikir nanti hehe, adalah prinsip hidup yang berserah diri kepada Allah tapi dalam hal menurutku lebih baik dari pada sebelum-sebelumnya yang mana aku lebih mengejar ke-ego-isanku dan duniaku dari pada saat ini yang mana visi dan misi ini sangatlah baik, mengemban amanah dari Al-Quran sebagai insan kamil untuk disebarluaskan dalam dunia perkuliahan dan kehidupan sehari-hari. Sungguh berat, tapi aku mencoba satu-persatu menerapkannya dengan niat ridha Illahi agar tempat terbaik nanti aku dapati.

Dulu….

Dulu ya dulu, biarkan itu menjadi memori ketika aku jatuh nanti, tapi tenanglah dan berbanggalah karena Esok kan tiba, jgn beri peluang sakit melanda sekujur jiwa dan batinmu, jgn beri peluang malasmu dan jgn ambil kesempatan untuk menunda. Entah bagaimana nanti hasilnya aku harus tetap bijak mengambil keputusan, kini aku berfikir bahwa kebaikan itu yang bermanfaat untuk sesama, bukan untuk diri sendiri. Susah menjelaskan aku, malu menjelaskan aku, tapi setidaknya aku tahu…menjadi bijak tak selamanya belajar dari kesalahan sendiri, tapi bisa menjadi belajar dari pendapat dan pengalaman orang lain. Cukup dulu aku memilih pada ke-ego-isanku dan aku mengambil semua konsekuensiku sebagai bentuk tanggung jawabku, yah tapi ujungnya banyak yang harus direlakan dan dikorbankan dari uang, waktu, tenaga dan apa-apa yang aku miliki sekarang, hanya karena tidak ingin dicap pendusta hingga dikucilkan dan dianggap tidak baik, tapi aku sadar sekarang bahwa pandangan baik dan buruk bukan karena anggapan orang lain, tapi semua itu muncul dari pemahaman hati pribadi. Aku mencoba meyakini bahwa aku tetaplah aku, sebagian yang dulu…sebagian yang baru, karena yang buruk selalu aku ganti dengan yang baik. Kenapa harus malu dengan identitasmu sebagai seorang muslim? mahasiswa sipil? pengagum gedung pencakar langit? penyuka musik, seni dan piano? penyuka organisasi/komunitas yang mementingkan umat? suka belajar dari warga sekitar dan orang lain? tertarik dengan Islam? tertarik dengan cinta dan pernikahan? dan penyimpan rasa alias penyuka wanita tapi belum berani mengungkapkan? mengapa kita harus bersembunyi dari jati diri kita sebenanrya? karena inilah aku dengan segala bentuk dan potensi yang dimana itu adalah sebaik-baik pencipta-Nya. Allahu’alam. Masya’Allah

~Hey Kamu Percaya Diri lah~

Science first? or Job first

Berilmu dulu atau berkerja dulu? atau bisa keduanya dijalani?

Kalau aku sendiri lagi tertarik dengan yang namanya ilmu, apalagi ilmu yang nantinya sangat berguna dan sering terpakai dalam kehidupan keseharian kita misal dirumah, dijalan atau dalam bermasyarakat tak terkecuali  ilmu akhirat dan ilmu berumah tangga. Mengapa berilmu dulu? yah karena tanpa ilmu kita tidak bisa melakukan pekerjaan yang ada sangkut pautnya dengan hal tersebut. Mengapa bekerja dulu? yah karena dengan bekerja disitu akan muncul masalah yang membutuhkan solusi, dari ketidaktahuan muncul pertanyaan, dari pertanyaan muncul jawaban dan dari jawaban muncul tindakan dan dari tindakan muncul kepuasan. Oleh karena itu saat bekerja muncul keinginan untuk berilmu/belajar dan saat itu juga ilmu dapat diterapkan dalam bekerja, dalam kata lain belajar dari kesalahan.

Aku sendiri ketika aku mendapatkan ilmu baru aku langsung menerapkannya dalam kehidupan ini, bahkan aku masih ingin banyak mendalaminya lagi, tapi tak perlu pandai dahulu untuk bisa bekerja atau menerapkannya dalam kehidupan, toh nantinya kita akan paham dengan seiring berjalannya waktu. Ilmu yang kita terapkan akan berguna sekali untuk meningkatkan softskill kita terutama dalam mengatasi masalah pekerjaan rumah tangga, pekerjaan kantor dan dalam kehidupan bermasyarakat. Seberapa besar ilmu yang kau dapat, maka ambillah dan terapkanlah, syukur kamu bisa mengajarkan kepada siapa saja yang belum mengerti. Kekurangan dari mahasiswa seperti aku ini adalah mahasiswa itu mudah saja puas dengan ilmu yang didapat, kadangan cepat bosan sehingga tidak fokus dengan ilmu tersebut dan akhirnya hanya setengah-setengah yang dikuasainya, mahasiswa juga tak jarang sering lupa karena merasa sudah mempelajarinya hingga ilmu tidak lagi diulang kembali dan yang terakhir adalah mahasiswa itu sedikit dapat ilmu saja sudah merasa bisa. Sifat seperti ini harus kita buang jauh-jauh, karena bagaimanapun sepertinya yang dikatakan oleh pepatah Arab “Berilmu itu dimulai saat kita keluar dari rahim Ibu sampai nantinya kita terkubur dalam liang lahat”. Kalau bekerja masih bisa pensiun, tapi kalau berilmu tidak bisa pensiun lah yaw hehe.

“You Have A Choice” kamu punya pilihan atas dirimu sendiri akan hal diatas. Muncul kata “ego” dalam setiap pilihan yang kita ambil, tapi tidak mencapai alterego tinggi yang nantinya kita akan dikucilkan dilingkungan sekitar kita. Pilihan yang aku maksud adalah menempuh pilihan hidup selanjutnya yang sebelumnya nanti pada akhirnya perjalanan hidup kita di dunia ini dihentikan Allah SWT, karena hanya Dia lah yang mampu menghentikan langkah dan setiap pilihan yang kita jalani bukan manusia.

Selalu ada risiko setiap pilihan yang kita pilih entah mau menjadi apa nantinya, biasanya kita melihat dari minat, bakat, kemampuan dan kecenderungan kita terhadap sesuatu hal. Dan untuk menggapainya sekali lagi kita perlu berilmu. Pendidikan apa yang kita tempuh sekarang belum tentu menjadi faktor utama kita mendapatkan pekerjaan. Ada mimpi lain mungkin yang ingin kita gapai dan bagi kita itu yang disebut dengan sukses hakiki, ilmu tetaplah ilmu berbeda dengan karir yang kita tempuh atau pekerjaan yang kita tekuni.

Ilmu adalah penting dan bekerja juga lebih penting untuk nantinya bisa menafkahi diri dan keluarga, Ilmu adalah pokok utama untuk bisa bekerja, karena tanpa ilmu pekerjaan tidak dapat selesai. Suatu teori tanpa ilmu adalah zonk, sedangkan suatu ilmu tanpa teori adalah rumit. Maka, butuh softkill dan butuh materi, karena  sangat diperlukan dalam mengarungi hidup ini. Jangan terbatas dengan apa yang sedang kamu jalani. Karena Ilmu adalah cara untuk bisa bebaur dengan suatu kelompok tertentu, dengan Ilmu orang akan menganggap kita diterima disekitar mereka, setidaknya jika kita belum berilmu kita masih mau untuk belajar, karena sekali lagi tanpa ilmu kita tidak dapat bekerja dan akan susah untuk diterima oleh lingkungan, sedangkan tanpa bekerja kita masih mampu menggapai ilmu dengan syarat mau belajar.

Jadi, kita bisa menerapkan keduanya dalam hidup ini tanpa harus saling menunggu ..berilmu atau bekerja dahulu